
*Beberapa hari ini, Fitri memperhatikan gerak-gerik Isma yang tidak fokus dan rada aneh sejak pulang dari peresmian wonderland beberapa hari yang lalu. Contohnya saat ini. Isma menonton Tv, dia tertawa sedangkan acara yang ditontonnya tidak lucu sama sekali.
Matanya berair, padahal dia tertawa. Senyum dibibirnya menakutkan. Senyumnya terlihat seperti senyuman boneka Jail di sinetron Jaylangkung.
"Dek… kamu yakin gak ada masalah?" Menyentuh bahu Isma, lalu duduk di sebelahnya.
"Adek baik-baik kok Teh. Nih adek ketawa kok. Hahaaahaa…"
Matanya masih menatap layar Tv. Fitri ikut menatap layar Tv. Tidak ada yanng lucu di sana.
"Adek bahkan tidak seperti ini saat adek gagal menikah dan saat Prince menikah."
"Siapa Prince? Adek gak kenal." Ucapnya datar kemudian tertawa lagi.
Mendengar jawaban itu, Fitri mengangguk paham. Rupanya adeknya itu sedang patah hati, rindu, dan ingin membenci tapi mencoba menepis semua rasa itu.
"Apa lagi kali ini? Apa Prince mau menjadikan kamu Istri simpanan?" Tebak Fitri.
"Adek gak tahu Teteh ngomongin siapa?" Kilahnya.
Sebentar Fitri terdiam. Lalu diraihnya kedua pergelangan tangan Isma. Ditatapnya mata sendu yang mencoba menampakkan ketegaran itu.
"Menangislah sayang… Jika kamu tidak ingin menangis dipundak Teteh, maka menangislah diatas sajadahmu. Ceritakan semuanya pada Allah…"
"Allah maha mengetahui Teteh." Ucapnya santai tanpa menyadari apa yang baru diucapkannya.
__ADS_1
Fitri menggelengkan kepala. Dia tidak menyangka, Isma yang setegar dan seceria ini ternyata saat ini sedang jatuh dalam rasa yang amat sangat menyakitkan.
"Kamu benar, Allah maha mengetahui. Tapi apa adek lupa…" Fitri menarik wajah Isma agar menatapnya.
"Allah paling suka pada hambanya yang bercerita dengan menagis dihadapannya. Allah suka pada hambanya yang meminta pertolongannya… kalau adek diam, memendam semuanya sendiri… Teteh rasa…"
Belum selesai ucapan Fitri, Isma mengahambur dalam pelukannya. Dia menangis, tangisnya yang berawal hanya tetesan air mata, semakin bertambah menjadi isakan tangis yang memilukan.
"Menangislah sayang… menangislah…" Menepuk pelan punggung Isma.
"Teteh, adek malu sama Allah. Apa yang harus adek ceritakan? Haruskah adek menceritakan kalau adek mencintai suami perempuan lain..." Ucapnya sambil terisak.
"Haruskah adek berdoa agar disatukan dengan lelaki yanng tak seiman?"
"Prince. . . Tidak bisa mencintai Islam, Teh. Prince masih sangat percaya akan Tuhannya. Adek tidak mau memaksanya. Terlebih, dia sudah beristri dan sebentar lagi, anak mereka akan lahir…"
Fitri ikut menangis. Sedalam ini cinta Isma untuk Prince. Banyak lelaki soleh yang menginginkan hatinya. Tapi, hatinya malah jatuh untuk Prince yang berbeda agama serta telah beristri.
"Adek harus bagaimana, Teteh? Hanya diam dan menjalani segalanya sendiri… sebab sesulit apapun itu, kehidupan masih terus berlanjut… tidak akan berhenti meski aku merasa sulit untuk nelanjutkannya." Tuturnya masih terisak.
Fitri mempererat pelukannya. Dielusnya punggung Isma, berharap Isma bisa lebih tenang setelah melepas segala gundah hati yang dipendamnya.
"Kenapa Allah menitipkan rasa ini, Teh. Aku hanya wanita biasa yang belum pantas mendapat ujian seberat ini."
Ucapan putus asa Isma membuat Fitri melepas pelukannya. Di pegangnya erat bahu Isma, ditatapnya wajah sendu penuh air mata itu.
__ADS_1
"Astaghfirullah… adek gak boleh ngomong seperti itu. Adek adalah hamba yanng tepat mendapat ujian ini menurut Allah. Adek boleh sedih dan menangis, tapi ingat. . . Adek gak boleh memaki Allah…"
Isma kembali menangis. Dia beristighfar dalam pelukan Fitri. Perasaan menyesal menggerogoti hatinya.
"Ya Allah, ampuni aku yang lemah ini. Ampuni aku ya Allah…" Ucapnya pelan.
Dan entah sudah berapa lama Isma menangis dalam pelukan Fitri. Jilbabnya yang tadi basah karena air mata, kini bahkan hampir mengering.
"Teteh, maukah berjanji satu hal padaku?" Tanya Isma kemudian.
Dia sudah berhenti menangis. Matanya tampak merah dan bengkak akibat nenangis.
"Apa itu, sayang?" Sambil merapikan jilbab Isma.
"Mulai saat ini, jangan pernah membahas sedikitpun tentang Prince. Adek tidak ingin mengingat apapun tentangnya." Tegas Isma dengan penuh tekat.
"Baiklah, Teteh akan menepati janji. Tapi, kamu juga harus janji…" Balas Fitri.
"Tentang apa?" Tanya Isma penasaran.
"Jangan pernah memendam masalah sendirian. Sesulit apapun itu, ceritalah pada seseorang yang kamu percaya. Atau cukup ceritakan pada Allah saja." menatap dalam mata bengkak Isma.
Isma mengangguk mengiyakan. Lalu, Fitri kembali memberikan pelukan penenang dan penyemangat untuk Isma yang sedang patah hati.*
Bersambung. . .
__ADS_1