Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Season 2 (Chap 17)


__ADS_3

Studio Photo.


Arsyid sedang memotret satu keluarga yang menginginkan photo keluarga dengan hasil terbagus. Dengan senang hati Arsyid memotret mereka. Dia juga memberi arahan pada anggota keluarga itu untuk berpose dengan baik.


"Bersiap, ini photo terakhir." Memberitahukan pada mereka untuk tetap pada posisi yang sudah diaturnya dengan pose yang juga sudah terlihat bagus. "1,2,3…" Memetikkan kameranya untuk yang terakhir.


"Terimakasih, terimakasih." Mereka semua mengucapkan terimakasih pada Arsyid.


"Silahkan ikuti teman saya untuk membersihkan make up kalian dan mengganti pakaian. Hasil photonya akan segera dikirim saat selesai dicetak." Jelas Arsyid dengan senyum ramah yang tidak pernah luntur dari bibirnya.


Begitu ruangan pemotretan kembali hening, Arsyid duduk di sofa dan merebahkan punggungnya kesandaran sofa empuk itu. Dia merasa lega, setiap kali selesai melakukan pemotretan.


"Tidak terasa, ternyata sudah dua bulan berlalu." Ucapnya saat matanya menatap kalender di dinding.

__ADS_1


Dua bulan terakhir Arsyid memutuskan untuk melakukan pemotretan sederhana, seperti untuk keluarga, photo untuk anak anak sekolahan dan photo sampul buku. Padahal sudah hampir dua tahun, Arsyid menggeluti dunia photografer. Dia memotret model, dan banyak artis bintang papan atas juga. Tapi, saat ini dia memilih untuk istirahat dengan alasan sedang tidak dalam kondisi yang baik baik saja.


Banyak designer yang menawarkan pekerjaan dengan harga mahal padanya. Namun, semua ditolak dengan alasan yang sama. Ingin beristirahat untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.


Drrriittt…


Ponselnya berdering. Ada panggilan dari Prince. Segera saja Arsyid menjawabnya.


"Assalamualaikum, uncle. Ada yang bisa aku bantu?" Jawabnya.


"Di studio. Kenapa Uncle?" Mendengarkan dengan serius apa yang akan dikatakan Uncle Prince padanya.


"Datanglah ke sekolah Rara, Fazil, Feisal. Uncle masih di Kuala Lumpur. Mungkin akan pulang dalam dua minggu lagi. Mereka mendapat masalah. Uncle ingin kamu datang sebagai wali mereka." Jelasnya.

__ADS_1


"Baik uncle. Aku akan kesekolah sekarang." Arsyid langsung menaruh kameranya. Lalu dia pun bergegas menuju sekolah si kembar.


Sementara itu, ketiga saudara kembar itu tidak datang ke sekolah hari ini. Mereka menghabiskan waktu bermain di wonderland. Mereka berangkat ke Bogor pagi tadi ditumpangi Bimo yang memang kebetulan akan menyelesaikan masalah di hotel Bogor.


Awalnya Bimo ragu untuk menjemput mereka. Tapi, mereka memohon dengan cara yang menggemaskan. Hal itu membuat Bimo tidak pernah bisa tahan untuk tidak mengikuti apa yang mereka minta. Bimo juga diminta oleh mereka untuk tidak bicara pada siapapun tentang keberadaan mereka di Bogor.


"Sangat menyenangkan." Teriak Feisal yang kini berada di peluncuran berbelok, tinggi dan sangat panjang itu. "Maafkan Feisal Ayah… Bunda…" Teriaknya dengan perasaan bersalah.


Sedangkan Rara, dia duduk di pinggir kolam renang yang designnya tampak seperti pantai. Dia menunggu Feisal meluncur di depannya. Dan Fazil, saat ini berenang bebas di kolam terdalam yang jauh dari hiruk pikuk pengunjung.


"Kak, Gabriel?" Panggil Rara melalui ponselnya.


"Ini siapa ya?" Suara seorang wanita menyahut panggilan Rara. Hal itu membuat raut wajah bahagia Rara berubah menjadi sedih.

__ADS_1


"Adiknya. Dan, kalau boleh tahu mbak ini siapa ya?" Tanya Rara terbata menahan perasaan yang berkecamuk dihatinya.


"Oh kamu pasti Rara, kan?" Tebak Wanita itu yang membuat Rara semakin tidak mood. "Aku Elya, teman dekat Gabriel. Eh iya, aku senang bisa mengobrol dengan Rara. Gabriel selalu menceritakan tentang kamu. Katanya kamu adiknya yang paling lucu dan sangat dia sayangi." Tutur wanita itu tampa mengetahui suasana hati Rara.


__ADS_2