Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Pemberian nama


__ADS_3

Saat ini, Isma sudah dipindahkan keruangan VIP. Keadaan Isma mulai membaik. Wajahnya yang tadi pucat sudah terlihat lebih hangat, meski saat ini dia tertidur pulas. Prince duduk disampingnya dengan terus menggenggam tangan Isma.


Fitri dan Arya mengurus administrasi dan juga bayi bayi Isma dan Prince. Pada saat bersamaan Abah dan Umi sudah tiba dari Bandung. Mereka langsung dituntun Fitri menuju ruangan Isma.


"Prince, bagaimana keadaan Isma?" Tanya Umi berjalan menghampiri tubuh terbaring Isma.


"Umi, Abah." Menyalami kedua mertuanya.


"Bayi kalian bagaimana?" Tanya Abah.


"Alhamdulillah sehat semua Bah. Sebentar lagi bayi bayi kita akan dipindahkan ke ruangan ini juga." Jelas Prince.


"Umi…" Panggil Isma lemah.


"Iya sayang, ini Umi." Menggenggam tangan Isma dan memberi ciuman dikeningnya.


"Adek sudah jadi seorang ibu." Rengek Isma penuh haru.


"Iya sayang. Selamat ya, Nak. Semoga kalian sehat selalu."


"Ampuni semua kesalahan adek, Mi." Tangisnya pecah memeluk erat tangan Umi.


"Iya. Kamu itu anak yang penurut dan selalu menyayangi Umi. Jadi tidak ada yang perlu dimaafkan atau ampuni." Tutur Umi mengelus wajah Isma.


Prince dan Abah hanya diam, dengan mata mereka yang berkaca kaca merasakan keharuan itu.

__ADS_1


Tiga perawat masuk ke ruangan Isma membawa ketiga bayi mereka. Disusul dengan tempat tidur untuk bayi bayi itu.


"Cucu kita, Bah." Mengambil alih cucu perempuannya dari gendongan perawat.


"Cantik sekali." Sahut Abah sambil menyentuh wajah mungil dalam gendongan Umi.


Sementara dua bayi lainnya diperlihatkan pada Isma. Dengan berderai air mata Isma menyambut kedua buah hatinya itu dalam gendongannya. Dia menciumi bergantian bayi bayinya.


"Mas, bayi kita…" Ucapnya terharu.


Prince mencium bergantian bayinya dalam gendongan Isma. Lalu dia merangkul tubuh Isma membantu Isma untuk sedikit bersandar.


"Sang putri juga mau digendong…" Menirukan suara bayi. Umi mendekatkan cucu dalam gendongannya pada Isma.


Segera saja Isma memberi kecupan sayangnya. Prince mengambil alih satu bayi dari gendongan Isma agar Isma bisa menggendong baby girl nya.


"Ini butuh tangan tambahan untuk menggendong cucu cucu Umi." Ujar Umi sekedar menggoda Isma dan Prince.


"Tidak perlu Umi. Prince saja sudah cukup untuk membantu Isma. Dan tentunya untuk satu bulan kedepan, Umi sama Abah dilarang pulang ke Bandung." Tegas Prince.


Abah dan Umi saling bertatapan, lalu dengan senang hati mereka menyetujui tawaran Prince.


"Dedeknya tiga?" Tanya Arsyid yang tadi hanya diam dalam gendongan Fitri.


"Iya sayang. Dedek bayinya banyak." Mendekatkan Arsyid pada ketiga bayi lucu dan menggemaskan itu.

__ADS_1


"Bawa pulang satu…" Rengeknya pada Fitri.


Semua orang tertawa mendengar rengekan Arsyid. Rupanya dia menginginkan dedek bayinya satu untuk di bawa pulang ke rumahnya.


"Bawa pulang saja, sayang. Tapi, dedek yang mana yang mau dibawa pulang?" Tanya Prince sambil mengusak lembut kepala Arsyid.


Telunjuknya mengarah pada dedek yang cewek. Ya, rupanya Arsyid tertarik pada dedek yang satu itu.


"Kalian belum mau memberi nama?" Tanya Arya pada akhirnya.


Prince terdiam saja. Dia masih belum menyiapkan nama sama sekali. Entah mengapa, belum pernah terpikir untuk mencari nama yang bagus untuk bayi bayinya.


"Kalau Abah yang memberi nama boleh tidak?" Sambung Abah.


"Tentu boleh, Bah." Sambut Prince semangat.


Sebentar Abah berpikir. Lalu menatap satu persatu cucu cucunya yang kini semuanya berada dalam dekapan hangat Isma. Dua bayi cowok digendong dg tangan kiri dan kanan. Sedangkan yang cewek berbaring tengkurap didada Isma.


"Ahmad Fazil, Ahmad Feisal dan Almahyra." Menyentuh bergantian bayi bayi itu sesuai nama yang diucapkannya.


"Fazil, Feisal… Rara." Ulang Prince membuat nama panggilan untuk anak anaknya.


"Bagaimana? Apa kalain tidak suka dengan nama itu?" Tanya Abah.


"Suka, Bah. Sangat suka." Jawab Prince dan Isma berbarengan.

__ADS_1


Lalu keduanya menatap wajah wajah mungil nan lucu menggemas itu serta berbisik memanggil nama mereka dengan penuh keharuan.


__ADS_2