Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Jangan sentuh aku


__ADS_3

Usai sholat Magrib, Isma teringat ingin menelpon Umi. Ada perasaan tidak enak dihatinya.


"Apa aku sudah merindukan Umi?" Ucapnya sambil meraih Iphone baru yang dibelikan Prince.


Begitu layar iphone itu hidup, begitu banyak notif yang masuk. Semuanya merupakan berita tentang pernikahan Prince dan Amanda yang sudah menjadi trending topik di seluruh Indonesia.


Dengan gemetar dan mata yang berkaca-kaca, Isma membaca berita tersebut. Semua penjelasan dan isi percakapan wawancara Amanda dan juga pengakuan Mama dan Papa, Isma membaca semuanya.


"Apakah aku dibohongi selama ini? Kenapa Mas Prince setega ini padaku?" Ucapnya.


Air matanya menetes, jarinya terus menskrol layar iphone miliknya itu. Semua hanya tentang analysis hubungan Amanda dan Prince yang terjalin secara diam-diam.


Pada saat itu, Prince kembali dari dapur hotel membawakan telur goreng pesanan Isma.


"Sayang. . . Ini telur gorengnya sudah siap. . ."


Prince melangkah mendekati Isma. Diletakkannya piring itu di atas nakas. Lalu Prince memeluk pinggang Isma dari belakang. Posisinya, saat ini Isma duduk di pinggir tempat tidurnya dengan membelakangi Prince.


"Sayang kok diam. Asyik banget sama iphone barunya." Celoteh Prince kesal karena dicuekin Isma.


Diambil alihnya Iphone itu, wajah Prince yang kesal itu menatap layar Iphone dan membaca berita yang sedang dibaca oleh Isma.


Matanya membelalak tajam, di skrollnya layar iphone itu dengan cepat. Prince membaca semua berita itu dengan perasan campur aduk.


Tangannya mengepal erat. Napasnya menggebu tak beraturan, kemudian. . .


Prraaakkksszzz. . .


Iphone baru itu kembali dilempar oleh Prince kesembarang arah. Semuanya hancur dalam sekejap.


Diraihnya tubuh Isma agar menghadap padanya. Dilihatnya mata Isma sudah penuh dengan air mata. Dipeluknya erat tubuh itu.


"Sayang. . . Semua itu bohong. Mereka berbohong. . . Demi Allah, kamulah satu-satunya istri Mas." Jelas Prince yang juga sudah berlinang air mata.


Isma tidak mengatakan apapun. Dia hanya terus menangis terisak dalam pelukan suaminya. Hatinya menolak untuk percaya pada berita yang dibacanya. Tapi, pikirannya juga menolak untuk percaya pada ucapan suaminya.


Isma bingung, dia sedih, dia tida bisa mengatakan apapun. Hatinya tersakiti. Namun, Isma tidak bisa menepis perasaannya yang begitu sangat mencintai suaminya.


"Sayang. . . Please. . . Percaya sama Mas... sayang jangan diam saja..."

__ADS_1


Prince melepas pelukan untuk melihat wajah Isma.


"Jangan menangis. . . sayang percaya kan sama Mas. Sayang tahu, Mama dan Papa tidak pernah mengizinkan Mas untuk masuk Islam dan menikah dengan sayang, karena itu mereka bersekongkol membuat kebohongan ini. . ." Jelas Prince mencoba meyakinkan Isma.


Perlahan tangan Isma bergerak. Dihapusnya air mata diwajah suaminya, lalu isma tersenyum meski air mata terus menetes dari pelupuk matanya.


"Aku mau pulang. . . Aku merindukan Abi dan Umi."


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Isma. Dan Prince mengangguk mengiyakan.


"Iya, kita pulang sekarang. Kita pulang. . ." Ucap Prince dengan senyuman dan juga mencoba menghentikan air mata di pipi Isma.


Lalu Prince melangkah, diambilnya tas Isma, dimasukkan mukena kedalamnya, lalu Prince kembali menghampiri Isma yang masih terdiam duduk dipinggir tempat tidurnya.


Matanya tak fokus, seakan sedang memikirkan sesuatu. Tangannya terasa sejuk, sedangkan seluruh tubuhnya terasa lemah. Isma tak sanggup berdiri. Dia tahu akan jatuh saat mencoba berdiri.


Tapi, meski begitu Isma akhirnya mencoba berdiri. Dan yang terjadi, Isma tak mampu menjaga keseimbangan tubuhnya hingga dia hampir jatuh.


Melihat itu dengan sigap Prince langsung menyambut tubuh Isma hingga mereka jatuh bersamaan kelatai. Isma jatuh tepat diatas tubuh Prince.


Tangis Isma pecah, tangannya mulai memukul pelan dada Prince yang sebenarnya sakit akibat hantukan kepala Isma saat jatuh tadi.


