
Di Korea.
Sekarang pukul 20.00, Isma sedang sibuk packing barang-barang kedalam koper. Betapa bahagia dan gak sabarnya dia ingin segera terbang ke Indonesia.
Isma bersiap sendirian di apartemen. Sedangkan Prince, dia di sebuah cafe bersama Hendra. Mereka terlihat santai mengobrol bersama sambil menyeduh ice Americano.
"Gak bisa ditunda lagi gitu pulangnya?" Tanya Hendra yang mulai merasa sedih.
"Gak bisa, bro. Isma sudah sangat gak sabar mau pulang. Nih tadi aku tinggal dia packing barang-barang sendirian." Tutur Prince.
"Baru juga kita bertemu, sekarang sudah mau pergi lagi." Rengek Hendra sok manja.
Andai orang-orang memandang kearah mereka, bisa disalah pahami hubungan mereka. Karena Hendra merengek manja sambil memukul pelan punggung tangan Prince.
"Lebay deh, mulai lagi kan. . ." Rutuk Prince.
Hendra hanya menanggapi dengan senyuman, kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop coklat besar. Di sodorkan amplop tersebut pada Prince.
"Apa ini?" Tanya Prince yang mulai meraih amplop tersebut.
"Tunggu, sebelum loe buka. Gue mau cerita tentang sesuatu terlebih dahalu." Tahan Hendra.
"Cerita apa?"
"Loe mau dengarin gak?"
"Ya mau. Buru cerita. . ." Ujar Prince tak sabar ingin mendengar cerita Hendra.
Sebentar dia mengatur napasnya.
"Gue punya kenalan seorang peramal. Beberapa kali gue datang ke sana dan dia meramal gue. Selalunya apa yang diramalkan benar. Gue gak percaya seutuhnya, hanya saja, ya. . . Hasil terawangan dia banyak betulnya." Tutur Hendra.
"Langsung intinya aja." Protes Prince yang sudah tak sabar ingin mendengar cerita Hendra.
"Ok. . . Jadi, gue kemaren datang ke tempat dia. Terus gue kasih tahu profil loe sama Isma. Gue minta ngeramal kalian. Dan hasil terawangan dia buat gue merinding. . ." Sambung Hendra kembali bercerita.
"Merinding? Memang seperti apa hasilnya?" Tanya Prince tak sabar.
"Gini. . . Dia bilang. . . Isma itu ibarat seorang putri yang terkurung dalam Castle suci. Dan loe Pangeran yang kehilangan arah."
Hendra menghentikan ceritanya sebentar. Dia melirik kearah Prince yang ternyata mendengarkan dengan fokus.
"Jadi, loe berhasil nemuin si Putri ini. Tapi, perjalanan yang harus loe tempuh untuk masuk ke Castle suci itu gak gampang. Dan ya, loe berhasil memiliki putri itu. Tapi, loe akan ditendang keluar dari castle itu." Tuturnya menyampaikan hasil ramalan yang tak pasti kejadiannya.
"Putrinya gimana?" Tanya Prince tak sabar.
"Putrinya akan tetap di castle itu. Dia akan selalu setia nungguin Pangeran datang lagi untuk menemuinya. Dan. . . Peramal itu juga bilang. Akan banyak hal atau orang yang akan mencoba memisahkan kalian. Tapi, dia bilang. . .Takdir loe sama Isma sangat kuat. Gak ada yang bisa memisahkan, hanya kematian yang dapat memisahkan kalian."
Prince mengangguk paham. Terdengar masuk akal cerita Hendra. Karena memang seperti itu lah yang dialaminya bersama Isma.
"Loe harus kuat dan saling percaya bro. Itu sih kuncinya agar kalian tetap bersama."
Hendra memberikan nasehat yang di iyakan oleh Prince.
"Boleh gue buka amplop ini?" Tanya Prince.
"Silahkan, tapi jangan terlalu terkejut dengan isi di dalamnya."
Begitu Prince membuka amplop itu, matanya membola. Dia melihat secarik koran lusuh, dan di sana tertulis, "SATU KELUARGA DI BA**R WARGA KARENA DIDUGA TE****S"
Awalnya Prince hanya terus membaca dan merinding saat membaca detail kejadian tersebut yang tertulis dalam koran lusuh itu. Lalu, seketika matanya terhenti pada satu titik, dimana di sana tertulis nama kakeknya.
