
Pagi ini Umi membantu Abi mengganti pakaiannya. Keadaan Abi sudah membaik, hanya saja Abi menjadi pendiam. Abi tidak ingin membuka mulutnya sama sakali.
"Abi kuat jalan, atau perlu Arya ambilkan kursi roda?" Tanya Arya.
Abi hanya menoleh sebentar. Kemudian dia kembali menundukkan pandangannya.
"Ambil saja kursi rodanya, Nak." Saran Umi.
Arya pun pergi mecari kursi roda. Sedangkan Umi sudah membereskan semua peralatan Abi.
"Fitri mana?" Tanya Abi pada akhirnya.
Umi tersenyum dan langsung menghampiri Abi.
"Fitri sudah pulang ke Jakarta, Bi. Fitri harus kembali kerja." Tutur Umi.
"Arsyid bagaimana?" Sambungnya.
"Arsyid ikut bersama Fitri, Bi. Cucu kita pintar Bi, dia senang diajak ikut kerja." Tutur Umi menceritakan cucu mereka.
Abi tersenyum mendengar penuturan Umi.
"Abi kursi rodanya sudah datang. . ." Seru Arya yang masuk membawa kursi roda.
"Maafkan Abi jadi merpotkanmu. Kerjaanmu juga jadi terhalang karena Abi." Sesal Abi.
"Tidak ada kata repot kok Abi. Dulu Abi lebih repot membesarkan Arya. Sekarang giliran Arya yang merawat Abi." Ucap Arya sambil membantu Abi naik ke kursi roda.
Kemudian merekapun meninggalkan rumah sakit setelah Arya menyelesaikan administrasinya.
Meninggalkan Bandung.
Di Korea, Isma dan Prince sedang memasak di dapur. Ya, mereka mencoba memasak masakan korea. Isma ingin merasakan tteokbboki (kue beras pedas) yang di masak oleh suaminya.
Sejak tinggal di Korea, Prince menjadi mahir dalam memasak. Terutama memasak tteokbboki.
"Omelet juga, Mas. Aku mau makan omelet buatan Mas." Rengek Isma.
"Boleh, tapi sayang bisa bantu Mas potongin sayurnya?" Tanya Prince.
"Nae chagi. . ." (Iya sayang) Isma semakin sering menggunakan bahasa Korea.
Dengan senang hati Isma membantu suaminya memasak. Kebalik ya, biasanya suami yang akan membantu istri memasak. Tapi, kali ini istri yang bantu suami memasak.
"Auwwhh. . ." Rintih Isma saat jarinya teriris oleh pisau.
"Kenapa sayang?" Tanya Prince kaget.
Dilihatnya ujung jari Isma berdarah. Prince langsung memegangi jari Isma. Di bersihkannya darah segar yang keluar dari telunjuk Isma.
"Sakit?" Tanya Prince khawatir.
Sedangkan Isma hanya tersenyum senang mendapat perhatian dari suaminya itu.
"Hanya sedikit perih kok Mas." Ucapnya menatap telunjuknya yang kini di bawah aliran air yang mengalir dari pancuran wastafel.
"Pengan seperti ini terus. Mas ambil obat dulu." Pintanya.
Isma pun mengikuti Instruksi suaminya.
"Benar ya, kata orang. Saat baru menikah, luka sedikit saja suami khawatirnya berlebihan. Nanti, kalau sudah setahun menikah, luka di jari sedikit, di tambah deh sama suami dengan luka batin." Rutuknya sambil menggelengkan kepala.
Prince kembali mebawa kotak obat. Begitu Prince mengoleskan salep ke telunjuk Isma, lsma sedikit menahan rasa perih saat salep itu memenuhi goresan luka di telunjuknya.
__ADS_1
"Tahan sayang, perihnya bentar. Sebentar lagi juga akan enakan kok." Ucap Prince khawatir.
"Mas selalu seperti ini ya, jangan berubah." Ucap Isma.
