Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Saling percaya


__ADS_3

Kediaman orangtua Prince.


Saat sampai di rumah itu, Prince menggenggam erat tangan Isma. Mereka melangkah masuk dengan perasaan yang tidak menentu. Karena, ada Amanda saat ini di rumah itu.


"Sayang, kamu pulang!" Seru Widia menyambut kedatangan Prince.


Dia langsung memeluk erat tubuh Prince, sedangkan Isma hanya diam menunduk. Tangannya masih terus digenggam erat oleh Prince.


Dan tanpa mereka sadari, Amanda menatap tajam pada tangan yang saling menggenggam erat itu. Ingin rasanya dia memisahkan tangan itu segera.


"Papa mana, Ma?" Tanya Prince sambil melepas pelukan Mamanya.


"Papa di Kalimantan. Ada pengerjaan proyek baru." Jelas Mama.


"Ma, apa kabar?" Sapa Isma menyela.


Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menyalami Mama. Tapi, Mama langsung menjauh, dia kembali ke dekat Amanda. Mama sengaja seakan tidak melihat kehadiran Isma.


Prince menyadari itu. Dia mengeratkan genggaman tangannya. Lalu memberikan senyum pertanda isyarat agar Isma jangan menghiraukan Mama.


"Ma, kita langsung ke kamar kakek." Pamit Prince.


"Loh, kamu gak nyapa Amanda. Ngobrol dulu sama Amanda. Kalian, kan lama tidak bertemu." Saran Mama.


Prince hanya tersenyum, lalu dia merangkul mesra tubuh Isma dan tanpa memperdulikan saran Mama, Prince membawa Isma menuju kamar kakek.


"Sayang jangan dengarin Mama. Anggap aja Mama gak ngomong sama kita." Hibur Prince.


Isma tersenyum senang. Dia mengeratkan genggaman tangnnya di tangan suaminya itu. Kemudian dia mengangguk paham.


Setiba mereka di kamar Kakek. Mereka disambut hangat oleh kakek yang sudah membaik. Dia sudah bisa berjalan tanpa bantuan tongkat.


"Isma sehat?" Tanya Kakek sambil memegang jemari Isma.


"Sehat, Kek. Kakek sendiri sudah sehat belum?"


"Yah, seperti yang kamu lihat..."


Kakek melepas jemari Isma. Lalu dia melangkah mendekati tembok kaca kamarnya. Tatapan kakek jauh kedepan.


"Kakek sudah baik-baik saja. Tapi, Abi kamu. . ." Menoleh pada Isma.


"Abi kamu masih harus berjalan dengan kursi roda. Kakek benar-benar manusia terkejam." Ucapnya penuh penyesalan.


Isma menatap sebentar pada Prince, begitu juga dengan Prince. Kemudian mereka berbarengan menghampiri Kakek. Prince memberi pelukan pada kakek.


"Kek, jangan bersedih. Isma tahu, kakek memang kejam waktu itu. Isma juga sempat dendam dengan orang yang telah menyebabkan Abi menjadi seperti itu. Tapi, saat kakek dengan tulus meminta maaf, Isma memaafkan. Dan. . ."


Sebentar Isma menghapus air mata di pipi Kakek.


"Kita harus yakin. Abi pasti akan memaafkan kakek juga. Karena sesungguhnya Almarhum Kakek Isma Insya Allah sudah ditempatkan di surganya Allah. Karena mereka mati syahid dalam mempertahankan agama mereka." Tutur Isma.


Penuturan Isma membuat Kakek menangis terisak. Dia terduduk da bersimpuh di kaki Isma.


"Kakek. . ."


Isma pun ikut duduk dan dengan di bantu Prince mereka mencoba menenangkan kakek.


"Isma, ajarkan kakek Islam. Kenalkan kakek pada Allah dan Rasullnya. Kakek ingin meminta ampunan pada Allah. Apa Allah masih akan mengampuni kakek?" Ucap kakek.


Mendengar itu Prince dan Isma terharu, mereka langsung memberi pelukan pada kakek.


"Ampunan Allah sangat luas kek. Dan yang paling indah, saat kakek mengucap syahadat, Allah akan menghapus semua dosa-dosa kakek. Karena, saat itu seorang mualaf bagaikan bayi yang baru lahir. Mereka suci tanpa dosa." Jelas Isma.


"Kakek ingin belajar Islam?" Tanya Prince dan Isma.


"Iya. Kakek ingin bertaubat. Kakek ingin mendapat ampunan dari Allah. Dan jika Allah mengizinkan kakek bertemu dengan kakekmu di surga, maka kakek akan bersimpuh dan meminta maaf pada kakekmu." Tutur kakek dalam tangisnya.


Sebenarnya sudah sejak lama kakek terpikir ingin memeluk Islam. Hanya saja masih terkendala dengan rasa keragun dalam hatinya.