"Aku benci dibohongi. . . Kenapa Mas tega membohongiku. . ." Ucapnya sambil terisak.


"Tidak mungkin Mama dan Papa membohongi media hanya karena tidak menyukaiku. Setidaknya mereka akan mengatakan kalau kalian bertunangan bukan menikah." Teriaknya dalam tangis.


"Apa benar Mas sudah menikah dengan Amanda? Apa Mas hanya berbohong. . ." Isma menyadari sesuatu.


Segera dia bangkit dari tubuh suaminya itu. Isma menjauh. Dia berangsur dengan cara mengesot di lantai, hingga tubuhnya menepi di pojok ruangan.


Prince bingung melihat Isma yang tiba-tiba aneh dan menatapnya penuh amarah bukan lagi tatapan lembut penuh kesedihan seperti tadi.


Prince pun bangkit dan hendak melangkah mendekati Isma.


"Jangan. . . Jangan. . . Menyentuhku. . ." Teriak Isma sekuat tenaga. Dia menatap Prince penuh kebencian.


Tatapan itu seakan tatapan seorang wanita yang dendam karena diambil kesucian oleh pria yang dibencinya.


"Sayang. . . Mas tidak melakukan kesalah apapun. . . Mas tidak pernah membohongi sayang. . ." Jelas Prince menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Dia menangis sedih melihat istrinya menatap j**ik padanya.


"Jadi, kamu berani menyentuhku sementara kamu masih percaya pada tuhanmu?" Tanya Isma dengan menggertakkan giginya menahan segala kebenciannya.


"Ya Allah sayang. . . Demi Allah, aku mencintaimu. Aku menyentuhmu bahkan dengan doa." Tegas Prince tak terima dengan tuduhan Isma.


"Jangan membawa nama Allah, jika kamu sendiri tidak yakin pada Islam." Tegas Isma masih dengan emosi yang semakin menjadi.


"Isma, sebegitu rendahnya kepercayaanmu padaku?" Teriak Prince.


Dia melangkah mendekati Isma dengan penuh kemarahan dan rasa kecewa karena wanita yang paling dicintainya meragukan ke-Imanannya.


"Jangan mendekat. . . Jangan sentuh aku. . ." Teriak Isma memberontak dalam pelukan Prince.


"Jika orang lain meragukan ke Islmanku, tak apa. Tapi, jika itu kamu, aku sangat kecewa." Bisik Prince tegas dan juga menggertakkan giginya.


"Tanyakan apapun yang ingin kamu tanyakan. Aku sudah menjelaskan semuanya. Aku tidak pernah menikahi siapapun selain kamu. Kamu satu-satunya istriku Isma Ramadhani." Ucap Prince dengan masih terus memeluk erat tubuh Isma.


"Bohong, aku tida percaya. . . Mama dan Papa tidak mungkin memberi pernyataan bohong seperti itu di depan media." Ujarnya lirih sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Lepas. . . Lepaskan aku. Aku benci. . . Aku benci dibohongi. Lepas. . ." Teriaknya histeris.


Tanpa disadarinya, salah satu jarum di hijabnya menggores leher Prince. Sebenarnya sejal awal memeluk Isma, Prince sudah merasakan perih di lehernya.


Tapi, dia tidak mau melepas pelukan itu. Dia ingin terus berada dekat dengan istrinya meski sebenci apapun itu istrinya padanya. Karena masalah ini hanyalah kesalah pahaman semata.


"Kamu sudah berjanji akan terus menggenggam tanganku apapun yang terjadi. Tepati janji itu Isma."


"Aku tidak tahu. . . Aku tidak tahu siapa yang harus aku percaya. Aku tidak tahu apa yang terjadi tiga tahun lalu. Dan aku tidak bisa menepis rasa percayaku pada apa yang Mama dan Papa ucapkan di depan media. Mereka tersenyum bahagia, mereka bahagia dan mereka menyatakan sendiri kebenaran pernikahan kalian. . ." Tuturnya masih dengan kondisi menangis.


Prince menggeleng. Dilonggarkannya pelukan itu, karena rasa perih dilehernya semakin menyiksa.


"Tidak benar sayang. . . Percayalah. Mas tidak pernah membohongi sayang." Ucapnya lebih lembut sambil menahan rasa perih.


"Jika tidak benar. Harusnya Mama dan Papa tidak mengatakan seperti itu di depan media. Setidaknya, meski tak membantah mereka harusnya diam saja. Terlebih mereka tahu tentang pernikahan kita..."


"Mereka sengaja ingin memisahkan kita. Mereka ingin Mas kembali pada mereka." Teriak Prince tak kalah lantang dari teriakan Isma.


Mendengar itu sejenak Isma terdiam. Air matanya terus mengalir. Pikirannya mencoba mencerna apa yang dikatakan suaminya.

__ADS_1


Akankah Isma percaya pada suaminya. . .??


Bersambung. . .


__ADS_2