
KOREA
Di sinilah Isma dan Rina yang sedang berada di Namsan Tower. Saat suami mereka sibuk bekerja, mereka menghabiskan hari dengan mendatangi tempat-tempat indah impian mereka.
Rina saat ini sedang menikmati liburannya. Karena sejak minggu lalu, dia memilih untuk cuti bekerja. Pengajuan cutinya disetujui oleh Prince. Dan itu nembuatnya sangat bahagia.
"Is, apa kamu bahagia setelah menikah?"
Tiba-tiba Rina bertanya seperti itu, membuat Isma sedikit bingung.
"Tentu. Aku bahagia. Kenapa, Rin? Apa kamu tidak bahagia dengan Bimo?" Tanya Isma.
Sebentar Rina mereguk kopinya. Ya, sekarang mereka sedang di salah satu cafe.
"Mas Bimo, sepertinya masih mencintai kamu, Is." Ucap Rina ragu.
Sontak saja, mata Aira membulat, keningnya berkerut. Lalu beberapa detik kemudian, dia tertawa. Tawanya hampir saja terbahak-bahak. Untunglah, Isma bisa mengendalikan tawanya karena menyadari mereka sedang di tempat ramai.
"Kamu ada-ada saja, Rin. Kok bisa kamu mikir gitu?"
"Ya, Mas Bimo selalu perhatian sama kamu. Dia juga terlalu sering menanyakan kabar kamu. Apa maksudnya coba, kalau bukan karena masih cinta?"
Isma tersenyum, diraihnya tangan Rina.
"Rin, Bimo hanya kasihan padaku. Dia hanya takut aku tidak bahagia. Perhatian itu hanya sebatas sahabat. Sama seperti kamu yang juga mengkhawatirkan aku." Jelas Isma lembut.
Rina menundukkan kepalanya. Dia menarik tangannya dari genggaman Isma.
"Aku tidak tahu kenapa, setiap Mas Bimo bertanya kabarmu, membuat aku cemburu. Aku takut kehilangan Mas Bimo, Is."
"Lalu, apa yang kamu ingin aku lakukan?" Tanya Isma.
Rina menatap wajah Isma dengan tatapan sedih. Kini bergantian dia yang meraih tangan Isma.
"Tidak ada, Is. Cukup selalu menjadi sahabatku dan jangan membenciku karena cemburu padamu."
Senyum kembali mengembang di bibir Isma. Manis sekali sahabatmya ini.
"Rin, selamanya kamu sahabatku. Tidak akan mungkin aku membencimu. Kecuali, kalau kamu berniat untuk merebut Mas Prince." Ucap Isma bercanda.
"Yaakkk. Mana mungkin itu terjadi." Cetus Rina kesal dengan candaan Isma.
"Hehe, bercanda sayang."
Lalu keduanya kembali tersenyum bahagia. Mereka pun tertawa pelan, mengingat apa yang barusan mereka bahas. Rasanya memalukan untuk kembali diingat.
Sementara mereka sedang menikmati masa liburnya. Di Jakarta, Amanda sedang melakukan shooting. Kali ini dia membintangi sinetron.
Perannya sebagai pemeran Utama. Karakternya, baik, ramah dan tetap sebagai gadis kaya raya.
"Action." Teriak sutradara.
Amanda mulai beracting. Diamana dia sedang berkendaraan dan tidak sengaja menabrak Nenek yang membawa gerobak.
__ADS_1
"Ya Ampun." Teriaknya kaget.
Lalu Amanda keluar dari mobil. Dia membantu Nenek membereskan gerobaknya yang sudah hancur berantakan.
"Nenek tidak apa-apa?" Membantu Nenek itu berdiri.
Rupanya kaki dan kepala Nenek itu berdarah. Amanda khawatir. Langsung saja dia memapah nenek naik ke mobilnya untuk di bawa ke rumah sakit.
"Cut." Teriak Sutradara begitu Amanda masuk ke mobilnya bersama Nenek.
Meresa telah selesai berakting. Amanda keluar dari mobilnya dan menghampiri kru.
"Good, saya sangat suka acting natural mbak Amanda. Ekspresi khawatirnya natural banget. Jadi feel nya dapat." Puji sutradara itu.
Amanda tersenyum senang. Dia meresa bangga pada dirinya sendiri.
"Kita beralih lokasi ke rumah sakit. Nanti, aktor kita akan ada disana. Ingat Amanda. Pertemuan pertama pemeran utama, di rumah sakit. Kalian kharus benar-benar totalitas. Rating sinetron kita harus naik minggu ini." Perintah Sutradara dengan penuh semangat.
Amanda dan semua pemain sinetron mengangguk paham. Lalu merekapun segera berangkat untuk menuju lokasi shooting berikutnya.
Setiba di lokasi, Amanda kembali memulai aktingnya. Dimana dia dengan pemeran utama pria bertemu karena pria itu adalah seorang dokter.
"Action." Teriak sutradara.
