
Pelajaran sedang berlangsung. Ibu Merlin menjelaskan di depan. Anak anak menyimak dan mencoba memahami apa yang dijelaskannya. Namun, ada satu anak yang membuat fokusnya terganggu. Dia menggelengkan kepala, sembari melangkah perlahan menuju meja salah satu siswa.
"Fazil, what are you doing?" Tanya Merlin begitu tiba di meja tempat Fazil merebahkan kepalanya.
"I sleep." Jawabnya tanpa menegakkan kepala dan tampa membuka matanya.
Merlin terpancing emosi, tanpa aba aba dia menarik paksa tubuh Fazil keluar dari kelasnya. Rara dan teman teman lainnya hanya diam melihat kejadian itu.
"Get out." Teriaknya dengan menutup pintu kelas.
Fazil terdiam, sebentar dia menghela napas, lalu melangkah menuju perpustakaan.
"Fazil, Fazil!" Seru pak Rudi, penjaga perpustakaan. Dia menggeleng heran melihat Fazil yang selalu saja menghabiskan waktunya diperpustakaan, disaat jam pelajaran berlangsung.
"Kenapa sih, kamu itu pintar. Saya juga tahu, kamu bukan anak yang nakal, tapi kamu anak yang baik. Apa alasanmu menjadi seperti ini?" Tanya pak Rudi berharap mendapat jawaban dari Fazil.
"Entahlah pak. Mungkin, sebenarnya saya memang nakal." Ujarnya.
Sementara itu, Isma dan Prince kini sudah di pesawat. Sebentar lagi, pesawat yang mereka tumpangi akan segera lepas landas. Isma memode pesawatkan ponselnya, begitu juga dengan Prince.
__ADS_1
"Mas, ini kali pertama kita meninggalkan anak anak sejauh ini. Mana untuk waktu yang lama juga." Ucap Isma yang mengkhawatirkan anak anaknya.
"Sayang, mereka sudah besar dan pintar pintar. Jadi, jangan terlalu khawatir ya. Sebab khawatir seorang ibu yang berlebihan pada anaknya, justru akan membuat anak anak mengalami hari yang tidak baik pula." Jelas Prince sambil mengelus lembut wajah Isma.
"Semoga saja mereka baik baik, ya mas." Menghela napas dan berdoa agar ketiga anaknya baik baik saja selama mereka di Malaysia.
Apa yang dikatakan Prince benar adanya. Kekhawatiran Isma yang berlebihan dari biasanya berdampak kurang baik pada Fazil. Di perpustakaan dia benar benar merasakan kantuk yang teramat sangat. Sehingga tidak menyadari ada seseorang menghampirinya, dan dia adalah Susi yang merupakan kakak kelasnya.
Susi terkenal dengan idola para cowok. Namun, Fazil satu satunya cowok yang sama sekali tidak tertarik padanya. Sehingga hari ini Susi mengatur rencana agar bisa mendapatkan Fazil.
"Akhirnya kamu tidur juga ganteng." Mengelus pipi Fazil yang sudah terlelap itu.
Susi memulai aksinya. Dia merebahkan kepalanya tepat dihapan Fazil. Lalu dia meletakkan tangan Fazil di wajahnya, sambil memotret kemesraan mereka itu. Lalu, Susi mulai beralih pada hal lain. Dia membuka kancing baju bagian atas Fazil. Lalu dia juga membuka kancing baju bagian atasnya. Dia pun berpose seakan Fazil sedang menggodanya. Dengan sengaja Susi menggunakan efek kamera yang membuat seakan mata Fazil terbuka.
Ting…
Notif pemberitahuan terdengar di semua hp siswa. Juga di laptop guru mereka. Satu per satu mereka membuka notif tersebut, karena memang kebetulan mereka sedang belajar yang mengharuskan mereka menggunakan hp.
"Loh ini kan Fazil sama Susi." Teriak salah satu teman kelas Fazil. Mendengar itu, Rara pun segera membuka notif tersebut. Matanya terbelalak kaget melihat foto itu.
__ADS_1
"Ini nggak mungkin." Ucap Rara yang langsung berlari keluar kelas. Begitu tiba di luar, rupanya Feisal juga sudah berada disana.
"Fei, aku yakin Fazil di jebak." Ucapnya tidak percaya.
"Aku pikir juga begitu, Ra. Sekarang kita harus temui Fazil, sebelum guru lain menemukannya." Mereka pun berlari menuju perpustakaan.
Rara berlari sekuat yang dia bisa, sementara Feisalpun juga begitu. Mereka ingin segera sampai di perpustakaan dan menarik Fazil keluar dari dramanya Susi si penggoda itu. Namun, begitu mereka tiba disana, Fazil sudah ditampar oleh kepala sekolah. Bibirnya tergores dan berdarah. Sedangkan Susi juga mengalami hal yang sama dengan Fazil.
"Pantas saja setiap guru bercerita tentang kelakuan kamu. Selama ini saya masih melindungi kamu, karena kepintaran kamu. Ternyata, ini kelakuan kamu sebenarnya." Hendak memukul Fazil lagi. Tapi, sebelum itu terjadi Rara dan Feisal mendekap erat tubuh Fazil sehingga pukulan itu terhenti.
"Fazil tidak bersalah, pak. Semua ini hanya salah paham." Teriak Rara lantang menatap tajam pada kepala sekolah.
"Ch, kalian bertiga sama saja. Kamu bersembunyi di balik topeng Osis mu itu, kan? Hari ini saya mendapat pemberitahuan, kalau kamu menyalahgunakan pangkat kamu sebagai ketua Osis untuk menindas dan membuli adik adik kelasmu kan?" Melemparkan foto foto saat Rara membantu adik adik kelasnya yang diperas oleh para pereman sekolah. Namun dalam foto itu memang terlihat seakan Rara yang melakukan kejahatan itu.
"Dan kamu Feisal. Ini kerjaan kamu di sekolah. Pacaran setiap hari bersama Jelita." Melempar foto foto Feisal yang sedang berduaan dengan Jelita.
"Semua ini bohong pak. Semuanya salah paham, foto ini editan." Teriak Feisal yang tidak membenarkan foto foto Rara dan Fazil.
"Saya memang selalu berduaan dengan Jelita. Tapi kami hanya membahas tentang pelajaran jika di sekolah. Kami tidak melanggar tata tertib sekolah. Jika memang saya harus kena sangsi karena semua itu, baiklah saya siap. Tapi, tolong percaya pak, Fazil sama Rara tidak melakukan seperti yang kalian lihat di foto itu." Tegasnya membela kedua saudarnya.
__ADS_1
"Panggil orangtua kalian kesekolah sekarang." Teriak kepala sekolah. "Kamu juga Susi. Panggil kedua orang tuamu kesekolah sekarang."
Dan Susi hanya diam. Dia tertawa dalam hati, meski dia tahu, kemungkinan dirinya juga akan segera di keluarkan dari sekolah, setidaknya dia puas membuat Fazil masuk dalam perangkapnya.