Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Takut kehilangan


__ADS_3

Ketakutan Arya dan Umi benar jadi kenyataan. Abi kembali menjadi terkurung dalam traumanya. Rasa bencinya semakin besar pada non muslim, karena belum juga bisa menemukan Isma.


"Kalau kamu tidak mau mencari adekmu ke Korea. Abi sendiri yang akan mencarinya." Tegas Abi.


"Abi kita harus sabar, bukankah Prince bilang mereka di Korea selama sebulan…" Jelas Arya.


"Kamu mau menunggu sampai Prince membunuh adikmu?" Teriak Abi tak terima.


"Tidak mungkin Prince melakukan itu Abi. Prince sangat mencintai Isma." Sahut Umi yang sejak tadi duduk diam memegangi foto Isma.


"Lalu mengapa sampai saat ini kita tidak bisa menghubungi Isma? Kenapa juga Prince tidak bisa di hubungi?" Ujar Abi.


Perkataan Abi membuat Umi khawatir. Dipeluknya foto Isma erat. Air matanya mulai menetes.


Arya hanya diam. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Dalam hatinya, Arya begitu marah pada Pince karena menghilang begitu saja setelah berita pernikahannya dengan Amanda tersebar.


"Cari wanita bernama Amanda itu. Dia pasti tau dimana Prince." Saran Abi.


Sebentar Arya menoleh kearah Umi yang menangis, kemudian Arya menatap Fitri yang sejak tadi hanya diam.


Ya Fitri selalu diam saat membahas Prince dan Isma.Dan itu membuat Arya menaruh curiga. Hanya saja selama ini dia ingin Fitri bicara langsung padanya tanpa dia bertanya.


Namun, kali ini diam Fitri sudah terlalu lama. Arya pun akhirnya memutuskan untuk menanyakan hal itu.


"Sayang, kita harus bicara." Ucap Arya.


Dia langsung menarik Fitri menjauh dari Abi dan Umi.


"Mas tahu, ada yang kamu sembunyikan selam ini, kan?" Tanya Arya.


Fitri diam, dia tak tahu harus bicara apa. Akhirnya Fitri menghambur dalam pelukan suaminya. Tangisannya pecah.


"Sayang, kamu kenapa? apa yang terjadi, ceritakan?"


Arya membalas pelukan itu, tidak lupa memberi tepukan di punggung istrinya.


"Jangan pisahkan Isma dari Prince." Ucapnya.


Mendengar itu sontak Arya melepaskan pelukan itu.


"Sayang tahu dimana mereka?"


Fitri mengangguk.


"Mereka baik-baik saja, Mas. Isma bahagia bersama Prince." Sambungnya dengan masih terisak.


"Dimana mereka? Di mana Prince menyembunyikan Isma." Bentak Arya.


Fitri terkejut. Dia tak menyangka akan di bentak oleh suaminya.


"Mm. . .Maass…"


Fitri gemetar ketakutan. Mungkin karena ini kali pertama di bentak oleh suaminya.


"Jawab. Dimana Prince sekarang." Bentak Arya lagi.


Fitri menangis. Tubuhnya terduduk lemah di lantai. Sedangkan Arya kini malah terpancing emosi. Matanya memerah, dan Fitri tahu, trauma suaminya kembali lagi.

__ADS_1


"Dimana mereka. . . " Ucap Arya datar, menatap Fitri dengan tatapan mengintimidasi.


"Kko... Kore… aa." Jawabnya terbata.


Arya langsung berlari pergi meningglkan Fitri yang masih menangis ketakutan.


"Mas… Mas maafkan aku." Teriaknya sambil menangis.


Mendengar tangisan Fitri, Umi pun langsung menghampirinya. Sedangkan Abi masih diam menahan amarahnya di tempatnya semula. Dan Arya, dia sudah bergegas pergi meninggalkan rumah.


Entah kemana tujuan Arya. Yang jelas dia ingin segera menemukan Isma.