"Sayang ngomong apa? Mas akan selalu seperti ini selamanya. Dan hanya seperti ini pada istriku tercinta ini." Tegas Prince, lalu dia memberi kecupan pada telunjuk Isma yang terluka.
Senyuman kembali terukir dibibir Isma. Prince pun ikut tersenyum.
"Sayang, gak usah bantu lagi. Duduk diam saja. Ok."
Prince membopong tubuh Isma menuju kursi meja makan.
Ya, Isma kini hanya duduk memperhatikan suaminya memasak. Adegan ini seperti drama korea. Dimana seorang suami sedang memasak untuk istrinya.
'Semoga kebahagiaan ini selalu menghiasi perjalanan rumah tangga kita, Mas.' Batinnya.
Sementara itu, di Jakarta. Kakek Prince sudah membaik. Hari ini dia bahkan sudah diizinkan pulang.
"Baba, saya senang akhirnya Baba diizinkan pulang." Ucap Kuasa Hukumnya Baba Yudha.
"Isma mana?" Tanya Baba pelan.
"Cucu Baba sedang berlibur ke Korea."
"Syukurlah. Saya sangat khawatir tentang mereka. Dalam tidur saya, saya bermimpi mereka akan menemui jalan yang sulit dan berliku dalam hubungan mereka." Tutur Baba.
"Apa yang harus saya lakukan, Baba?"
"Sementara tolong perintahkan orang-orang kepercayaanmu untuk mengawasi dimanapun kedua cucuku berada." Perintahnya.
"Baik, Baba. Akan segera saya laksanakan."
Mata Baba teralihkan saat mendengar suara langkah kaki semakin mendekat ke ruangannya.
"Kamu datang sendiri? Suamimu mana?" Tanya Baba.
"Mas Wijaya ke luar kota, Pa. Mungkin akan pulang bulan depan. Perusahaan saat ini mengalami sedikit kekacuan." Jelasnya.
Baba hanya mengangguk.
"Antar saya pulang. Saya sudah sembuh."
"Iya Pa. Tapi, Papa pulang ke rumah Winda ya Pa." Rengeknya bermanja pada Baba.
"Papa akan merepotkan." Tolaknya.
"Tidak, Pa. Please izinkan Winda merawat Papa. Lagi pula Winda sendiri di rumah. . ." Celotehnya.
"Bukankah si Amanda itu selalu datang ke rumahmu?"
"Sekarang Amanda sibuk, Pa. Dia punya banyak pemotretan." Sambungnya sambil membantu Baba berdiri.
"Andai Amanda jadi menantu di rumah kita. . . Pasti Winda tidak akan kesepian, Pa." Sambungnya menyesalkan.
"Tidak ada yang bisa melawan takdir yang telah tertulis. Prince dan Isma telah ditakdirkan untuk bersama." Ujar Baba yang mulai perlahan melangkah.
"Sehebat apapun cara manusia untuk memisahkan mereka, tidak akan bisa. Jadi, jangan pernah berpikir untuk memisahkan mereka." Baba menegaskan.
"Winda tidak percaya. Mana mungkin Tuhan mentakdirkan Prince dengan wanita kampungan itu." Ucapnya kesal.
Sebentar Baba nengatur napasnya. Dia terus melangkah mengikuti langkah putrinya yang akan membawanya keluar dari rumah sakit itu.
"Mereka pasangan yang telah di takdirkan. Jangan ganggu mereka jika kamu masih ingin lihat Papa sembuh." Baba menegaskan dengan menggertakkan giginya.
__ADS_1
Winda bersungut kesal. Tapi meski begitu dia terus membantu Papanya untuk melangkah menuju mobil.
Meninggalkan kisah Baba Yudha.
Di Bandung, Abi baru saja tiba di rumahnya. Sepanjang perjalanan dia hanya diam. Banyak hal ternyata yang Abi pikirkan.
"Abi, kita sudah sampai di rumah." Ucap Arya yang dengan setia mendorong kursi roda Abi.