Tapi, saat bertemu Isma. Dan melihat Prince yang bahagia setelah memeluk Islam, keinginan kakek untuk memeluk Islam menjadi semakin mantap dan kokoh.


"Alhamdulillah. . ." Ucap Isma dan Prince bersamaan.

__ADS_1


Mereka bahagia dan terharu mendengar kakek yang mendapat hidayah Islam dari Allah.


'Semoga Istiqomah, kek. Ampuni dosa-dosa kami ya Allah. Istiqomahkan hati kakek akan agama-Mu ya Allah.' Batin Isma.


"Insya Allah besok kita akan membawa kakek bertemu Ustad Amar. Beliau yang akan membantu kakek bersyahadat." Ucap Prince.


Di saat Prince, Isma dan kakek menangis haru. Di ruang tamu Amanda gelisah bukan main. Dia mondar-mandir memikirkan ide agar bisa mendapatkan Prince.


"Kamu bisa tenang nggak sih? Tante pusing lihat kamu mondar-mandir gitu." Celoteh Widia tidak nyaman dengan kehelisahan Amanda.


"Bagaimana aku bisa tenang Tante? Coba lihat perempuan kampung itu benar-benar sudah mencuci otak Prince."


"Iya Tante tahu. Tapi, kalau kamu gak bisa tenang seperti ini, yang ada perempuan kampung itu akan tersenyum bangga. Yang ada dia akan mengejek kamu."


"Iiihhh. . . Jadi aku harus bagaimana Tante?" Teriaknya prustasi.


Widia tersenyum licik. Tangannya menggamit Amanda agar lebih mendekat padanya.


"Apa Tante?" Mendekatkan telinganya ke mulut Widia.


"Perempuan itu mengandung." Bisiknya.


"Iya aku tahu itu Tante." Ucap Amanda tidak mengerti maksud Widia.


"Mmhh. . . Kamu tulalit banget. Sini Tante jelasin."


Amanda mendekat. Dia mendengarkan semua penuturan Widia tentang rencana mereka untuk melukai Isma. Usai mengatur strategi, mereka tertawa bahagia. Hingga tidak menyadari target mereka melangkah semakin dekat.


"Ma, Prince pulang dulu." Seru Prince mendekat ke arah Mama.


Prince lupa sejenak, dia meninggalkan Isma yang berdiri jauh di belakangnya.


Saat Prince sedang berpelukan dengan Mama, sengaja Mama memperlama pelukan itu. Tangannya memberi isyarat pada Amanda untuk mendekati Isma.


Isma mengetahui gerak-gerik mencurigakan itu. Dia melangkah mundur secara perlahan. Dan Amanda semakin mendekat, Isma terus mundur.


"Mau apa mbak Amanda?" Tanya Isma lirih.


"Jangan takut. Tidak akan sakit kok. Aku yang akan mengambil alih rasa sakit itu. . ." Bisik Amanda.


"Ja..ja..ngan mbak Amanda." Ucap Isma masih dengan suara tertahan.


Senyum licik terlihat disudut bibir Amanda. Senyum menakutkan itu membuat Isma sedikit tersadar. Dia tidak boleh takut pada wanita yang berniat jahat itu.


Sambil tersenyum licik, tangan Amanda mendorong kuat tubuh Isma. Hingga Isma terdorong ke belakang yang memiliki lantai lebih rendah dari lantai di ruang tamu itu.


"Ya Allah. . . Mas. . ." Teriak Isma.


Mendengar teriakan itu Prince langsung melepas pelukan Mama. Dia menoleh kearah sumber suara. Dilihatnya Amanda tersungkur di depan sana. Posisi Isma tepat menghadap kearah Amanda yang tersungkur itu.


Ya, Isma berhasil menahan tubuhnya sehingga tidak jatuh dan malah Amanda yang jatuh.


Jika dilihat dari sudut pandang sepihak, terlihat seakan Isma yang mendorong Amanda.


"Ya ampun. Amanda. . ." Teriak Widia.


Dia berlari mengejar Amanda, dengan kuat dia menyenggol tubuh Isma, hingga Isma terpental ke samping. Dan saat tubuh Isma hampir terjatuh ke lantai, dengan cepat Prince menyambutnya.


Mereka jatuh dilantai, tubuh Isma menindih tubuh suaminya.


"Mas, mas baik-baik saja?" Tanya Isma khawatir.


Prince diam saja. Perlahan mereka bangkit dari posisi itu. Lalu, Prince meninggalkan Isma yang terduduk dengan perasaan yang masih kaget, khawatir dan bingung.


Dia menghampiri Amanda. Di angkatnya tubuh Amanda yang terungkup dalam keadaan pingsan itu. Kening dan hidung Amanda berdarah.


