
Akhirnya, Isma dan ketiga bayinya tiba di rumah. Rumah sangat bersih dan rapi. Ya Prince membayar orang untuk membersihkan rumah dan mengatur kamar untuk ketiga buah hatinya.
Fazil, Feisal dan Almahyra dibaringkan di tempat tidur yang didesign khusus sejak jauh hari oleh Prince. Umi membantu Isma melangkah menuju tempat tidurnya. Abah dan Prince memperhatikan tiga bayi yang kini tertidur nyeyak itu.
"Abah sangat bahagia. Mendapatkan cucu dari kalian. Abah juga malu pada diri Abah sendiri." Tuturnya mulai bersedih.
"Kenapa, Bah?" Mendekati Abah dan merangkul bahu Abah.
Tangis Abah pecah. Dia menangis dibahu Prince. Heran melihat Abah tiba tiba menangis membuat rasa khawatir dalam diri Prince.
"Abah sempat memisahkan kalian. Abah bahkan dulu sangat membencimu. Maafkan Abah, nak. Maafkan Abah..." Tangisnya penuh penyesalan.
"Abah tidak usah meminta maaf. Prince tidak pernah merasa apa yang Abah lakukan itu salah. Abah melakukan semua itu untuk melindungi putri tercinta Abah. Mungkin Prince akan melakukan hal yang sama untuk melindungi anak anak Prince." Memberi pengertian untuk menenangkan Abah.
"Isma tidak salah memilihmu. Dia benar, kamu seorang laki laki bertanggung jawab yang bahkan rela kehilangan segalanya demi melindungi Isma." Puji Abah yang sudah mulai berhenti menangis.
"Allah yang memilihkan Isma untuk Prince, Bah. Sesungguhnya Prince yang sangat beruntung diizinkan untuk hidup bersama Isma dan menjadi bagian keluarga Abah." Memeluk Abah.
"Maafkan Prince yang mungkin waktu itu juga berlaku egois hingga membuat Abah menderita dalam kesakitan."
"Tidak, nak. Kamu sudah melakukan yang seharusnya kamu lakukan. Andai saat itu kamu menyerah, maka Abah akan sangat menyesali hal itu saat ini."
__ADS_1
Keduanya saling berpelukan menumpahkan rasa bersalah dan penyesalan akibat keegoisan dimasa lalu.
Sementara itu, Isma merasakan sakit pada dadanya akibat ASI yang terus menetes. Umi membantu Isma menampung ASI dengan cara mengurut pelan dada Isma bergantian sebelah kanan dan kiri.
"Apa mereka masih tidur, Umi?" Menanyakan anak anaknya.
"Iya, dek. Mereka masih tertidur pulas. Mereka masih kenyang karena sudah menyusu dengan puas tadi dimobil." Jelas Umi.
"Tapi ini sakit Umi. Rasanya tetesannya tertahan kalau tidak terus diurut." Keluh Isma.
"Sabar ya sayang. Menjadi seorang ibu itu memang seperti ini. Tapi, Allah akan melipat gandakan pahalanya kalau kamu sabar menjalani semua ini." Bujuk Umi.
"Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah." Menyadari keluhannya yang ternyata tidak baik.
Meninggalkan keluarga Isma. Di rumahnya, Rina sedang kerepotan karena Azam yang rewel sejak pagi tadi. Sedangkan Bimo tidak dirumah sejak kemarin. Dia sedang di Bogor mengurus beberapa masalah di perhotelan.
"Sayang, kenapa nangis terus. Mama bingung bagaimana membuat Azam diam." Menggendong Azam dengan perasaan khawatir.
Drriitt...
Panggilan dari Bimo. Segera Rina menjawabnya.
__ADS_1
📱"Mas, ada apa?"
📱"Apa Azam rewel?"
📱"Iya. Dia nangis terus sejak pagi tadi. Aku bingung, Mas."
📱"Tenang ya sayang. Mas dalam perjalanan pulang."
📱"Loh bukannya Mas baru bisa pulang dua hari lagi?"
📱"Tadi Prince telpon. Katanya Mas disuruh pulang. Isma sudah melahirkan tiga hari yang lalu, dan hari ini sudah dibawa pulang." Jelasnya.
📱"Lahiran tiga hari lalu? Kok kita baru dikabari sekarang." Rutuknya sedikit kesal.
📱"Prince sangat khawatir saat itu sayang, makanya dia lupa mengabarkan pada kita."
📱"Ya sudah. Kalau begitu Mas cepat pulang. Aku siap siap dulu, kita langsung ke rumah Isma."
Panggilan berakhir. Azam berhenti menangis. Matanya menatap wajah Rina dan bibirnya tersenyum.
"Loh jagoan Mama kok tiba tiba senyum?" Menciumi wajah mungil dalam gendongannyan.
__ADS_1
"Senang ya, mau bertemu dedek bayi nya Aunty Iis dan Om Prince?" Mencium lagi dan lagi.
Benar, Azam langsung diam dan anteng saja saat Rina bersiap untuk berangkat ke rumah Isma.