
Di rumah sakit, Bimo duduk tidak tenang menunggu Rina yang sedang berjuang melahirkan buah hati mereka.
"Bapak Bimo?" Panggil seorang Suster begitu keluar dari ruangan bersalin.
"Saya Suster." Sahut Bimo.
"Selamat, Pak. Anak bapak sudah lahir. Istri bapak juga dalam keadaan baik." Jelasnya.
"Alhamdulillah ya Allah." Ucap Bimo senang.
"Mari ikut saya…" Ajak Suster itu.
Dengan langkah semangat Bimo mengikuti Suster menuju ruangan bersalin. Saat tiba disana, Dokter Maharani mendekatkan bayi kepada Bimo.
Air mata Bimo menetes, tangannya gemetar saat menyentuh tubuh mungil dalam gendongan Dokter.
"Selamat, Pak Bimo. Bayi anda laki-laki."
Air mata Bimo semakin deras, lalu tanpa menunda lagi Bimo segera azan di telinga kanan jagoannya itu. Sedangkan Rina, ikut terharu melihat Bimo dan bayinya.
Setelah di azankan, bayi mereka dibawa untuk dibersihkan. Sedangkan Rina yang sudah selesai dibersihkan, langsung dipindahkan keruangan lain. Bimo terus menggenggam erat tangan Rina sepanjang perjalanan menuju ruang kamar khusus.
Begitu Rina sudah nyaman berbaring di kamarnya, Suster-suster itu meninggalkan Bimo dan Rina.
"Sayang, terimakasih banyak." Mencium kening Rina.
"Aku mencintaimu, Mas." Ucap Rina.
Bimo terharu mendengar ucapan itu. Segera saja dia naik keatas tempat tidur Rina dan berbaring di sebelah Rina. Bimo membawa Rina dalam pelukannya.
"Maafkan Mas tidak bisa menemani sayang di ruang operasi."
"Tidak perlu minta maaf. Aku tahu mas takut darah." Membelai wajah Bimo.
"Kita bahagia hari ini. Bayi kita akhirnya datang." Isak Bimo terharu.
__ADS_1
"Iya, Mas. Bayi kita sudah datang." Mencoba menenangkan Bimo.
Sementara Bimo dan Rina tengah bahagia menyambut kedatangan putra mereka. Di Bandung, Isma dan Prince baru saja tiba. Mereka disambut hangat oleh Abah dan Umi.
"Selamat datang, menantu Abah." Sambut Abah memeluk Prince.
"Abi sehat?" Tanya Prince.
"Alhamdulillah, Abah selalu sehat. Terlebih saat Abah mendengar kabar cucu abi kembar tiga." Ucap Abah.
Prince tersenyum bangga.
"Prince juga bisa membuat cucu Abah jadi kembar lima." Bisik Prince.
"Wuiih, jangan." Ujar Abah menepuk bahu Prince.
"Kenapa jangan Abah?"
"Kasihan istri kamu. Bisa berabe dah tu saat melahirkan." Rutuk Abah.
Prince dan Isma tersenyum senang. Begitu juga dengan Umi dan Fitri.
Merekapun akhirnya masuk ke rumah.
"Berat gak, dek?" Tanya Fitri sambil membantu Isma untuk duduk.
"Tidak juga, Teh. Hanya saja, kalau yang satu nendang, yang lain ikut nendang. Jadi, rasanya perut adek seperti kena serangan gempa saat semua bayi menendang." Tutur Isma.
Fitri dan Umi tersenyum ngeri mendengar penjelasan Isma. Kemudian mereka mengelus perut Isma. Pada saat itu juga, terjadi tendangan bertubi-tubi.
"Waahh, Cucu Nenek luar biasa." Teriak Umi kaget saat melihat permukaan perut Isma bergerak karena tendangan bayi.
Semua tertawa senang. Dan mulai berbuat iseng pada Isma. Umi, Fitri, Arsyid, Abah dan Arya bergantian menyentuh perut Isma, sehingga membuat tiga buah hati Isma dan Prince bergerak aktif dalam perut Isma.
"Adeknya kapan keluar Ounty?" Tanya Arsyid.
__ADS_1
"Mmm, mungkin dua bulan lagi, sayang." Jawab Isma.
"Masih lama. Padahalkan aku mau cepat main sama adek bayinya." Rengeknya manja.
Mendengar rengekan lucu Arsyid, Prince menghampiri dan langsung menggendongnya.
"Main sama uncle saja dulu, mau tidak?" Bujuk Prince.
Arsyid mengangguk senang. Lalu dia memeluk erat leher Prince.
Baru kali ini Arsyid mau digendong Prince. Biasanya dia selalu bersembunyi saat Prince ingin menggendongnya.
"Teteh siapkan makanan dulu, lah. Kalian belum makan siang, kan?" Tanya Fitri.
"Belum. Adek lapar Teh. Ingin merasakan masakan Teteh." Rengek Isma.
"Siap, tuan putri. Aku akan segera menyiapkan makanan." Jawab Fitri sambil melangkah menuju dapur.
Umi juga mengikuti Fitri kedapur. Sedangkan Isma, digandeng Prince menuju kamar. Dia tahu, istrinya itu sangat lelah.
"Mas, Abah, aku antar Isma ke kamar dulu. Biar istirahat."
"Iya, silahkan. Kamu juga istirahat saja." Saran Arya yang disetujui oleh Abah.
Begitu tiba di kamar, Isma bukannya berbaring, malah mengeratkan pelukannya.
"Sayang kenapa? Bukannya capek, ya?" Melepas hijab Isma perlahan.
"Adek mau peluk Mas aja. Adek gak mau tidur." Merebahkan kepalanya diceruk leher Prince.
Prince mengelus lembut rambut Isma, lalu memberi kecupan dipuncak kepala Isma.
"Pelukannya sambil duduk atau berbaring saja, ya. Kalau berdiri, nanti adek capek." Bujuknya.
"Gak mau. Adek maunya gini aja."
__ADS_1
"Baiklah, tuan putri." Mengeratkan pelukannya.
BERSAMBUNG…