
Hari ini Isma benar-benar bahagia. Dia bermain sepuasnya di wonderland impiannya. Semua wahana di cobanya, dan Prince terpaksa menemani Isma kemanapun yang dia mau.
Sesekali Prince menggelengkan kepala melihat tingkah ceria Isma yang menurutnya sangat menggemaskan. Terkadang Prince tersenyum geli, mengetahui betapa lincahnya Isma.
Dia juga menaiki wahana seluncur yang sangat tinggi dan berliku. Kali ini Prince tidak ikut.
Awalnya Isma juga tidak jadi, karena Prince tidak mau. Tapi, dia berubah pikiran saat Rina tiba-tiba datang dan mengajaknya untuk bermain bersama.
Kini, Prince dan Bimo hanya duduk menikmati keindahan alam ditemani segelas kopi. Sedangkan istri mereka asyik bermain air dan wahana lainnya tanpa ada kata lelah.
"Bos beruntung, menjadi lelaki pertama yang mengukir kebahagiaan di hidup Isma." Ucapa Bimo tiba-tiba.
Prince hanya tersenyum sambil melihat kearah Isma dan Rina yang saling tertawa di depan sana.
"Kamu masih menyukainya?" Tanya Prince.
Bimo menggeleng cepat. Dia bahkan sedikit tersedak mendengar pertanyaan itu.
"Saya hanya menganggapnya sebagai sahabat, Bos." Tegasnya dengan sedikit grogi.
"Syukurlah. Karena, akan percuma kamu menyimpan rasa untuk Isma. Toh, hatinya seutuhnya hanya untuk saya." Tegas Prince.
Sebenarnya Prince merasa cemburu saat Bimo diam-diam melirik kearah Isma. Ya, Bimo terlihat asik melihat Isma bukan melihat Rina. Itulah yang dirasakan Prince.
"Iya, Bos. Saya tahu kok." Jawab Bimo dengan sedikit tersenyum.
"Rina itu wanita baik. Ceria, lembut dan bertanggung jawab. Jagalah dia dengan baik. Jangan membuatnya cemburu pada Isma. Jangan hancurkan persahabatan mereka." Ujar Prince dengan nada datar, namun sangat mengena di hati Bimo.
"Sudah pasti saya akan menjada istri saya, Bos. Saya tidak akan melanggar janji saya. Rina pasti akan bahagia bersama saya, tenang saja." Jawab Bimo dengan nada sedikit tegas namun terdengar kesal.
"Bagus deh kalau begitu. Jadi, saya bisa aman menitipkan Isma pada Rina saat nanti saya akan keluar Negeri."
Senyum manis penuh kemenangan terukir di bibir Prince. Sedangkan Bimo hanya mampu tersenyum paksa.
"Apa Bos tidak berniat membawa Isma kemanapun Bos pergi?" Sambungnya.
Sejenak Prince menghela napas. Ditatapnya Isma yang jauh di depan sana.
"Aku tidak berniat meninggalkannya meski sebentar. Tapi, aku tidak ingin dia terlalu capek karena harus bepergian denganku setiap saat." Tutur Prince.
Bimo tersenyum mendengar penuturan Prince. Ada perasaan lega, karena Isma pasti akan dicintai dan akan selalu bahagia bersama Prince.
__ADS_1
Sementara kedua pasangan itu tengah belibur bersama, Di salah satu rumah yang mewah. Amanda baru saja selesai dengan aktivitas pemoteretan untuk Majalah remaja edisi bulan ini.
"Mbak Amanda semakin cantik setiap harinya. Dan tentunya semakin banyak pula Pria yang menginginkan mbak Amanda."
Perkataan itu dilontarkan oleh seorang reporter yang mendapat tugas menginterview model cantik berusia 27 tahun itu.
"Bisa saja." Sungutnya malu-malu mendapat pujian atas kecantikannya.
"Apakah mbak Amanda sedang berkencang sekarang?"
"Ya, begitulah. Sebenarnya saya kembali menjalin kasih bersama mantan tunangan saya yang dulu sempat terjeda karena dia terpaksa harus menikahi sahabatnya." Tuturnya santai.
"Apa yang mbak Amanda maksud itu, Prince Wijaya Pratama?" Tanyanya.
Sebentat Amanda tersenyum. Lalu menyelipkan sebagian rambutnya kebelakang telinga.
"Apa kalian pernah mendengar saya bertunangan dengan orang lain?" Tanyanya menatap tajam kamera.
"Ah, tidak. Mbak Amanda seorang wanita yang setia. Da ternyata desas-desus itu benar rupanya."
"Desas-desus apa?" Tanya Amanda penasaran.
"Tentang hubungan mbak Amanda sama Mas Prince. Yang katanya kalian bahkan sudah mendaftarkan pernikahan." Tuturnya.
