Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Prince Cemburu!


__ADS_3

Pukul sebelas malam. Acara syukuran, berjalan dengan baik. Semua tamu sudah pada pulang. Abah sama Umi sudah tertidur lelap di sofa ruang tamu dengan Arsyid berada diantara mereka.


Fitri dan Arya mencuci piring di dapur. Katanya mereka tidak bisa tidur sebelum semuanya bersih. Sedangkan Isma dan Prince, sedang berduan dikamar mereka.


Isma bersandar dalam pangkuan Prince sambil menggenggam erat jari jemari tangan kiri Prince. Sedangkan Prince membelai lembut perut Isma sambil melantunkan surah-surah pendek yang dihafalnya.


"Adek jadi nggak sabar mau ketemu dedek lucu." Ujarnya.


"Mas juga, sayang. Tapi kita harus bersabar, Insya Allah kurang lebih tiga bulan lagi penantian kita untuk bertemu baby." Jelas Prince.


"Sehat-sehat ya sayangnya Bunda sama Ayah." Mengelus perutnya.


"Bunda juga, jaga kesehatan." Mencium kening Isma.


Driitt… driitt…


"Siapa yang menelpon." Tanya Isma sambil meraih ponselnya.


Matanya menatap layar ponsel. Disana tertera nama Bimo. Sebelum Isma menekan tombol hijau, Prince merebut ponselnya dan menjawab panggilan itu.


Isma terdiam kaget. Gerakan Prince sangat cepat, ekspresi wajahnya tampak sedikit kesal.


"Ha, kenapa Bimo?" Jawabnya.


"Prince?"


"Iya kenapa, kecewa karena bukan Isma yang bicara sama kamu?" Ujarnya sewot.


Kening Isma berkerut heran. Tidak biasanya Prince bersikap seperti itu. Begitu juga dengan Bimo. Dia heran mendengar ucapan Prince yang terdengar tidak suka padanya.


"Bukan begitu, Prince. Hanya saja…"

__ADS_1


"Apa? Apa kamu menybunyikan sesuatu dariku?"


"Tidak sama sekali Prince. Aku hanya ingin mengabarkan pada kalian, Rina sudah melahirkan."


"Benarkah? Kapan?" Tanya Prince antusias.


Wajah kecewa dan marahnya berubah menjadi lembut kembali. Bibirnya pun menyunggingkan senyuman.


"Sabtu pagi."


"Loh kenapa baru ngabari sekarang?"


"Ya, aku tahu kalian juga sedang sibuk menyiapkan acara syukuran tujuh bulanan."


Prince tersenyum, kembali tangannya mengelus lembut pipi Isma yang masih bersandar padanya.


"Ada apa Mas?" Bisik Isma penasaran.


"Selamat buat kalian. Rina dan bayi kalian sehat, kan?"


Mendengar Prince bertanya hal seperti itu, Isma semakin penasaran. Dia mendekatkan kupingnya ke ponsel yang ada ditelinga Prince.


"Alhamdulillah sehat semua. Terimakasih Prince. Semoga bayi kalian juga sehat selalu hingga hari persalinan." Ucapnya mendoakan.


"Thank you Bimo. Salam buat Rina dan juga bayimu. O iya, cewek atau cowok?"


"Sama-sama. Seorang putra kecil, mirip sekali wajahnya dengan ku." Jelas Bimo.


"Besok kita kembali ke Jakarta. Kita langsung mampir deh."


"Iya, selalu ditunggu kedatangan kalian."

__ADS_1


"Ok." Jawab Prince singkat langsung memutus sambungan.


"Rina lahiran, Mas?" Tanya Isma.


"Iya sayang. Pagi sabtu Rina lahiran."


"Jadi pas kita mau ke sini, Rina lahirannya berarti."


Prince mengangguk sambil membenarkan bantal di punggungnya. Lalu Prince menarik selimut untuk menutub tubuh Isma yang masih berada dalam pangkuannya.


"Kita tidur ya, Mas capek dan ngantuk juga."


"Iya. Tapi adek boleh kan tidur dengan posisi seperti ini?"


"Tentu sayang. Kalau tidak boleh sudah Mas pindahkan tubuh sayang ke sebelah sana." Menunjuk bantal kosong di sebelahnya.


Isma tersenyum senang, lalu dia sedikit memiringkan kepalanya, bersandar tepat didada kiri Prince.


"Adek senang mendengarkan detak jantung Mas." Ucapnya.


Prince mengelus kepala Isma lembut. Sedangkan satu tangannya digunakan untuk menepuk pelan punggung Isma, agar lebih cepat tidur dan merasa nyaman.


"I love you sayang." Bisik Prince.


"Love you too, Mas."


Merekapun terlelap. Begitu juga dengan ketiga bayi mereka dalam kandungan Isma. Sejak beberapa menit lalu, perut Isma terasa lapang, karena tidak lagi ada tendangan dan rasa gerasak-gerusuk.


Mungkin bayi-bayi nya juga sudah tertidur pulas. Mereka juga istirahat, karena merasa lelah setelah bergerak aktif hampir seharian.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2