
Tidak terasa Fazil bergadang semalaman, dia baru menyadari itu saat memdengar azan subuh berkumandang. Dilihatnya kedua saudaranya masih terlelap. "Rupanya gue nggak tidur semalaman." Mengucek matanya yang terasa perih karena kelamaan menatap layar komputer.
"Feisal… bangun. Yuk sholat subuh dulu!" Membangunkan Feisal untuk segera sholat subuh, serta memperbaiki selimut Rara yang tampak kedinginan.
Meski masih mengantuk, Feisal pun langsung bangun. Mereka bergantian mengambil air wudu ke kamar mandi di kamar Rara. Lalu, mereka pun melaksanakan sholat subuh yang diimamkan oleh Fazil. Dan Rara masih menikmati tidurnya.
Sementara itu, Tifah sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk majikannya. Karena suasana terasa sangat sepi, Tifah menyalakan Tv di ruang tamu. Sengaja volume tv dikeraskan olehnya, agar dia bisa mendengar dari dapur.
Seorang pembawa berita di salah satu siaran nasional, membacakan berita tentang terungkapnya perselingkuhan seorang kepala sekolah dengan siswanya. Pembawa berita itu juga menyiarkan bahwa, kepala sekolah itu juga sering berpesta dengan mengonsumsi obat obatan terlarang.
Mendengar siaran itu, Tifah beristighfar saja. Dan pada saat itu juga, Rara berlari menuruni anak tangga tanpa mencuci wajahnya terlebih dahulu. Dia menatap layar Tv yang memperlihatkan lingkungan sekolahnya. Serta pria dan wanita yang kedua tangan mereka di borgol. Wajah kedua orang itu sengaja diburamkan, tapi meski begitu Rara masih bisa mengenali siapa yang ada di layar tv itu.
__ADS_1
"Siapa wanita itu? Kamu tau, Ra?" Tanya Feisal yang sudah berdiri di samping Rara.
Rara mengangguk, "Itu Jeni. Aku tahu dia berhubungan dengan pak kepsek. Tapi aku kira dia keponakan kepsek. Aku tidak pernah menyangka, ternyata kedekatan mereka bukan seperti yang aku pikirkan." Jelas Rara.
"Wow. Kepsek yang sangat hebat dengan wawasan kependidikannya. Ck, ck…" Ucap Feisal yang mulai menyilangkan kedua tangan didada, lalu menggeleng gelengkan kepala sambil menatap layar tv.
"Ini gambar yang berhasil gue temukan tadi malam." Seru Fazil yang melangkah menuruni anak tangga sambil membeberkan gambar yang sengaja di printnya dalam ukuran besar. Sehingga kedua saudaranya bisa melihat gambar tersebut dengan jelas, meski jarak mereka berjauhan.
"Tadinya gue nggak bermaksud mengirim semua informasi ini pada reporter. Tapi, mengingat tangan menjijikkan pria tua itu menyentuh pipi Rara, membuat gue bersemangat untuk mengungkap kebusukannya. Dan lihatlah, berita itu langsung menjadi topik hangat di pagi hari." Ucap Fazil yang kini melangkah menuju dapur. Dia membuka kulkas, mengambil sebotol air mineral dan meminumnya segera.
"Mh… aahhh lega. Rasanya benar benar sejuk sampai ke hati." Tersenyum menatap kedua saudaranya yang masih berdiri di depan tv.
__ADS_1
"Loe luar biasa, Zil. Loe detektif terhebat yang pernah gue kenal." Puji Feisal yang akhirnya duduk di meja makan. Dia siap untuk meminta sarapan pagi pada bik Tifah.
"Memangnya ada berapa banyak detektif yang kamu kenal?" Tanya Rara sambil memukul pelan leher belakang Feisal.
"Au, sakit." Teriak Feisal kesal. "Almahyra, walau bagaimanapun aku adalah kakakmu. Jadi, jaga sedikit sikapmu padaku." Memperingatkan pada Rara untuk bersikap lebih baik padanya.
"Terserah." Merebut botol air mineral dari tangan Fazil.
"Lihat, lihat! Kamu merebut air dari tangan Fazil." Teriaknya menunjuk nunjuk Rara yang mengejeknya dengan gerakan bibirnya yang terlihat lucu.
"Hiyaaakkk, Rara. Awas ya kamu." Mencoba menangkap Rara yang bersembunyi dibelakang Fazil. Dan Fazil hanya tersenyum melihat pertengkaran kedua saudaranya itu.
__ADS_1
Tifah tersenyum bahagia melihat pemandangan pagi yang ceria itu. Diam diam dia merekam aksi si kembar, dan mengirimkan video tersebut pada Isma dan Prince. Tifah yakin, majikannya akan senang melihat suasana yang baik baik saja seperti saat ini.