Sedangkan Umi membawa beberapa tas peralatan Abi selama di rawat di rumah sakit lima hari.
"Arya. . ." Panggil Abi, begitu Arya memindahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Iya, Abi." Sahut Arya.
"Isma apa kabar?" Tanya Abi.
Arya terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Sebenarnya sejak Abi masuk rumah sakit hingga hari ini, Arya tidak pernah menghubungi Isma. Begitu juga sebaliknya. Arya beranggapan bahwa adiknya itu sedang menikmati kebahagiaannya bersama suaminya.
"Isma baik, Abi." Sahut Umi dari luar kamar.
"Kenapa dia tak pernah mengunjungi Abi? Apa dia tahu Abi masuk rumah sakit?" Tanya Abi penasaran.
"Abi, Isma sudah bersuami. Dia tidak sebebas dulu untuk mengunjungi kita. Terlebih suaminya seorang pengusaha. Sudah pasti akan sering keluar kota." Umi menjelaskan.
Abi hanya diam. Matanya tak fokus, mulutnya mencoba bergerak untuk mengucapkan sesuatu.
"Abi butuh sesuatu?" Tanya Umi.
"Tidak." Teriak Abi tiba-tiba.
Teriakan itu membuat Umi dan Arya terkejut. Mereka khawatir Abi akan mengalami goncangan trauma lagi.
"Arya, cari adikmu sampai ketemu. Bawa dia pulang. Jauhkan dia dari cucu Yudha si tukang fitnah itu." Pinta Abi dengan tangannya yang bergetar menahan luapan emosi dan ketakutan.
Umi meneteskan air mata, dia beristighfar dalam hatinya. Berharap semuanya akan baik-baik saja.
"Abi, kita tidak berhak memisahkan Isma dari suaminya. . ." Ujar Umi.
"Tidak berhak bagaimana? Saya Abinya. Saya lebih berhak akan diri Isma." Tegas Abi.
"Istighfar Abi. Jangan ikutkan kemarahan Abi. Jangan ikuti rayuan syetan. Abi sendiri yang menikahkan mereka. . ." Tutur Umi mencoba menenangkan Abi.
"Justru karena saya yang menikahkan Isma dengan Non Muslim itulah, saya berhak memisahkan mereka. Saya tidak akan membiarkan dia menyeret Isma untuk ikut percaya pada keyakinan mereka." Teriak Abi meluapkan emosinya yang sejak tadi ditahannya.
"Ya Allah, Abi istighfar. . ." Rintih Umi menangis iba, sakit, dan juga takut melihat keadaan Abi yang sudah tersulut emosi.
"Arya, cepat pergi. Cari Isma sampai ketemu. Bawa dia kembali. Jika dia menolak, patahkan saja kakinya." Perintah Abi tanpa memikirkan apapun lagi.
Arya terdiam sambil memeluk Umi yang gemetar menangis ketakutan. Ya, beginilah Abi. Sejak kejadian Pembakaran keluarganya yang terjadi tiga puluh tahun lalu, Abi menjadi pribadi yang kejam dan menakutkan.
Abi tak segan memukul siapapun yang tidak patuh dengan perintahnya. Dan yang lebih menyakitkan, Abi akan melukai dirinya sendiri apabila keinginannya tidak terpenuhi.
"Istighfar Abi... Ingat Allah. Bukankah Abi selalu mengajarkan Umi untuk tetap tegar dan percaya pada Allah. Abi yang selalu bilang, hanya Allah yang berhak menghukum manusia." Rintih Umi dalam tagisnya.
Arya juga ikut menangis sambil memeluk erat tubuh Umi. Sedangkan Abi malah mengalihkan pandangannya. Abi tidak ingin melihat dan mendengar tangisan Umi.
Bersambung. . .
Terimakasih support dari kalian semua.
Baik itu Readerku, maupun teman Author yang selalu memberikan saya semangat. . .
Jangan lupa Like, komen dan vote juga ya. . .
__ADS_1
😉😊😄😄😍😍😍