
"Azam, maukah kamu jadi pacarku?" Sebelum Azam melangkah kedekat Fazil, dia sudah lebih dulu dihadang dengan kedatangan seorang cewek tiba tiba yang berlutut dihadapannya dengan mengulurkan sekotak coklat.
"Terima, terima, terima." Suara riuh dari teman teman sekelas Fazil yang meminta Azam menerima pernyataan cinta salah satu cewek yang datang dari kelas sebelah.
"Kenapa harus mempermalukan diri dihadapan cowok yang tidak mencintaimu. Membuang buang waktu saja." Celoteh Fazil dengan matanya masih terpejam.
"Jangan ikut campur. Percuma, kamu hanya akan terlihat seperti pecundang." Sahut Keni yang mulai mengerti tentang Fazil.
"Aku tidak pernah tahan melihat cewek berlutut mengemis cinta dari cowok." Ucap Fazil sambil membuka matanya. Dengan langkah cepat Fazil mendekati Azam. Segera saja dia mengambil kotak cokelat dari tangan cewek itu. Hal itu membuat sicewekpun langsung berdiri.
"Up sorry. Tapi Azam sudah punya pacar." Ucap Fazil yang langsung memakan cokelat dari kotak tersebut.
Hal itu membuat cewek itu menatap penuh amarah pada Fazil, sedangkan Azam hanya tersenyum menggeleng gelengkan kepala melihat Fazil menikmati cokelat.
Plaakkkk…
__ADS_1
Seketika pipi Fazil terkena tamparan dari cewek itu. Dengan kemarahannya dia merebut kembali kotak cokelatnya dan keluar dari kelas itu.
"Zil, are you ok?" Azam memeriksa pipi Fazil yang terkena tamparan si cewek. Sementara yang ditampar hanya terdiam dengan tatapan kosongnya.
"Pasti sagat sakit." Ujar seorang teman sekelas Fazil.
"Sakitnya tidak seberapa, justru malunya itu loh." Teriak yang lain mulai meledek Fazil.
Sedangkan Keni hanya terdiam menatap mata Fazil yang menatap kosong kedepan. "Sudah aku bilang, kan. Percuma menolong orang, karena orang lain akan menganggap pertolonganmu sebagai pecundang." Celoteh keni sangat pelan. Dia prihatin dengan keadaan Fazil saat ini.
"Kenapa loe datang ke kelas gue?" Tanya Fazil begitu mereka tiba di belakang kelas.
"Tenang bro. Gue hanya mampir ingin memastikan loe baik baik saja di kelas itu." Jawab Azam santai.
"Loe punya masalah apa sih Zam sama cewek cewek?" Tanya Fazil membuat Azam tertawa terbahak bahak. Melihat tawa Azam membuat Fazil menatapnya aneh.
__ADS_1
"Pertanyaan loe lucu, Zil." Kembali tertawa.
"Bagian mananya yang lucu?" Bertanya heran dengan tingkah Azam yang diluar ekspektasinya selama ini.
Mendengar ucapan Fazil membuat Azam menghentikan tawanya. Sebentar dia menghela napas, lalu menatap jauh kedepan. "Aku suka dan merasa sangat bangga saat cewek cewek itu berlutut mengemis cinta gue." Kata kata yang keluar dari mulut Azam membuat mata Fazil tidak fokus. Tangannya menggepal erat seakan hendak melayangkan tinjunya diwajah Azam.
"Gue benar benar menikmati hal itu Zil. Gue yang selalu dihina karena bokap gue adalah seorang sekretaris dari bokap orang yang gue anggap sahabat." Tuturnya menatap Fazil dengan tatapan kesal. Sedangkan Fazil masih diam dengan tinjunya yang terkepal erat seakan siap melayang diwajah Azam.
"Gue, benci loe sekolah disini Zil. Baru dua hari loe disini, teman teman gue mulai membicarakan gue dibelakang. Mereka mulai mengejek gue yang mengemis kehormatan dari keluarga loe. Gue benci itu Zil." Memaki Fazil yang masih tetap diam.
"Jadi, apa yang gue pikirkan selama ini ternyata benar adanya. Gue kira loe sahabat gue, keluarga gue. Ternyata loe punya anggapan berbeda. Loe sangat membeci gue." Melemahkan kepalan tangannya. Fazil menundukkan pandangannya untuk meredam emosinya.
"Kalau loe masih anggap gue sahabat loe, please Zil, pindah dari sini." Ucapnya yang mulai melemah.
"Kalau gue nggak mau pindah gimana?" Tantang Fazil.
__ADS_1
"Gue akan buat loe menyesal bertahan disini." Memberi peringatan terakhirnya pada Fazil. Lau Azam pun pergi meninggalkan Fazil yang masih terpaku diam mengetahui ternyata sahabat yang sangat dipercaya dan disayanginya begitu membencinya.