
Keberangkatan ke Korea ditunda. Prince dan Isma kini sedang di tempat kakek dimakamka. Bnyak juga keluarga yang datang. Tidak ketinggalan Abah dan Umi yang datang dari Bandung.
Kakek yang dimakamkan selayaknya seorang muslim. Meski begitu, semua kenalan, sahabat dan rekan kakek datang semua. Mereka ikut mengantar kakek ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Isma menangis dalam pelukan Prince. Dia merasa sangat sedih, kehilangan kakek. Bagaimana tidak, dalam keluarga Prince hanya kakek satu satunya yang menerima kehadirannya dan menganggapnya cucu menantunya.
Senyum terakhir kakek bahkan masih terbayang jelas dalam ingatannya. Semua itu membuat Isma merasa sedih.
"Kakek menghembuskan napas terakhir dalam keadaan beriman kepada Allah, sayang. Insya Allah kakek akan berada ditempat terindah disisinya." Bujuk Prince yang lebih tegar dan bisa lebih tenang melepas kepergian kakek.
Sementara itu, Mama meraung raung menangis dalam pelukan Papa. Dia merasa bersalah karena belum bisa menjadi menantu yang baik selama ini. Mama juga menyesali, karena kakek hanya dibungkus kain kapan, tanpa stelen jas.
Tangisan Mama semakin menjadi saat jasa kakek dimasukkan kedalam tanah tanpa peti.
"Kenapa tidak memakai peti saja. Kasiah Baba di dalam sana." Teriak Mama.
Semua orang yang ikut serta hanya bisa diam. Ada yang meneteskan air mata dalam diamnya. Ada yang tersenyum dalam tangisnya.
Ada juga yang mendoakan kebaikan untuk kakek. Seperti Abah dan Umi, yang terus bersholawat saat melihat jasad kakek di timbun tanah. Abah juga membacakan doa doa untuk mengiringi kepergian kakek.
Usai pemakaman, Prince dan Isma ikut Abah dan Umi ke Bandung. Sesuai dengan permohonan kakek sebelum meninggal.
__ADS_1
"Kakekmu menelpon Abah. Dia ingin, saat dia telah tiada, kita mendoakannya membaca surah yasin di Bandung. Mengingat keluarga kakek yang muslim hanya kamu, nak." Tutur Abah menjelaskan pada Prince.
Karena wasiat itulah. Mereka ikut Abah dan Umi ke Bandung untuk mendoakan kakek selayaknya muslim kebanyakan.
Dalam perjalanan ke Bandung, Isma mengalami kram perut. Terpaksa mereka singgah di salah satu klinik.
"Bagaimana dengan kandungan istri saya, Dokter?" Tanya Prince khawatir.
"Istri anda kelelahan. Saya lihat saat pemeriksaan, sepertinya istri anda pernah mengalami pendahan hebat sebelumnya?"
"Iya Dokter. Benar, dibulan ke enam istri saya mengalami pendarahan."
"Ada baiknya, istri anda jangan banyak bergerak dulu. Biarkan dia istirahat untuk dua atau tiga hari." Jelasnya.
"Bisa istri saya dirawat disini, Dok?"
"Bisa, tapi ya dengan tempat tidur yang seadanya dan juga perlengkapan obat pun seadanya."
"Tidak apa, yang penting istri saya bisa istrirahat. Saya khawatir dia akan kembali kesakitan kalau saya paksakan untuk membawanya ke rumah sakit."
"Kalau anda mau, saya bisa panggilkan ambulan." Saran dokter itu.
__ADS_1
Ya, Prince lupa tentang ambulan karena khawatir dengan keadaan Isma.
"Boleh juga, dokter. Saya lupa sangking khawatirnya sama istri saya." Ucapnya sedikit malu.
Segera dokter itu menghubungi ambulan salah satu rumah sakit terdekat. Sebelum itu, Prince juga sudah memberi kabar pada Umi dan Abi tentang keadaan Isma.
"Mas..." Panggil Isma yang sudah mulai sadarkan diri.
"Iya sayang, ada apa? Apa ada yang sakit?"
"Kita dimana?" Menatap sekeliling.
"Di klinik. Bentar lagi ambulan tiba, kita pindah ke rumah sakit."
"Anak-anak kita bagaimana?" Tanyanya lemah.
"Iya sayang. Mereka baik baik saja, mereka kuat seperti bundanya." Mengelus perut Isma
"Syukurlah. Adek merasa sangat lemas, kaki adek nyilu." Ucapnya.
Prince memijat pelan kaki Isma yang terasa nyilu. Matanya berkaca kaca, tapi Prince mempertahankan agar air mata itu tidak menetes dihadapan Isma. Dia harus terlihat tegar dan kuat agar Isma bisa lebih tegar dan semangat.
__ADS_1
"Mas, semuanya akan baik baik saja." Mengelus kepala Prince.
BERSAMBUNG…