Pada paragrap artikel tersebut, kakeknya memberi keterangan dan kesaksian tentang keluarga besar Abdullah yang diduga merupakan kumpulan T****is, sehingga dia mengajak warga untuk membakar rumah tersebut.
Abdullah Ahmad Fakrul. Nama kakek Isma. Dan beliau meninggal pada saat kejadian itu. Semua keluarga tersapu bersih hari itu.
Napas Prince terdengar menggebu. Kepalanya terasa pusing dan seluruh tubuhnya terasa lemas. Bahkan Prince juga merasa mual, seakan segala yang ada dalam perutnya meronta untuk di keluarkan.
"Prince, Prince. . . Bro. . ." Panggil Hendra.
__ADS_1
Dia khawatir melihat keadaan Prince yang tiba-tiba pucat dan berkeringat dingin.
"Bro, loe kenapa?" Hendra menepuk punggung Prince saat melihat Prince yang seakan ingin muntah.
"Kita pulang aja, yok." Ajak Hendra yang semakin khawatir.
Tapi, Prince mencoba menahan Hendra yang ingin mengajaknya pulang. Lalu dia mencoba menenangkan dirinya. Direguknya kopi yang masih tersisa.
"Ternyata... seberat ini trauma... yang dialami Abi, Umi dan Mas Arya." Ucap Prince sambil terbata-bata.
Prince menarik napas dalam-dalam, kemudian dihembuskan lagi perlahan. Dilakukannya berulanng kali, demi mendapatkan ketenangan.
"Bro, ternyata Kakek penyebab kebencian Abi terhadap non muslim..." Ujar Prince dengan air mata yang mulai menetes.
Hendra terdiam, dia ikut bersedih melihat keadaan Prince yang harus mengetahui kepahitan itu.
"Maafkan gue, bro. Gue gak maksud untuk buat loe sedih. . ."
"Terimakasih, bro. Gue bersyukur bisa mengetahui semua ini. Ya, meski ini menyakitkan dan membuat gue takut kehilangan Isma. Tapi, setidaknya gue tidak lagi seperti orang bodoh yang tidak tahu apapun tentang keluarga Isma." Tuturnya.
Hendra tersenyum dalam khawatirnya. Dia berusaha untuk menenangkan Prince. Dan Prince sudah mulai tenang, meski hatinya masih bergejolak tak menentu saat mengingat Isma.
"Bagaimana cara gue memberitahu Isma. Apakah Isma masih mau bersama gue. . . Gue takut, bro." Sambungnya.
"Perlahan bro. Kasih tahu Isma secara perlahan. Pilih waktu yang tepat. Jangan terburu-buru." Saran Hendra.
Prince hanya bisa tersenyum getir mendengar saran Hendra. Karena saat ini Prince merasa lemah dan tak berdaya.
Setengah jam kemudian.
Setelah Prince merasa lebih tenang, dia pun akhirnya mengajak Hendra untuk segera pulang.
Skiipp. . .
Begitu tiba di apartemen, Prince mendapati Isma yang baru saja selesai packing semua perlengkapan mereka untuk pulang.
Dia menghambur dalam pelukan suaminya itu. Ekspresi wajahnya sangat imut layaknya seorang anak yang menyambut senang kedatangan orangtuanya.
"Maaf, Mas pulang terlambat."
Prince mengelus punggung Isma dan memberi kecupan dipuncak kepalanya.
"Mas, adek lapar." Rengeknya manja.
"Loh, adek belum makan?" Tanya Prince.
Dia melepas pelukan itu, lalu menangkupkan kedua tangannya dipipi Isma.
"Kenapa belum makan, sayang?" Prince gemas.
"Mau makan ditemani, Mas. Adek gak mau makan sendirian."
Isma menarik tangan Prince untuk menuju dapur. Dia bergelantungan manja di lengan Prince.
"Ya sudah, Mas temanin makan."
Prince mendudukkan dirinya di kursi meja makan, lalu meraih Isma agar duduk dipangkuannya.
Jadilah kini Isma duduk manja dipangkuan suaminya sambil makan disuapin.
"Sayang suka?" Tanya Prince sambil memberi ciuman dipipi Isma.
Isma mengangguk, dia tak bisa menjawab karena mulutnya penuh dengan makanan.
