
Malam ini Rara duduk diatas tempat tidurnya sambil membaca buku. Feisal duduk di lantai dengan tubuhnya bersandar pada tempat tidur Rara. Sedangkan Fazil, duduk di depan meja komputer Rara. Mata dan tangannya fokus pada komputer. Sepertinya dia sedang mengerjakan sesuatu.
"Fei, kamu kenal Jeni?" Tanya Fazil tanpa menoleh pada Feisal.
"Kenal. Sahabat baiknya Jelita. Kenapa?"
"Gue menghack akun sosial media Jelita, tapi tidak ada foto kalian sama sekali, sama seperti sosial media loe. Tapi, anehnya, si Jeni punya semua foto kallian. Tadinya aku iseng aja buka akun sosial media orang yang ada kaitannya sama Jelita." Jelasnya memperlihatkan apa yang dilihatnya pada Feisal.
"Loh, berarti Jeni dong yang memfoto aku sama Jelita secara diam diam?" Menatap penuh rasa penasaran pada foto Jeni.
"Jeni suka sama loe Fei." Seru Rara yang mulai tertarik dengan pembicaraan kedua saudaranya.
"Kamu kenal Jeni juga, Ra?" Tanya Feisal.
"Iyalah kenal. Dia selalu menatap kamu diam diam dan mengambil fotomu. Jadi aku rasa dia suka sama kamu, tapi karena kamu lebih memilih Jelita, jadi dia kesal." Lanjutnya menjelaskan.
"Ok, satu masalah selesai." Ucap Fazil lega.
__ADS_1
"Maksudnya?" Rara dan Feisal menatap Fazil tidak mengerti dengan apa yang dimaksudnya.
"Foto Feisal, sengaja disebarkan oleh Jeni. Dia marah karena Feisal lebih memilih Jelita." Penjelasan Fazil berhasil membuat Rara dan Feisal manggut manggut paham.
"Nah kalau Foto kamu Ra. Ini aku nemu video saat kamu mencoba menolong teman temanmu dari anak anak nakal berlagak menjadi preman sekolah." Memperlihatkan video itu pada Rara dan Feisal.
"Siapa yang merekam video ini?" Tanya Rara.
"Aku telusuri akunnya, dan aku berhasil menemukan ini!" Memperlihatkan hasil temuannya. Akun itu ternyata adalah akun Tio wakilnya sebagai Osis.
"Loe pernah nolak Tio, kan?" Tebak Feisal ngasal.
"Tio marah karena kekalahannya saat pemilihan Osis. Dia tidak terima dengan kemenangan Rara." Jelas Fazil.
"Astaghfirullah… Dia marah sampai segitunya hanya karena pemilihan Osis? Oh my God. Gimana kalau dia kalah saat mencalon pemerintah Negara! Bisa bisa dia membunuh semua orang agar bisa menang." Ucap Feisal tidak menyangka.
Rara hanya menghela napas. Lalu dia kembali membaca buku. Dia tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Sedangkan Fazil, dia mulai menyelidiki foto foto dirinya dengan Susi. Ternyata itu foto asli dirinya dengan Susi. Tapi, dalam foto itu Fazil terlihat membuka matanya dan tersenyum.
__ADS_1
"Itu ada filternya Zil." Seru Rara dari tempatnya. Dia hanya melirik sebentar pada Fazil.
"Gue tahu, Ra. Gue lagi belajar untuk menghilangkan filter di foto ini." kembali fokus mengutak atik komputernya.
Feisal memutuskan duduk di samping Fazil dengan menggunakan kursi meja rias Rara sebagai tempatnya duduk. Sementara Rara mulai memperhatikan Fazil meski dari tempat tidurnya. Dia malas bergerak, sebab Rara sedang kedatangan tamu bulanan.
"Gimana kalau loe minta bantuan mas Arsyid? Dia kan potograter hebat." Feisal menyarankan untuk meminta bantuan pada sepupunya itu.
"Jangan." Teriak Fazil, membuat Rara dan Feisal terkejut. "Jangan sampai mas Arsyid tahu tentang ini. Bisa bisa dia akan langsung melaporkan kita sama Ayah bunda." Sambungnya menjelaskan.
Rara dan Feisal mengangguk setuju. Mereka tadinya lupa, kalau sepupunya yang satu itu pernah menjadi mata mata untuk mengawasi mereka atas perintah ayah bunda mereka.
"Terus gimana kalau loe nggak bisa menghilangkan filter itu?" Feisal dan Rara penasaran.
Fazil tersenyum dengan raut wajah yang terlihat aneh. Hal itu membuat Rara dan Feisal saling bertatapan dan mengerutkan dahi. Kemudian keduanya serentak menaikkan kedua belah bahu mereka untuk sedetik saja.
"Kalau mas Arsyid bisa membuang filter untuk menunjukkan keaslian foto, berarti gue juga bisa." Penuh tekad. Lalu, Fazil pun memulai pertempurannya dengan menggukan laptop itu.
__ADS_1
'It's me Fazil Pratama. Apapun bisa gue lakukan untuk membuktikan sama ayah dan bunda, bahwa gue bukanlah anak nakal seperti yang mereka fitnahkan.' Batinnya.