Amanda mulai berakting. Nenek yang tadi dibawanya langsung dinaikkan ke troli dan di dorong ke ruang rawat.
"Dokter tolong selamatkan Nenek saya."
Ya Amanda mengakui Nenek itu adalah neneknya. Agar perawatannya lebih dipercepat oleh pihak rumah sakit.
Amanda pun langsung menuju tempat administrasi. Ekspresi wajahnya terlihat sangat sedih dan khawatir, seakan Nenek tersebut benar-benar Neneknya.
Sutradara dan para kru tersenyum senang. Mereka merasa Amanda sangat bagus dalam berakting.
"Saya seratus persen yakin, rating akan menanjak naik minggu ini." Ucap Sutradara.
"Lihatlah, Amanda sangat bagus." Pujianya tak henti-henti dan dia tersenyum melihat kearah layar di depannya yang memperlihatkan akting Amanda.
Shooting kembali berlangsung dengan baik. Jarang sekali pengulangan terjadi. Karena Amanda dan pemeran prianya sangat lihai dan cerdas dalam melakukan beberapa improvisasi.
"Good, sinetron kita akan pecah minggu ini." Seru Sutradara dengan girang.
"Terimakasih." Ucap Amanda dan para pemain lainnya.
Dan akhirnya shooting berakhir. Semua kru dan pemain bertepuk tangan. Lalu mereka mengakhiri dengan acara makan bersama.
Semua makanan yang datang adalah traktiran dari Amanda langsung. Dia berakting di dunia nyata dan juga dunia peran.
Tidak ada yang tahu sebenarnya seorang Amanda yang kini bersama mereka adalah seorang wanita yang dipenuhi dendam dan kemarahan.
Meninggalkan Amanda dan semua kru shootingnya. Di rumah yang mewah. Vino dan Keyra sedang membujuk Gabriel yang menagis. Dia menangis karena ingin bertemu dengan Dadi nya.
"Sayang, Dadi besok pulang. Kita ketemu Dadi besok, ya." Bujuk Keyra.
__ADS_1
"Gak mau. Mau Dadi sekarang. Aku rindu Dadi." Teriaknya sambil menangis dan menghentakkan tumitnya.
Sudah hampir dua bulan memang Gabriel tidak bertemu Dadinya. Jadi wajarlah kalau dia rindu.
"Mas, gimana ini. Gabriel gak akan berhenti nangis sampai ketemu Dadinya." Tanya Keyra yang terus mencoba menghibur Gabriel.
"Kita susul saja ke Korea." Jawab Vino sambil mencium kening putranya itu.
"Ke Korea? Tapi, Mas kerja?"
"Sayang lupa, suamimu ini pemilik perusahaan. Dan, Mas belum pernah libur kerja sekalipun. Jadi, inilah saatnya Mas libur. Lagi pula, Mas juga belum pernah membawa istri dan putra kecil Mas ini liburan." Tuturnya.
Keyra tersenyum senang. Dipeluknya suaminya itu. Lalu dia memberitahukan pada Gabriel.
"Kita akan menyusul Dadi ke Korea, sayang." Ucap Keyra pada Gabriel.
Seketika Gabriel berhenti menangis. Dia sangat bahagia karena akan segera bertemu Dadinya. Lalu, tubuh mungilnya langsung digendong oleh Vino.
"Terimakasih, Mas." Ucap Keyra.
"Kamu tidak perlu berterimakasih. Tapi, harusnya Mas meminta maaf, karena selalu meninggalkan kalian di rumah. Dan Mas juga gak pernah membahagiakan kalian."
"Aku selalu bahagia kok Mas. Mas selalu membuat kami bahagia kok."
Vino memeluk erat istri dan putranya itu. Diberinya kecupan sayang di kening Keyra dan pipi Gebriel.
Kebahagiaan mereka memang tidak terlalu nampak. Karena Vino selalu sibuk bekerja. Sedangkan Keyra, dia selalu sendirian mengasuh Gabriel.
Terkadang Keyra merasa sedih, kesepian dan rindu pada suaminya. Tapi, dia tidak pernah mengungkapkan itu. Karena tidak ingin membebani suaminya.
Dia akan selalu bahagia menyambut setiap suaminya pulang. Dan dengan senang hati membantu suaminya bersiap saat harus pergi keluar kota.
Sementara Vino memang terlalu sibuk dengan perusahaan. Tapi, meski begitu, setiap saat dia merindukan istri dan putranya.
Jadi, inilah saatnya untuk mereka kembali mengeratkan hubungan dan berlibur bersama.
Siapa tahu, setelah liburan bersama. Vino akan kembali lebih perhatian pada Keyra dan Gabriel. Terlebih perusahaan sekarang sedang dalam masa baik-baik saja dan sedang mendapat keuntungan yang besar.
BERSAMBUNG. . .
Hay hay Reader. . .
Semangat dan terus jaga kesehatan.
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.
__ADS_1
Terimakasih semuanya. . .