"Kamu lihat Prince. Bagaimana kejamnya istri kamu itu. Dia mendorong Amanda dengan kuat. Lihatlah Amanda berdarah." Teriak Mama khawatir.


Sebenarnya Mama tidak menyangka Amanda akan mengalami hal tragis seperti ini. Mama menatap tajam kearah Isma penuh dendam. Dan Mama juga tidak menyadari Amanda hanya berakting saja.


Isma yang merasa dituduh itu pun menggeleng sambil menangis. Tidak, Isma tidak menggeleng pada mertuanya, tapi pada Prince yang juga menatap tajam penuh marah padanya.


"Dasar wanita kejam. . . Setelah ini dia akan melukai Mama lagi Prince. Dia akan menyingkirkan semua yang dekat dengan kamu." Teriak Mama yang sudah mulai menangis.

__ADS_1


Lagi dan lagi Isma menggeleng. Air matanya sudah tumpah. Ini pertama kalinya Isma melihat Prince semarah itu.


"Aku bunuh kamu. . ." Teriak Mama berlari menghampiri Isma.


Tapi, sebelum Mama berhasil menyentuh Isma. Langkahnya tertahan. Ada yang menggenggam erat pergelangan tangannya.


"Prince, lepas. . . Mama akan membunuh perempuan itu." Berontak Mama.


"Mama. . ." Teriak Prince sangat keras.


Widia kaget hingga dia jatuh terduduk dilantai. Kakek yang mendengar teriakan itu juga keluar dari kamarnya.


"Seujung kuku saja Mama berani menyentuh istriku. Aku tidak akan pernah menganggap kamu Mamaku lagi." Bentak Prince.


Isma terdiam. Matanya membelalak tanpa berkedip. Air mata terus mengalir disana. Sedangkan Mama menutup telinganya, menyembunyikan kepala diantara kedua lututnya.


"Kamu. . ." Teriak Prince tak kalah lantangnya.


Prince menunjuk ke arah Amanda yang ternyata hanya berpura-pura pingsan itu.


"Sekali lagi kamu melakukan hal ini. Aku pastikan nyawamu hilang." Bentak Prince.


Perlahan dia mendekati Amanda. Diraihnya rahang Amanda. Ditekannya kuat penuh dendam dan kemarahan.


"Hari ini kamu selamat. Tapi ingat Amanda. . . Aku akan terus mengawasimu." Menghempaskan rahang Amanda dengan kuat.


Sebentar Prince menoleh kearah Mama, tatapannya penuh kecewa dan amarah. Sedangkan Mama, dia nenangis. Entah menyesal atau apa, Prince tidak lagi peduli.


Lalu dengan cepat dia melangkah kearah Isma. Diperiksanya tubuh Isma. Isma hanya diam namun air matanya terus mengalir.


"Mas. . . Mas. . ." Ucap Isma dalam tangisnya.


Prince meraih tubuh itu dalam pelukan hangatnya. Dia mengelus lembut punggung Isma. Betapa Prince bersyukur, karena masih diberi kesempatan melindungi istri dan calon bayinya.


"Maafkan Mas, karena melepas genggaman tangan sayang. Mas kira mereka tidak akan berbuat sejauh ini. Maafkan Mas." Ucap Prince terisak.


Kini bergantian dia yang meminta dipeluk oleh Isma. Dia butuh ketenangan untuk mengendalikan emosi yang meluap itu.


"Mas. . . Kita pulang. Adek takut. . ."


Dalam pelukan Isma Prince mengangguk. Segera dia menggendong ala bridal tubuh Isma.


Tanpa pamit dan tanpa mengetahui keberadaan kakek, Prince membawa Isma keluar dari rumah itu.


'Cintaku maafkan aku yang lalai melindungimu. Maafkan aku melepas genggaman tanganmu. Percayalah, tidak akan ada yang bisa membuatku ragu pada dirimu. Jangan takut, mulai detik ini, aku akan lebih berhati-hati menjagamu.' Batin Prince.


Matanya terus menatap wajah Isma yang menangis takut dalam gendongannya. Prince benar-benar bersyukur karena tidak terlambat menyadari bahaya yang mengintai kesayangannya itu.


"I love you, sayang." Mengecup puncak kepala Isma.


"I love you too, Mas." Balas Isma disela tangisnya.


Lalu dia mengeratkan lingkaran tangannya dileher suaminya.


'Aku takut, Mas. Aku kira kamu mencurigaiku. Terimakasih cintaku, karena mempercayaiku. Aku akan lebih berhati-hati lagi dikemudian hari.' Batin Isma.


BERSAMBUNG. . .


Hay hay Reader. . .


Semangat dan terus jaga kesehatan.


Jangan lupa


LIKE


KOMEN


VOTE


Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.


Terimakasih semuanya. . .

__ADS_1


__ADS_2