Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Tidur Bersama


__ADS_3

Jakarta.


Di salah satu Gereja, seorang Pastur berusia akhir 80 an tampak sedang melamun duduk berdoa di sana.


"Maaf menggangu Baba."


Seorang Lelaki setengah baya menghampirinya dan duduk di sebelahnya. Pastur itu pun menoleh dan tersenyum.


"Ada apa?" Tanyanya lembut.


"Saya sudah mencari tahu latar belakang keluarga istri cucu, Baba." Tuturnya.


"Apa yang kamu ketahui?"


Sebentar lelaki setengah baya itu mengatur napasnya. Lalu dia mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas sandangnya.


"Ini Baba, bacalah." Mengulurkan kertas itu pada Pastur.


Begitu kertas itu di ambilnya, matanya langsung menatap tulisan di atas kertas. Dia memang sudah tua, tapi penglihatannya masih sangat bagus.


"Benar dugaan saya. Cucu saya menikah dengan cucu dari Orang yang saya fitnah dan saya bunuh puluhan tahun yang lalu." Ucapnya lirih.


Ada pancaran penyesalan di matanya. Tubuh renta itu merasa gemetar hebat hingga tak mampu mengendalikan perasaan sesak di dadanya yang selalu menyimpan penyesalan sejak kejadian itu.


"Puluhan tahun saya berdoa memohon ampunan pada Tuhan. Saya berharap bisa menemukan salah satu keluarganya untuk menyampaikan perasaan menyesal dan permintaan maaf padanya." Sambungnya yang kini sudah menangis terisak.


"Baba, sebaiknya Baba istirahat." Saran pria itu.


Dia pun membopong tubuh lelaki tua itu menuju sebuah kamar di bagian belakang gereja. Di sinilah tempat Pastur tua itu menyendiri menyesali perbuatan jahatnya di masa lalu.


"Izinkan aku bertemu dengan mereka. . ." Ucapnya setelah tubuhnya berbaring nyaman diatas tempat tidur.


"Setidaknya pertemukan saya dengan cucu menantu saya." Sambunya sebelum dia mengalami kejang dan pingsan.


"Baba. . . Baba. . . Saya harus segera membawa Baba ke rumah sakit." Ucapnya khawatir.


Sebelum membawa postur tua itu ke rumah sakit, dia sudah mengirimkan pesan pada cucu Baba yaitu Prince.


Saat itu ba'da zuhur. Prince kembali melanjutkan pekerjaanya. Sedangkan Isma packing pakaian yang akan dibawanya untuk ikut Prince ke Korea. Mereka akan berangkat nanti sore ba'da Magrib.


"Mas, baiknya kita mampir dulu ke rumah Mama dan Papa." Ucap Isma pelan.


Jujur, Isma masih takut dengan amukan Prince beberapajam yang lalu. Sehingga sejak tadi, Isma hanya diam saja.


"Gak perlu sayang. Lagi pula, mereka sudah mengenal sayang, kan?" Jawab Prince tanpa menoleh.


Isma mengagguk. Benar, dua tahun lebih menjadi Sekretaris, Isma sudah mengenal keluarga besar Prince termasuk kakeknya yang Pastur itu. Hanya saja Isma belum pernah bertemu secara langsung, karena kakek tinggal di gereja.

__ADS_1


"Sayang. . . Masih lama packingnya?" Tanya Prince manja.


"Hampir selesai. Ada apa, Mas?"


Prince menepuk-nepuk kasur, mengisyaratkan agar Isma duduk di dekatnya.


Isma tersnyum. Dia mengerti apa yang dimaksud suaminya. Dengan segera Isma menghampiri dan duduk di samping suaminya itu.


Prince merebahkan kepalanya tepat di pangkuan Isma. Sepertinya, prince begitu suka berbaring seperti ini.


"Mas mau tidur siang, boleh?" Tanya Prince.


Tangannya meraih tangan Isma. Diletakkannya tangan Isma di atas kepalanya. Dibimbingnya tangan itu agar mengelus kepalanya.


"Mas suka saat kamu melakukan ini." Sambungnya.


Isma tersenyum, dengan senang hati dia nengelus kepala suaminya. Membelai rambut suaminya dengan lembut. Tangan Isma yang satunya ditarik Prince untuk saling berpegangan dan menetap tepat di dada Prince.


"Sayang. . . Maukah sayang melantunkan sholawat. . .?" Pinta Prince sambil menutup matanya.


Ismapun mulai bersholawat.


"Yaa Nabi salam 'alaika, Yaa Rosull salam 'alaika.


Yaa habib salam 'alaika, sholawatullah 'alaika."


Prince tersenyum, dia senang dan merasa tenang saat mendengar lantunan showat dari istrinya.


yaa mu'ayyadya mumajjad, yaa Imaamal kiblatainii"


Prince sudah tertidur lelap. Isma pun ikut mengantuk. Diraihnya bantal lalu diletakkan di punggunnya, lalu dia bersandar. Matanya juga sudah memejam dan mereka pun tertidur dengan nyenyak.


