Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Season 2 (Chap 19)


__ADS_3

Hampir seharian Rara, Fazil dan Feisal bermain air. Kini mereka berbaring nyaman di tempat tidur kamar hotel yang dikhususkan untuk mereka saat berkunjung. Tempat tidur Rara di dekat jendela kaca yang langsung menghadap wonderland. Sedangkan tempat tidur Feisal menghadap pada Tv, karena dia suka sekali menonton tv saat sedang liburan. Dan tempat tidur Fazil berada di dekat meja komputer. Dia selalu menghabiskan watu luangnya dengan komputer.


Tapi, saat ini mereka hanya berbaring. Menatap langit langit kamar menjadi kebiasaan mereka saat sedang tidak melakukan apa apa. Mereka tenggelam dengan pikiran masing masing.


"Aku sudah mengatakan putus pada Jelita." Ucap Fazil dengan mata tetap menatap langit langit kamarnya.


"Benarkah?" Tanya Rara yang juga tidak mengalihkan pandangan dari langit langit kamar mereka.


"Jelita menangis. Dia bilang, dia akan selalu menungguku dan tetap setia untuk mencintaiku, meski kami sudah putus." Jelas Feisal.


"Rencana manusia tidak sama dengan rencana Allah." Fazil menyela ditengah pembicaraan kedua saudaranya.


"Mh, Fazil benar, Fei. Jelita akan menemukan cinta yang lain. Kamu juga akan segera menemukan cinta yang lain." Sambung Rara.


"Entahlah. Untuk saat ini, rasanya sulit melupakan Jelita. Aku sangat mencintainya."


"Cinta pada sesuatu yang tidak halal itu, terjadi karena hati manusia kosong dari rasa kecintaan pada Tuhannya." Ujar Fazil yang kini sudah melangkah menuju pintu kamar mandi.


Mendengar ucapan Fazil barusan, membuat Rara dan Feisal saling menatap. Lalu mereka pun ikut duduk dan menuju kamar mandi. Ya, kamar mandi di kamar ini juga ada tiga.


Hampir lima menit mereka di kamar mandi. Saat keluar, wajah mereka sudah kembali terlihat segar. Rara mulai mengenakan mukenanya. Fazil dan Feisal memakai sarung dan peci mereka. Kini mereka sudah bisa kembali berjamaah bertiga.

__ADS_1


"Allaahu Akbar." Fazil mengangkat kedua tangannya memulai takbir untuk melaksanakan sholat isa berjamaah. Rara dan Feisal juga ikut mengangkat tangan mereka sebagai makmum dalam sholat yang diimamkan oleh Fazil.


Disaat mereka sedang khusuk dalam sholat. Di kamarnya, Jelita sedang menangis. Dia membenamkan wajahnya pada bantal, agar suara tangisnya tidak terdengar sampai keluar kamar. Hatinya hancur saat mendapat pesan dari Feisal yang mengajaknya putus.


Jelita memahami betul alasan Feisal mengajaknya putus. Tapi, meski begitu hatinya tetap sedih. Terlebih tadi siang, pihak sekolah sudah mengumumkan tentang kepindahan Feisal dari sekolah mereka.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hariku di sekolah tampa kamu, Fei." Ucapnya dalam tangis.


Jelita teringat pertemuannya dengan Arsyid tadi siang. Semua itu terasa tidak nyata baginya. Semuanya sangat mendadak. Jelita belum siap dengan semua yang harus dialaminya secepat ini.


(Kejadian tadi siang di sekolah)


Arsyid tiba di sekolah. Dia disambut baik oleh pihak sekolah. Lalu, Arsyidpun ikut ke ruangan Wakil kepala sekolah. Disana semua guru berkumpul, lalu mereka meminta maaf atas kesalahpahaman mereka pada Fazil, Rara dan Feisal. Mereka juga menjelaskan kejadian sebenarnya.


"Tidak apa, Pak. Dan sebenarnya kedatangan saya kesini, hanya untuk menyerahkan ini pada pihak sekolah." Mengeluarkan tiga amplop putih dari dalam saku jaketnya.


"Ini surat pindah adik adik saya dari sekolah ini." Meletakkan ketiga amplop itu diatas meja.


"Maksud mas Arsyid apa, ya?" Tanya Wakepsek yang masih ragu dan tidak percaya.


"Adik adik saya akan kembali bersekolah di sekolah baru mereka. Jadi, saya datang mengantarkan surat kepindahan mereka. Tentang semua sisa biaya sekolah, sudah ditransper oleh om Prince ke rekening sekolah." Jelas Arsyid.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Arsyidpun berpamitan. Dia keluar dari ruangan itu dengan senyum lega.


"Tunggu!" Teriak Jelita sambil mengejar langkah Arsyid.


Mendengar itu, Arsyid menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Jelita. Dia terdiam menunggu Jelita tiba di dekatnya.


"Kamu Jelita?" Tanya Arsyid pada Jelita yang hanya mengangguk, karena dia masih mengatur napasnya yang ngos ngosan karena berlari.


"Mh, pantas Feisal mencintai kamu. Ternyata kamu gadis yang menggemaskan, pintar dan juga sangat cantik." Puji Arsyid yang membuat Jelita tersipu malu.


"Apa yang ingin kamu sampaikan?" Menunggu Jelita mengatakan apa yang ingin disampaikannya.


"Apa mereka benar benar akan pindah sekolah?"


"Iya. Mulai besok, mereka akan langsung sekolah disekolah yang baru. Kenapa?"


"Tidak, saya hanya ingin memastikan saja. Dan tolong berikan ini sama Feisal." Memberikan kotak kecil pada Arsyid.


"Akan aku pastikan ini sampai pada Feisal." Mengambil kotak itu dari tangan Jelita.


Sejauh itulah ingatan yang membuat Jelita masih terus menangis sampai saat ini. Dia tidak sempat menemui Feisal dihari kejadian itu. Jelita bahkan belum sempat menanyakan bagaimana keadaa Feisal saat itu. Dia hanya melihat Feisal merangkul Rara saat mereka meninggalkan sekolah hari itu.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak mengejarnya? Harusnya aku kejar Feisal hari itu jika ternyata itu adalah hari terakhirku melihatnya." Rutuknya meratapi kekesalan pada dirinya sendiri.


"Aku sangat merindukanmu Feisal. Aku merindukan kamu." Tangisnya kembali pecah. Jelita tidak mampu membendung gejolak sedih dihatinya yang menyiksa karena rasa kerinduannya pada Feisal.


__ADS_2