
Assalamu'alaikum...ππ
Terimakasih atas doa dan dukungan teman-teman Readerku.
Jaga kesehatan selalu dan selalu tersenyum ππ
ππππππ
Pukul 5.45 subuh.
Usai sholat subuh. Prince dan Isma langsung meluncur ke Bandung saat mendapat kabar dari Teh Fitri yang mengatakan kalau Abi sudah sembuh seutuhnya.
Isma benar-benar tidak bisa tidur semalaman setelah mendapat kabar itu. Dan saat ini, dia dengan sangat antusias telah siap untuk menemui Abi dan Umi.
Cuaca masih terasa sangat dingin. Meski mereka didalam mobil, tetap saja hawa dingin subuh terasa dingin saat terhirup oleh hidung dan terbawa ke paru-paru.
"Mas, Adek bahagia banget. Akhirnya bisa ketemu Abi sama Umi lagi." Tuturnya sambil merebahkan kepala dipundak suaminya.
"Mas juga, dek. Akhirnya Abi mau menerima Mas sebagai menantunya lagi. Semoga semuanya akan baik-baik saja setelah ini."
"Mmmh, Adek rasa kita sudah terlalu banyak melalui perjalanan yang berliku. Penuh air mata dan rasa takut juga. Semoga ini hadiah dari Allah sebagai pertanda kita berhasil melewati semua ini dengan baik dan dengan terus berpegangan tangan."
"Iya. Aamiin, semoga semuanya kembali baik-baik saja." Mencium puncak kepala Isma.
Mobil mereka meluncur meniti jalanan menuju Bandung. Sementara itu, di Bandung terjadi hujan yang cukup lebat pagi itu.
Umi sudah siap dengan tas ranselnya yang berisi kaos kaki hasil rajutan tangannya. Sedangkan Abi sudah siap dengan memakai jaket tebalnya.
"Hujannya deras, Umi. Apa kita tunggu hujan sedikit mereda?" Tanya Abi.
"Kita kan berangkat naik mobil, Abi. Tidak apa kita berangkat sekarang." Ajak Umi yang sudah tidak sabaran ingin segera berangkat ke Jakarta.
"Baiklah, kalau begitu kita berangkat. Umi kunci pintu, Abi mau manasin mesin mobil dulu."
"Iya, Abi."
__ADS_1
Saat Abi memanaskan mesin mobil, Umi kembali masuk ke rumah untuk mengecek sekali lagi keadaan dapur, kamar mandi dan pintu-pintu jendela. Agar aman saat rumah ditinggalkan selama mereka ke Jakarta.
Pada saat itu, Hp Umi berdering. Rupanya ada panggilan dari Fitri. Umi langsung menjawab panggilan itu.
π±"Assalamu'alaikum, nduk!"
π±"Wa'alaikummussalam, Umi."
π±"Ada apa? Apa Arsyid sakit?" Tanya Umi khawatir.
π±"Tidak, Umi. Arsyid sehat kok. Semuanya baik-baik saja, Umi."
π±"Syukurlah. Lalu, kenapa menelpon?"
π±"Mau memberi tahu saja. Nanti setelah Mas Arya pulang dari kantor, kita mau langsung ke Bandung."
π±"Tidak usah ke Bandung. Umi sama Abi mau berangkat ke Jakarta ini."
π±"Ngapain ke Jakarta, Mi?"
π±"Iya, mereka sudah di Jakarta, Mi. Sekarang Umi sama Abi dimana?"
π±"Masih di rumah. Disini hujannya deras sekali."
π±"Kalau begitu, Umi sama Abi tunggu di rumah saja."
π±"Lah kenapa begitu? Umi sangat ingin bertemu adekmu."
π±"Mereka sekarang dalam perjalanan menuju Bandung, Umi."
Sejenak Umi terdiam, bibirnya tersenyum senang mendengar kabar itu. Tanpa sadar kalau Hp masih menyala, Umi langsung berlari menemui Abi. Hp Umi tinggal diatas meja makan.
"Abi... Abiβ¦ Abiβ¦" Teriak Umi.
"Kenapa, Umi. Jangan lari-lari, nanti jatuh."
__ADS_1
Abi keluar dari mobil saat melihat Umi berlari kearahnya. Umi langsung memeluk Abi, hal itu membuat Abi bingung.
"Kenapa, Umi? Ada apa?" Melepas pelukan Umi untuk dapat melihat raut wajah Umi.
"Isma sama Princeβ¦" Ucapnya diiringi air matanya yang jatuh.
"Kenapa dengan mereka, Umi" Tanya Abi khawatir.
"Mereka sedang di jalan mau ke sini, Abi."
"Benarkah?"
Umi mengangguk kuat sambil tersenyum dalam tangisnya. Abi menarik tubuh Umi kembali dalam pelukannya.
"Jadi, kita tunggu saja mereka di sini?"
"Iya Abi. Kita tunggu mereka di sini."
Abi dan Umi duduk di kursi teras sambil berpegangan tangan. Mereka merasa deg-degan menunggu kedatangan Isma dan Prince. Rasanya sangat luar biasa, mendengar mereka akan datang.
BERSAMBUNG
Hay hay Reader. . .
Semangat dan terus jaga kesehatan.
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.
__ADS_1
Terimakasih semuanya. . .