Ting. . .


Iphone Prince menerima notif. Tapi sayang, pemiliknya tidak mendengar. Dia tengah bermesraan dengan istrinya dialam mimpi.


Saat pasangan pengantin baru tertidur nyenyak. Di salah satu rumah sakit di Jakarta. Hudha Pratama, kakek Pince terbaring kritis di ruang ICU.


"Dokter, bagaimana keadaan Ayah saya." Tanya Mama Khawatir.


"Keadaan Baba semakin melemah. Saya rasa sudah sangat sedikit harapan untuk Baba, detak jantungnya semakin melemah. Yang saya rasa, seakan Baba ingin pergi, dia sudah melepas semua beban yang selalu membuatnya menahan sakit pada jantungnya." Jelas Dokter.


"Tidak, tidak. . . Pa, Baba pasti masih akan sembuh, kan?" Isak Mama dalam pelukan Papa.


"Ma, relakan Baba. Baba sudah bertahan cukup lama." Ucap Papa sambil mencoba menenangkan Mama.


"Kamu sudah menghubungi Prince?" Tanya Papa pada pria yang tadi membawa Baba ke rumah sakit.

__ADS_1


"Sudah, Mas. Saya mengirim pesan, di telpon tidak ada jawaban." Jelasnya.


"Ini nih yang saya khawatirkan. Prince bukan hanya pindah Agama, dia pun menikah dengan sekretarisnya itu. Dan sekarang dia bahkan semakin menjauh dari kita." Ujar Papa penuh rasa kecewa, marah dan juga merasa sedih.


"Apa perlu saya susul ke Bandung, Mas?"


"Tidak usah. Biarkan dia. Aku ingin Prince menyesal dan semua penyesalan itu diakibatkan oleh perempuan itu. Aku berharap, Prince akan membenci perempuan itu, karena dialah yang membuat Prince mengabaikan Kakeknya." Gertak Mama dengan kemarahan dan emosi yang meluap.


"Bagaimanapun caranya, aku akan memisahkan Prince dari perempun kampungan itu." Sambungnya.


Pria setengah baya yang merupakan juru hukum Baba hanya bisa diam. Dia tahu, jika Baba membaik Babalah yang akan memberi restu pada Prince dan cucu menantunya itu.


Permintaan terakhir Baba bahkan ingin bertemu dengan cucu menantunya.


'Tuhan, beri Baba kesempatan lagi. Saya akan mengabulkan keingin Baba untuk bertemu cucu menantunya. Amen' Batin Juru Hukum itu.


Dan, di sinilah cucu menantu Baba. Dia tertidur lelap dalam pelukan suaminya.


Ya, posisi tidur mereka telah berubah. Prince terbangun dan membuat istrinya berbaring nyaman berbantalkan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya memeluk erat tubuh mungil Isma.


"Ternyata, sayang sangat mungil saat berada dalam pelukan, Mas." Ucap Prince sambil menyibak rambut panjang Isma yang menutupi wajahnya.


"Sayang. . . Tetaplah tegar dan kuat. Jangan lemah. Sebab perjalanan kita masih sangat panjang. Teruslah menggenggam tanganku apapun yang terjadi." Sambung Prince.


Dikecupnya kening Isma, perlahan pindah ke matanya, lalu hidung, pipi dan akhirnya sebentar Prince berhenti. Diperhatikannya lekat-lekat bilah bibir lembut Isma yang kini mulai menjadi candunya.


"Semoga cinta kita karna Allah dan akan selalu saling mencintai hingga surga Allah." Ucapnya pelan.


Lalu Prince mendaratkan bibirnya tepat di bibir pacar halalnya itu. Isma bangun, dia kaget hingga matanya terbuka. Mata mereka kini saling menatap sangat dekat.


Jantung Isma berdegup cepat tak karuan. Kini dia tak bisa berkutik, Tubuh besar Prince berada tepat diatasnya. Isma takut, tapi juga ada perasaan senang.


"Maaf membangunkan, sayang. . ." Ucap Prince melepas kecupannya, kemudian dilanjutkan lagi.


Kali Prince menutup matanya dan memperdalam ciumannya. Merasakan Prince bertindak lebih, Isma pun kembali memejamkan matanya erat, dia pasrah dan ikut merasakan keindahan ciuman itu.


"Mas tidak akan bertindak lebih, sayang. . . Jangan takut. Mas akan menepati janji." Bisik Prince, sebelum akhirnya mengecup lagi bibir Isma sebanyak tiga kali dan mengakhiri perbuatannya.


Dipeluknya erat tubuh Isma. Kemudian mereka kembali diam dan memejamkan mata hingga kembali terlelap.


Bersambung. . .


Hai, Readerku ter sayang. . . 😍😍


Terimasih selalu setia membaca karyaku ini.


Jangan lupa Like, Komen dan juga favorite kan ya.

__ADS_1


Supaya tidak ketinggalan saat ada episode baru yang Up.


Komen kalian lah yang membuatku semakin semangat untuk terus berkarya. 😄😄😄


__ADS_2