Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Manja !!


__ADS_3

Pagi yang baru di hari baru.


Usai sholat subuh Prince kembali tidur. Entah mengapa matanya masih terasa sangat mengantuk. Sedangkan Isma sudah bergulat di dapur menyiapkan sarapan.


"Ciieee. . . Pengantin baru sudah bangun. . ." Goda Rina menghampiri Isma ke dapur.


"Apa sih, biasa aja kali." Sahut Isma menahan malu.


"Diapain semalam, ampe teriak kencang banget. . ." Bisik Rina, kembali menggoda Isma.


Isma tersulut emosi sambil menahan malu. Diangkatnya pisau ditangannya, lalu diarahkannya pada Rina.


"Nih, di tikam pake pisau tajam mau?" Sungut Isma kesal.


Rina berlari menjauh, dia sembunyi di belakang teh Fitri yang baru saja tiba di dapur.


"Galak amat pengantin barunya, bawaan habis malam pertamaaa. . ." Goda Rina lagi.


Dan kali ini, teh Fitri ikut menggoda Isma juga.


"Asyik. . ." Sambung Fitri.


Kemudian mereka tertawa bahagia melihat wajah Isma yang memerah menahan malu sekaligus emosi.


Alhasil, Isma menghentikan pekerjaannya, dia pun berlari meninggalkan dapur.


"Eh malah kabur, mau lagi ya. . ." Ledek Rina dn Fitri mengiringi kepergian Isma.


"Sudah-sudah, pagi-pagi bahas begituan." Celoteh Umi.


"Menggoda Isma menyenangkan Umi." Sahut Rina.


Lalu, umi pun akhirnya ikut tersenyum. Umi membayangkan teriakan Isma tadi malam, dan juga perkataan Prince yang katanya baru mulai sedikit.


Entah mengapa, mereka merasa pasangan baru itu lucu. Sehingga membuat mereka tertawa di pagi hari sambil melanjutkan membuat sarapan yang ditinggalkan Isma.


Sementara itu, Isma sudah tiba di kamarnya. Dia memasang wajah kesal, menatap Prince yang sedang menggenggam HP Isma.


"Sayaaang. . . Kamu kenapa?" Terkejut dan langsung meletakkan Hp Isma.


Prince menghampiri Isma, dipeluknya erat tubuh itu.


"Semuanya gara-gara kamu. . . Hiiikkzz" Rengeknya sambil membenamkan wajahnya didada Prince.


"Apa yang membuat sayangnya aku nangis pagi-pagi begini, hah?" Tanya Prince sambil mengelus lembut punggung Isma dan memberi kecupan di puncak kepalanya.


"Mereka mengejekku, gara-gara tadi malam. . ." Adunya pada suaminya itu.


Prince tersenyum, di angkatnya tubuh Isma. Didudukkannya di atas tempat tidur. Lalu, Prince berjongkok di depannya.


"Memangnya apa yang terjadi tadi malam?" Tanya Prince sambil menghapus air mata di pipi Isma menggunakan jarinya.


"Gak ada. Tapi kan tadi malam aku teriak karena kaget. Kamu sih, menarikku tiba-tiba..." Rutuknya kesal sambil nangis.


"Terus, kenapa kamu gak jelasin aja seperti apa kejadiannya." Saran Prince.


"Mereka gak akan percaya. . ."

__ADS_1


"Kalau mereka gak percaya, bilang aja. . . Tadi malam menyenangkan. Gitu. . ."


Bukannya tenang, Isma bertambah kesal mendengar ucapan Prince. Di cubitnya kuat kedua belah pipi suaminya itu.


"Aawwahhh. . . Sakit sayang. . . Sakitttt. . . Maaf, maaf..." Teriak Prince.


Sebenarnya muda saja Prince melepaskan pipinya dari amukan Isma. Hanya saja, dia tidak ingin Isma bertambah kesal.


"Kamu sama aja sama mereka. Suka ngejek aku." Ucap Isma.


Dia sudah melepaskan tangannya dari pipi suaminya. Dan kini dia tertunduk diam.


Prince mengganti posisinya. Dia duduk di samping Isma, lalu disandarkannya kepalanya di bahu Isma.


"Apa saja yang Amanda kirim sama kamu?" Tanya Prince tiba-tiba.


Mendapat pertanyaan itu, sontak membuat Isma menoleh. Dia lupa menghapus chat dari Amanda tadi malam.


"Kenapa kamu tidak menanyakan apapun padaku?" Sambung Prince.


Kali ini dia merubah lagi posisi duduknya. Dirangkulnya tubuh Isma dalam dekapannya. Berkali-kali di kecupnya puncak kepala Isma.


"Sayang. . . Percayalah. Aku hanya milikmu, seutuhnya, selamanya. Sampai maut memisahkan." Ucap Prince.


Air mata Isma menetes, perlahan tangannya membalas pelukan suaminya.


