
Hari ini Fazil tiba lebih awal di sekolah. Dengan langkah lesu dia menuju kelasnya.
"Hei, Keni. Aku kira aku datang paling awal. Rupannya kamu sudah lebih dulu." Sapa Fazil.
"Sengaja datang awal untuk mengerjakan ini!" Menunjukkan buku pr pada Fazil.
"Pr Apa?" Meletakkan tas diatas meja.
"Pr Geografi." Jawabnya singkat, kemudian melanjutkan tulisannya.
Fazil hanya mengangguk saja dan ikut duduk di kursi samping Keni. Mereka memang duduk bersampingan, tapi tetap dengan jarak yang agak jauh.
"Kenapa kamu menyembunyikan bahwa kamau itu pintar?" Tanya Fazil memulai pembicaraan.
"Aku tidak pintar kok." Kilahnya.
"Terus jawaban kemarin itu apa?" Penasaran.
Sebentar Keni diam, lalu perlahan dia berhenti menulis. "Aku takut. Makanya aku pura pura tidak bisa mengerjakan soal soal yang diberikan guru selama ini." Jelasnya.
__ADS_1
"Kenapa takut? Bukankah menjadi siswa yang pintar adalah sebuah kebanggaan?"
"Mungkin bagi kebanyakan orang pintar memang menjadikan mereka bangga. Tapi, bagiku kepintaran merupakan petaka saat diketahui banyak orang."
Fazil semakin tidak mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh Keni. Dia tidak mengerti, mengapa Keni malah menjadi takut karena dia pintar.
"Kamu aneh. Setiap orang ingin menjadi pintar agar bisa menjadi kebanggaan bagi orang orang terdekat mereka. Lah kamu malah mengatakan kepintaran adalah petaka." Ujar Fazil tidak mengerti dengan jalan pikiran Keni.
Keni hanya diam, dia melanjutkan mengerjakan Pr yang harusnya dikerjakan dirumah, tapi dia malah mengerjakannya di sekolah.
"Cie cie… yang pagi pagi sudah berduaan." Goda teman sekelas mereka yang mulai berdatangan satu persatu.
"Aneh, pagi pagi sudah tidur." Ujar Keni yang sudah selesai mengerjakan pr nya.
"Pagi semua. Ada Fazil nggak." Dengan percaya diri Azam memasuki kelas IPS 3 untuk menemui Fazil.
Semua mata siswi menatap kagum padanya. Mereka tidak menjawab pertanyaan Azam, malah menatapnya dengan tatapan penuh kegembiraan.
"Fazil disini!" Seru Keni saat tidak ada yang ingin menjawab Azam. Dan mata Azam mulai menoleh kearah suara Keni. Lalu dia tersenyum saat melihat Fazil.
__ADS_1
"Azam, maukah kamu jadi pacarku?" Sebelum Azam melangkah kedekat Fazil, dia sudah lebih dulu dihadang dengan kedatangan seorang cewek yang tiba tiba berlutut dihadapannya dengan mengulurkan sekotak coklat.
"Terima, terima, terima." Suara riuh dari teman teman sekelas Fazil yang meminta Azam menerima pernyataan cinta salah satu cewek yang datang dari kelas sebelah.
Suara riuh itu mengganggu tidur Fazil. Dia pun membuka matanya dan melihat kearah cewek yang berlutut didepan Azam. Dengan langkah cepat Fazil mendekati Azam. Segera saja dia mengambil kotak cokelat dari tangan cewek itu. Hal itu membuat sicewekpun langsung berdiri.
"Up sorry. Tapi Azam sudah punya pacar." Ucap Fazil yang langsung memakan cokelat dari kotak tersebut.
Hal itu membuat cewek itu menatap penuh amarah pada Fazil, sedangkan Azam hanya tersenyum menggeleng gelengkan kepala melihat Fazil menikmati cokelat.
Plaakkkk…
Seketika pipi Fazil terkena tamparan dari cewek itu. Dengan kemarahannya dia merebut kembali kotak cokelatnya dan keluar dari kelas itu.
"Zil, are you ok?" Azam memeriksa pipi Fazil yang terkena tamparan si cewek. Sementara yang ditampar hanya terdiam dengan tatapan kosongnya.
"Pasti sagat sakit." Ujar seorang teman sekelas Fazil.
"Sakitnya tidak seberapa, justru malunya itu loh." Teriak yang lain mulai meledek Fazil.
__ADS_1
Sedangkan Keni hanya terdiam menatap mata Fazil yang menatap kosong kedepan. "Sudah aku bilang, kan. Percuma menolong orang, karena orang lain akan menganggap pertolonganmu sebagai pecundang." Celoteh keni sangat pelan. Dia prihatin dengan keadaan Fazil saat ini.