"Yah. . . Sebenarnya kita memang sudah menikah. Hanya saja saat ini kita masih nyaman untuk menyembunyikannya." Sambung Amanda dengan penuh percaya diri.
"Jadi mbak Amanda sudah menikah dengan Prince? Sejak kapan?" Tanya reporter itu penasaran.
"Sudah cukup lama. Kira-kira. . . sudah hampir lima bulan." Tuturnya dengan memberikan senyum kemenangan menatap tepat kelayar kamera.
Dalam sekejap, berita itu menyebar luas. Bahkan saat ini seluruh televisi, koran, majalah dan sosial media lainnya ramai memberitakan tentang pernikahan Amanda dan Prince.
Ya, berita itu bahkan kini telah sampai pada Umi dan Abah yang memang sedang menonton TV.
"Ah tidak mungkin lah, Abi. Umi lihat Prince benar-benar mencintai Isma, kok." Tepis Umi.
"Laki-laki itu suka memanfaatkan sesuatu demi ketenaran mereka, Umi." Tutur Abi yang sudah terbawa emosi saat mendengar berita kebohongan Amanda yang menurut Abi adalah kebenaran.
"Maksud abi? Prince memanfaatkan Isma?" Tanya Umi tak paham dengan ucapan Abi.
"Prince seorang non-muslim, Umi. Dengan dia menyatakan masuk Islam demi menikahi wanita yang dicintainya, maka akan semakin banyak orang yang akan memujinya. Seorang lelaki hebat, gagah, kaya raya, bisa mendapatkan wanita manapun yang dia mau, akan terasa aneh saat dia hanya memilih wanita biasa seperti anak kita." Jelas Abi masih dengan santai, tapi hatinya menahan rasa kecewa.
__ADS_1
"Tapi, Umi lihat mata nak Prince menggambarkan cintanya yang besar untuk Isma, Abi." Bela Umi yang masih tak percaya dengan berita itu.
"Terserah Umi. Yang pasti, saat Isma pulang bersama lelaki itu. Abi akan langsung memintanya menceraikan Isma." Tegas Abi.
"Abi bicara apa? Istighfar Abi. Ada baiknya kita tanyakan dulu tentang kebenaran berita itu? Kita jangan hanya mempercayai satu sumber saja." Tutur Umi membantah keinginan Abi.
"Bukan satu sumber lagi, Umi. Lihat itu, kedua orangtua Prince juga membenarkan berita itu." Ucap Abi menunjuk layar televisi.
Dimana Mama dan Papa Prince sedang bertutur bahagia menyatakan tentang kebenaran apa yang diakui Amanda.
"Iya, mereka sengaja merahasiakan pernikahan ini demi bisnis dan juga karir Amanda." Tutur Mama dengan bahagia.
Umi terdiam, dia mengelus dada mendengar pengakuan kedua orangtua Prince.
"Ya Allah, kenapa engkau uji anakku dengan ujian seberat ini." Ucap Umi yang sudah meneteskan air mata.
Abi merangkul tubuh umi, hati Abi begitu hancur mendengar itu. Abi menyesal telah menikahkan Isma dengan Prince tanpa banyak bertanya dan menyelidiki terlebih dahulu.
"Kita memang belum mengadakan resepsi pernikahan. Karena sekarang kakeknya Prince sedang terbaring di rumah sakit." Sambung Mama.
Televisi masih menyala, mata Abi masih terus menonton dan mendengar berita tersebut.
"Jadi Pastur Yudha sedang sakit?" Tanya Reporter itu menyebutkan nama Kakek Prince.
Mata Abi terbelalak tajam saat melihat foto Kakek Prince yang tertera di layar televisi.
Tubuhnya gemetar, Abi merasakan dadanya dan kepalanya sagat sakit. Kejadian puluhan tahun lalu terlintas lagi di kepalanya.
Abi jatuh dalam pelukan Umi.
"Panas. . . Ya Allah tolong. . ." Teriak Abi histeris.
Umi bingung dengan keadaan Abi yang tiba-tiba seperti itu. Dan tanpa sengaja Umi ikut menoleh ke layar televisi. Mata Umi juga ikut bergetar melihat berita yang menyiarkan Pastur tua itu sedang terbaring sakit.
"Astaghfurullah, ya Allah. . . Lindungi Putri kami." Ucap Umi gemetar.
Dengan cepat umi mematikan televisi, lalu dia memeluk erat tubuh Abi yang sekarang tengah kejang menahan rasa sakit menannggung segala gejala trauma masa lalunya.
Bersambung. . .
Jangan lupa tinggalka jejak. . .
__ADS_1
Like, komen dan vote juga ya.
terimakasih Readerku tersayaang…