
Hari ini Fazil dan Keni tidak saling bicara seperti biasanya. Mereka sibuk dengan pikiran masing masing. Bahkan saat jam istirahatpun mereka tidak saling bicara. Fazil memutuskan untuk tidur dan Keni memutuskan pergi keperpustakaan. Sungguh hari yang menengangkan bagi mereka.
Keni mencoba merangkai kata kata untuk mengatakan pada Fazil tentang dirinya yang akan ikut orangtua barunya ke Turki. Sementara Fazil, mencoba mencari cara yang bagus untuk memberi tahu Keni, bahwa dia akan ke London dan tawaran untuk menjadi gurunya dibatalkan.
Pelajaran terakhirpun kembali dimulai. Fazil sama sekali tidak bisa fokus pada apa yang dijelaskan gurunya. Sedangkan Keni, malah sangat bersemangat belajar dan lebih aktif dalam mengajukan pertanyaan dari hari hari biasanya.
'Bagaimana kalau Keni benar benar menerima tawaran itu. Bisa gawat dong. Dia akan berpikir, aku hanya memberi harapan palsu dan dia akan kembali menjadi anak yang pendiam dan tidak ingin berteman lagi dengan siapapun.' Gumamnya dalam hati.
'Apa Fazil menunggu jawabanku. Bagaimana ya. Dia akan kecewa, karena aku menolak untuk menjadi gurunya. Maafkan aku, Zil. Aku benar benar tidak ingin menyia nyiakan kesempatan ini. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap ke Turki untuk mencapai cita citaku.' Kenipun bergumam dalam hatinya.
Kkrrriiiiingng…
Bel pulang berbunyi. Semua siswa siap untuk pulang. Mereka bahkan saling berebut saat melewati pintu kelas. Sementara Fazil dan Keni, melangkah beriringan dengan langkah yang pelan. Keduanya tenggelam dengan pikiran masing masing.
"Keni."
"Fazil." Mereka saling menyebut nama dalam waktu bersamaan.
"Kamu dulu deh, Ken." Saran Fazil.
"Mmh, tentang tawaran untuk menjadi gurumu, sepertinya aku tidak bisa." Ungkap Keni agak ragu ragu.
"Kenapa?" Fazil bertanya karena ingin tahu apa alasannya. Meski sebenarnya Fazil senang, karena Keni menolak tawaran itu.
"Aku akan ke Turki." Jawabnya yang membuat Fazil terdiam sebentar.
"Turki? Untuk apa?" Tanya Fazil penasaran.
"Ada yang mengadopsiku. Mereka pasangan dari Turki."
__ADS_1
Fazil mengangguk paham. "Selamat ya, Ken. Akhirnya kamu punya kedua orangtua baru." Ujar Fazil dengan nada antara senang dan kecewa.
"Terimakasih, Zil." Keni tersenyum sambil menatap Fazil sebentar.
"Semoga mereka memberikan banyak kasih sayang pada kamu, Ken."
"Semoga saja, Zil." Lagi lagi Keni menatap Fazil. "O iya, tadi kamu mau ngomong apa?"
Fazil tersenyum sambil terus melangkah beriringan dengan Keni. "Aku cuma mau bilang, kalau aku tidak mendapat izin untuk homeschooling. Bunda sama Ayah tidak setuju." Ungkapnya lebih santai setelah mengetahui jawaban dari Keni.
"Lalu, kamu akan pindah ke sekolah mana? Atau, kamu akan tetap disini?" Keni penasaran.
"Mmhh, mungkin ke London."
"Ketempat saudara kembarmu?" Tebak Keni.
"Pasti menyenangkan bisa kembali bersama dengan Feisal." Tebak Keni.
"Sangat menyenangkan. Dan akan lebih menyenangkan lagi, saat Rara juga ada di sekolah yang sama." Membayangkan mereka kembali bersekolah di sekolah yang sama.
"Menyenangkan ya, kamu punya dua saudara. Kalian membutuhkan satu sama lain."
"Begitulah. Tapi, sebenarnya kita juga sering berantem kok. Apa lagi Rara sama Feisal. Mereka kalau bertemu, seperti Tom and Jerry." Tutur Fazil sambil tertawa kecil membayangkan pertengkaran kedua saudaranya itu.
Keni pun ikut tertawa saat melihat Fazil tertawa. 'Betapa bahagianya kalian. Bukan hanya saudara yang saling menyayangi. Tapi, kalian juga mendapat cinta kasih yang penuh dari kedua orangtua kalian.' Ujar Keni dalam hatinya.
"Keni, kita masih tetap sahabat, kan?" Tiba tiba Fazil menanyakan hal itu.
"Tentu. Meski berjauhan dan mungkin tidak bisa saling memberi kabar, kita tetap sahabat." Ungkap Keni.
__ADS_1
"Dan aku punya sesuatu untuk kamu, sebagai tanda persahabatan kita." Fazil mengeluarkan sebuah kotak kado dari dalam tas ranselnya.
"Apa ini?" Tanya Keni sambil menerima kotak kado tersebut.
"Buka aja, coba." Saran Fazil.
Keni membuka kotak tersebut, dan terdiam melihat isinya. "Apa semua ini untukku?" Tanya Keni.
"Iya. Kenapa? Apa kamu tidak suka." Tanya Fazil saat melihat bola mata Keni yang tidak berkedip menatap pemberiannya.
"Zil, ini sangat berlebihan untuk hadiah sebagai sahabat." Ucap Keni sambil menatap isi kotak kado tersebut.
"Kenapa? Berlebihan apanya?" Tanya Fazil penaran.
"Tasbih dan Qur'an, lengkap dengan satu stel gaun dan cadar. Ini sangat berlebihan Fazil. Aku suka tasbih dan Qur'an ini. Tapi gaun ini sangat mahal dan terlalu mewah." Jelas Keni tidak percaya dengan cara Fazil memberi hadiah untuknya.
"Tidak ada yang berlebihan kok, Keni. Kalau kamu merasa tidak bisa memakai gaunnya dalam waktu dekat, kamu bisa memakainya saat seseorang melamarmu suatu saat nanti." Jelas Fazil yang semakin membuat Keni terperangah.
"Aku memakai gaun ini saat seseorang melamarku?" Ulang Keni. Dan Fazil mengangguk sambil tersenyum.
"Aku akan memakai gaun ini, jika kamu yang melamarku." Ucap Keni tanpa berani menegakkan kepalanya untuk menatap Fazil yang mematung.
Keni mengatakan semua itu karena memang itulah yang hatinya rasakan. Sementara, Fazil memberikan gaun itu, karena sebenarnya dia memang ingin menjadi pria yang nantinya bisa melamar Keni. Hanya saja, saat ini masih terlalu dini untuk mereka saling mengakui perasaan itu.
"Semoga kamu bahagia di Turki, Ken." Ucap Fazil mencoba mencairkan suasana yang tiba tiba membeku.
"Semoga kamu juga bahagia di London, Zil. Allah selalu bersama kita." Ucap Keni.
Hari itu adalah hari terakhir mereka saling bicara. Karena setelah itu, Fazil langsung terbang ke London. Dan Keni pun terbang Ke Turki.
__ADS_1