
Tulisan itu berupa ancaman. (Hari ini adalah kemantianmu. Jangan mencoba untuk menyelamatkan diri.) Begitu tulisan itu. Entah siapa pengirimnya.
"Aku tidak tahu ternyata selama ini ada orang yang sangat membenci Prince dan Isma." Ujar Fitri merasa tidak percaya.
"Fazil tahu tentang ini?" Tanya Arya.
"Tidak tuan. Saya tidak memberitahunya. Saya fikir ini tidak harus diketahui den Fazil."
"Bagus. Jangan sampai Fazil tahu hal ini. Aku akan coba mencari tahu, siapa pemilik tulisan ini." Bertekad.
"Tidak usah mencari tahu, mas." Suara serak dan menahan sakit itu membuat Arya dan Fitri terkejut.
"Prince!" Mereka mendekati Prince yang rupanya sudah sadarkan diri.
"Surat itu aku dapat dari seorang anak yang marah karena orangtuanya dituduh mencuri oleh tetangganya. Anak itu sudah meninggal, tadinya aku mau memberikan surat itu pada polisi tapi ternyata kedua orangtuanya tidak ingin memperpanjang masalah itu." Tuturnya menjelaskan agar tidak terjadi kesalah pahaman.
Arya, Fitra dan Tifahpun mengangguk paham, lalu mereka membuang kertas itu kedalam tong sampah.
"Mas, mbak… bantu saya untuk kedekat Isma." Mencoba bangkit.
"Prince, kamu masih harus tetap berbaring. Isma…" Belum selesai ucapan Fitri, Prince sudah menginjakkan kakinya dilantai.
Dengan sigap, Arya membantu Prince berjalan mendekati tubuh Isma yang terbaring tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Sayang, maafkan mas yang tidak mampu melindungimu." Ucap Prince sambil mencium kening Isma.
Suasana menjadi haru. Arya dan Fitri pun terdiam saling berpegangan tangan menyaksikan bagaimana Prince mencoba memeluk tubuh Isma, padahal keadaannya sedang tidak baik baik saja.
"Maafkan mas, sayang." Prince menangis. Dia sangat tidak mampu melihat Isma dalam kondisi yang seperti saat ini.
"Bangunlah sayang. Anak anak masih membutuhkan kita disisi mereka." Menyentuh lembut pipi Isma.
Arya dan Fitri tidak tahu harus melakukan apa. Mereka ingin meminta Prince kembali ke tempat tidurnya, tapi tidak mungkin mereka lakukan. Karena saat ini Prince hanya ingin berada disisi Isma.
"Ayah!" Seru Fazil yang baru tiba.
"Sayang, kemarilah." Prince mengulurkan tangannya pada Fazil.
"Jagoan ayah tidak boleh menangis seperti ini. Semuanya akan baik baik saja." Ucap Prince sambil menghapus airmata dipipi putranya itu.
"Maafkan Fazil, Ayah."
"Kenapa meminta maaf sayang?"
"Gara gara kenakalan Fazil, Ayah sama bunda buru buru pulang dan terjadi seperti ini." Celotehnya.
"Tidak sayang. Semua ini bukan kesalahanmu." Menguatkan putranya itu.
__ADS_1
"Kenapa kalian menangis?" Suara itu terdengar sangat pelan.
"Bunda!" Teriak Fazil yang melihat Isma mulai membuka matanya.
"Isma." Arya, Fitri dan Prince memanggil namanya berbarengan.
"Bunda baik baik saja." Ucap Isma dengan suara yang sangat pelan dan nyaris tidak terdengar.
Disaat semua orang bahagia karena Isma sudah sadarkan diri, Arsyid langsung berlari untuk memanggil dokter.
"Ini Jilbab bunda." Fazil memberikan Jilbab pada ayahnya agar memakaikan dikepala Bundanya.
Prince dan Isma tersenyum bangga pada putra mereka. Disaat seperti inipun, Fazil tetap memikirkan aurat bundanya. Dia benar benar tumbuh menjadi anak yang luar biasa. Isma dan Prince bahkan hampir menangis haru menyaksikan betapa beruntungnya mereka memiliki anak yang sholeh seperti Fazil.
Beberapa menit kemudian, Arsyid datang bersama dokter ke ruangan Isma. "Buk Isma sudah siuman?" Tanya Dokter itu mendekati Isma.
"Iya dok, istri saya sudah siuman." Jawab Prince mewakili istrinya.
"Saya periksa sebentar ya buk." Dokter itu pun memeriksa detak jantung Isma. Lalu dia melirik pada Prince. "Anda juga harus saya periksa pak Prince." Menarik tubuh Prince kembali ketempat tidurnya.
"Saya baik baik saja, Dok. Saya bahkan sudah bisa berjalan." Ucapnya bangga.
"Saya tahu. Tapi, anda harus tetap berbaring seperti ini setidaknya selama dua hari. Kondisi anda tidak sebaik yang anda kira." Jelas Dokter pada Prince.
__ADS_1
Sementara itu, semua orang diruangan menatap Prince dengan tatapan prihatin bercampur geli. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seorang prince bisa sangat patuh pada Dokter hanya karena dokter mengeluarkan jarum suntik dari sakunya.