"Dia mengancam akan merebutmu dariku." Ucap Isma.


"Itukah salah satu penyebab sayang belum siap menjadi milikku seutuhnya?" Tanya Prince.


"Aku takut, taku… tiba-tiba kamu meninggalkan aku."


Prince menghela napas. Lalu, perlahan melepas pelukannya. Di tatapnya mata Isma yang berkaca-kaca itu.


"Isma Ramadhani, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Dan aku janji tidak akan menyentuhmu sampai kamu benar-benar siap." Ucapnya Tegas.


Dipeluknya lagi tubuh itu seerat mungkin, agar tak ada yang dapat memisahkan mereka.


"Maukah kamu menjadi pacarku?" Tanya Prince kemudian.


Dia masih ingat tentang ucapan Isma yang mengatakan pacaran itu setelah menikah.


Kali ini Isma yang melepaskan diri dari pelukan Prince, dia sedikit mendongak untuk menatap wajah suaminya.


"Mau..." Jawabnya manja, lalu kembali dalam pelukan suaminya.


"Lupakan semua tentang Amanda atau siapapun itu. Hanya ingatlah, mulai sekarang kamu adalah satu-satunya pacar halalku." Bisik Prince di telinga Isma.


Ucapan itu berhasil merubah tangisan menjadi senyuman termanis di wajah Isma.


Sementara itu, di dapur. Rina dan Fitri sibuk membantu umi menyiapkan sarapan, mengatur meja, menyiapkan piring dan gelas juga.


"Fitri, panggil adek gih. Sarapan sudah siap ini." Ujar Umi.


"Iya, umi." Menyelesaikan pekerjaannya.


Fitri pun pergi memanggil Isma dan Prince yang masih asyik bermesraan di kamar.

__ADS_1


"Dek. . . Isma, sarapan dulu." Panggil Fitri dari luar kamar.


"Iya teh, sebentar lagi kita nyusul." Sahut Prince dari kamar.


Mendapat jawaban, Fitripun langsung kembali lagi ke dapur. Sementara itu Isma masih enggan untuk bergerak, dia masih nyaman dengan posisinya yang bersandar manja dalam dekapan suaminya.


"Jadi, sayang mau panggil suami sayang ini dengan panggilan apa?" Tanya Prince.


"Mmm. . . Mas aja ya."


"Baiklah, meski inginnya di panggil Honey..."


"Lebai ah panggilan gitu. Bagusan juga Mas. Kita kan orang Jawa." Protesnya.


"Jawa apa Sunda??" Ucap Prince sambil membopong Isma untuk berdiri.


"Abi yang Sunda, kalau Umi Jawa." Jelasnya.


"Kalau kamu apa?" Tanya Prince menggandeng tangan Isma untuk melangkah menuju dapur.


"Jawa sunda." Jawabnya dengan gaya imut.


Prince tersenyum gemas, dikecupnya pipi Isma tiba-tiba.


"Mas, iih. . ." Protes Isma.


"Kenapa? Mas kan mencium pacar halalnya mas."


"Iya. Tapi kan malu. . ." Sungutnya manja.


Betapa bahagianya, Prince. Ternyata tingkat kemanjaan Isma benar-benar menggemaskan. Padahal dulu Isma tegas, pemarah, kadang bawel dan kadang pendiam sekali.


"I love you. . ." Bisik Prince, lalu dia menggandeng tangan Isma menuju dapur.


Suasana di meja makan sudah sangat hiruk, terlebih tangisan Arsyid yang mengomel marah karena selalu diganggu oleh Om Bimo dan Tante Rina.


Mereka mengolok-olok untuk mengambil makanan Arsyid. Arsyid pun nangis, mengadu pada Kakeknya.


"Arsyid kok nangis? Kenapa sayang. . ." Tanya Prince.


Dia melepas genggaman tangannya dari Isma, ia melangkah mendekati Arsyid yang duduk di pangkuan kakeknya.


"Mau Om gendong?" Prince merentangkan kedua tangannya untuk menggendong Arsyid.


Tanpa di duga, Arsyid pun langsung mau menyambut tangan Prince.


"Pintar, anak ganteng gak boleh nangis…" Bujuk Prince sambil menghapus air matanya.


Semua orang tersenyum. Terlebih Rina dan Bimo. Mereka gak nyangka, Pria setegas Bos nya itu bisa membujuk bayi. Terlebih itu Arsyid yang terkenal tidak suka dengan orang baru.


"Kode loh Is. . ." Senggol Rina pada Isma yang duduk di sebelahnya.


"Udah deh, Rin, jangan Menggodaku lagi. . ." Celoteh Isma mencubit pelan pipi sahabatnya itu.


Keduanya pun tersenyum, lalu semua orang melahap sarapan pagi dengan tenang dan khidmat.


Bersambung. . .

__ADS_1


__ADS_2