
Pukul tiga dinihari. Isma terbangun karena merasakan ingin buang air besar. Prince membantunya kekamar mandi. Tapi, setibanya di kamar mandi. Isma malah menangis histeris merasakan sakit teramat sangat dan merasa ingin buang air kecil, tapi tidak mau keluar.
Prince benar benar khawatir. Dia segera menelpon teh Fitri. Sembari menunggu kedatangan teh Fitri. Prince membiarkan Isma berbaring bersandar pada dadanya. Prince mempraktekkan apa yang pernah diajarkan oleh dokter Maharani beberapa minggu lalu.
Prince meminta Isma membuka lebar kakinya sambil ditekuk. Lalu, prince membiarkan tangan Isma mencengkram erat pahanya yang menjadi tumpuan tubuh Isma. Tangan Prince terus mengelus dan mengurut pelan perut Isma.
"Mas... sakittt..." Teriak tertahan Isma sambil menangis.
"Sayang coba tarik napas, lalu hembuskan perlahan. Ayok…" Menuntun Isma untuk mengikutinya.
Isma pun mengikuti saran Prince. Tangannya semakin mencengkeram erat paha Prince yang sudah terasa perih. Tapi diabaikannya, karena yang dirasakan Isma jauh lebih sakit.
"Prince apa yang terjadi?" Fitri dan Arya datang menghampiri mereka di kamar yang dibiarkan terbuka.
"Teh, tolong Isma." Tangis Prince pecah.
Dia akhirnya menangis, karena tidak kuat melihat penderitaan Isma yang berjuang melahirkan bayi mereka.
"Bawa Isma kemobil. Kita kerumah sakit sekarang."
Arya membantu Prince mengangkat tubuh Isma kedalam mobil. Begitu tiba di mobil, air ketuban Isma pecah.
__ADS_1
"Cepat Mas, bawa mobilnya lebih cepat." Teriak Fitri meminta Arya menyetir lebih kencang lagi.
Prince menggenggam erat tangan Isma, Fitri memberi pijatan pada permukaan perut Isma.
Dak akhirnya, mereka tiba di rumah sakit. Keadaan rumah sakit sangat sepi. Karena sekarang jam tiga dinihari.
Isma segera dibawa ke ruangan bersalin. Hanya Prince yang diizinkan masuk untuk mendampingi Isma.
Selama proses persalinan Prince tidak henti hentinya beraholawat sambil menangis. Dia benar benar khawatir melihat penderitaan Isma.
"Dorong, dorong yang kencang." Saran dokter Maharani.
Isma mencoba mendorong sekuat yang dia bisa. Hingga akhirnya satu kepala bayi keluar melihat dunia. Dokter Maharani menarik pelan kepala bayi itu dan berhasil di selamatkan.
Tangisan bayi laki laki itu membuat Prince semakin terharu. Saat Prince ingin menyentuh bayi pertamanya. Bayi lainnya ikut lahir, dan tangisan dua bayi laki laki itu menghiasi ruangan persalinan. Membuat rasa sakit Isma sedikit berkurang.
"Satu lagi, mbak Isma dorong lagi yang kuat."
Tapi, Isma sudah tidak kuat, dia merasa sangat lemah. Prince semakin khawatir. Dia menggenggam erat tangan Isma dan meberinya ciuman di kening.
"Bismillah, Aarhhkk…" Teriak Isma dengan sisa sisa kekuatannya.
__ADS_1
Bayi terakhir berhasil dilahirkan.
"Selamat kali ini bayinya perempuan." Menunjukkan bayi terakhir yang lahir.
Segera Prince mengazankan ditelinga ke dua bayi lelakinya dan iqomah pada bayi perempuannya.
Sementara itu, Isma hampir kehilangan kesadarannya. Dia benar benar kehabisan seluruh tenaganya. Perawat membersihkan sisa sisa darah pada tubuhnya. Bayi mereka juga sudah dibawa untuk dibersihkan.
"Terimakasih sayang." Mencium bibir dan kening Isma.
Hanya senyum tipis dibibir Isma yang terlihat sebelum akhirnya Prince di usir dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaan Isma?" Tanya Fitri begitu melihat Prince keluar dari ruangan persalinan.
Bukannya menjawab, Prince malah terjatuh dilantai. Segera Arya merangkul tubuh lemah Prince. Fitri mulai khawatir dan berpikir yang aneh melihat keadaan Prince saat ini.
"Apa Isma baik baik saja?" Tanya Fitri lagi.
Prince mengangguk lemah dalam pangkuan Arya.
"Anakku sudah lahir, Mas, Teh. Kami sudah punya anak sekarang." Ucapnya berurai air mata.
__ADS_1
Arya dan Fitri pun ikut menitikkan air mata haru mendengar kabar dari Prince tentang kelahiran bayinya.
Bersambung…