"I love you Isma Ramadhani." Ucap Prince tiba-tiba.
Hampir saja Isma tersedak saat mendengarnya.
"Sayang, mengunyah itu jangan cepat-cepat. Kan hampir tersedak, bandel sih. . ." Rutuk Prince sambil mengelap bibir Isma dengan tissu.
__ADS_1
"Udah ah makannya. Adek kenyang."
Isma langsung berdiri. Dia membawa piring bekas makannya. Lalu mencucinya.
"Mas ke kamar dulu ya, dek. Mas mau ganti baju. Sekalian sholat Isa."
"Iya, Mas. Adek masih mau nonton dulu." Sahutnya.
Prince mengangguk sambil tersenyum, lalu dia berlalu menuju kamar.
Di kamar, Prince langsung ke kamar mandi. Dia muntah sebanyak-banyaknya. Air matanya mengalir semakin deras sederas air yang jatuh dari shower.
"Ya Allah, hamba takut. Sungguh hamba sangat takut menghadapi Abi. Bagaimana kalau sampai mereka tahu. Mereka pasti akan memisahkan aku dari Isma." Ucapnya dalam tangisan.
Banyak hal yang terlintas dalam pikirannya, dan perasaan takut semakin kian bertambah. Prince bahkan sempat berpikir untuk membawa Isma pergi jauh.
"Ya Allah, kuatkan aku. Sungguh aku serahkan semua ini padamu." Pintanya dalam doa.
Puas merendam diri di kamar mandi, Prince pun mengakhirinya dengan berwudhu. Lalu, dia melaksanakan sholat Isa dengan khusuk dan benar-benar penuh permohonan.
Usai terbenam dalam khusuknya beribadah. Prince yang merasa Isma tak kunjung datang ke kamar pun, akhirnya menyusulnya ke luar kamar.
Dilihatnya Isma masih menonton sambil menjahit baju bayi lagi. Perlahan Prince menghampirnya.
"Sudah berapa baju yang selesai sayang jahit?" Tanya Prince yang langsung duduk di samping Isma.
"Ada empat. Kalau ini selesai, berarti lima."
"Sayang ingin punya lima baby, ya?" Tanya Prince.
Sebentar Isma berpikir, lalu tiba-tiba dia memberi kecupan dipipi suaminya.
"Jika Allah mengizinkan. Adek ingin punya tiga orang putri dan dua orang putra." Tuturnya senang.
"Aamiin. Semoga Allah mengamanahkan malaikat-malaikat tak bersayap itu menghiasi hidup kita."
Prince melingkarkan tangannya di pinggang Isma. Dagunya diletakkan di pundak Isma.
"Jadi. . . Kapan kita membuatnya?" Bisik Prince yang membuat Isma merinding.
"Mme…mbuu. . .at, apa?" Tanya Isma gagu dan pura-pura tidak mengerti.
"Make a baby boy and girl. . ." Bisik Prince dengan suara lebih menggoda lagi.
Isma mengerutkan wajahnya. Lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kok malu. Bukankah kita sering melakukan itu. . . Kenapa sekarang sayang malu-malu gini. . ."
Dibuatnya tubuh Isma menghadap padanya. Dibelainya wajah dan rambut istrinya itu. Lalu, perlahan Prince mencium keningnya.
Dan Isma langsung memeluk Prince dengan erat. Dia membenamkan kepalanya di dada Prince.
"Mas, bolehkah kita batalkan saja pulangnya?"
Pertanyaan Isma membuat Prince terkejut. Dia pun mengeratkan pelukannya lagi.
"Kenapa, sayang. Bukankah sayang ingin bertemu Umi dan Abi?" Tanya Prince.
Sebentar Isma terdiam. Lalu kembali dia mengeratkan pelukannya. Hingga keduanya benar-benar tak berjarak. Rasannya sudah sangat sesak, tapi tidak satupun dari keduanya yang ingin melepas pelukan tersebut.
"Kemarin malam adek mimpi, Mas. Mimpinya sangat menakutkan."
"Mimpi apa, sayang?"
Isma tak menjawab. Dia hanya semakin mengeratkan pelukannya seakan takut ada yang ingin memisahkan mereka.
'Ya Allah, jangan pisahkan kami... Aamiin." Batin Prince.
Bersambung. . .
__ADS_1