Di Korea.


Isma dan Prince sedang bercanda tawa saling gelitik di ruang tengah apartemen mereka.


"Adek duluan yang gelitik Mas." Ucap Prince sambil berusaha menangkap Isma yang berlari karena tak mau digelitik oleh suaminya.


"Hahaaahaaa. . . Geli, ampun… ampun, hahahhahaaa geli Mas. . ." Tawa Isma saat akhirnya mendapat balasan dari Prince.


"Adek jangan jahilin Mas lagi. Janji gak?" Tegas Prince sambil mencubit pelan pipi dan hidung Isma.


"Iya. Adek janji, Mas."


Prince menatap mata Isma dalam, begitu juga sebaliknya. Perlahan Prince mendekatkan wajahnya ke wajah Isma. Dan merekapun terlarut dalam ciuman hangat penuh cinta.


"Sayang, kita gak usah pulang aja, ya." Ucap Prince di sela ciuman mereka.


"Kenapa Mas? Adek rindu sama Umi dan Abi." Rengek Isma.


"Adek telpon Umi saja, ya. Kalau Umi sama Abi baik-baik saja, kita gak usah pulang." Saran Prince.


"Banyak orang yang ingin mengambil sayang dari Mas, di Jakarta. Di Korea kita akan baik-baik saja, sayang." Jelas Prince.


Isma tersenyum, di belainya lembut wajah suaminya. Lalu Isma memberi ciuman di dahi suaminya itu.


"Mas, tidak ada yang bisa memisahkan kita. Hanya Allah yang berhak memisahkan kita. Jangan jadikan rasa takut Mas membuat Mas menjadi lemah dan lengah."


"Iya, adek betul. Tapi Mas hanya tidak ingin adek menderita karena terbawa emosi saat orang-orang menyebar berita kebohongan lagi." Ucap Prince.


Senyum terukir lagi di wajah Isma. Lalu dia memberi pelukan hangat menenangkan untuk suaminya.


"Kita serahkan semuanya pada Allah, Mas. Selama kita saling percaya dan tetap berpegangan tangan. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja."


Prince tersenyum tenang mendengar kata-kata menenangkan dari Wanitanya itu.


"Adek sayang. . ., Mas mau itu. . . Boleh?" Tanya Prince tiba-tiba.


Pertanyaan itu membuat Isma merona. Dia langsung melepas pelukannya dan menjauhkan diri dari suaminya.


"Ya udah, kalau gak boleh juga gak apa. . ." Ucap Prince kecewa.


Dia mempoutkan bibirnya, berlagak manja dan membuat ekspresi wajah menggemaskan.


Isma tersenyum melihat tingkah suaminya yang merengek manja itu.


"Sejak kapan Mas bertanya terlebih dahulu. Biasanya juga gak pernah nanya." Ujar Isma.

__ADS_1


Dia melangkah menuju kulkas. Mengambil minuman dingin. Karena entah mengapa tenggorokannya terasa kering.


"Sejak hari ini lah. Mas maunya sayang juga mau. Bukan karena terpaksa." Celotehnya.


Dahi Isma berkerut. Alisnya bahkan hampir menyatu.


"Sejak kapan adek terpaksa, Mas. Adek gak pernah merasa terpaksa kok." Bantahnya.


"Yaudah kalau gitu ayok. Lagian bagus loh dek, kalau kita beribadah sekarang. Adek kan baru selesai udzur nya. Jadi, sedang masa suburnya. Siapa tahu Allah langsung nitip dedek untuk kita." Tuturnya dengan nada suara manja.


Isma tersenyum. 'Lucunya suamiku.' Batinnya.


Kemudian Isma mendekati Prince. Dia duduk dipangkuan suaminya itu. Sedangkan kedua tangannya melingkar indah di pundak suaminya.


"Gendong adek ke kamar. Sekarang." Bisik Isma yang terdengar menggoda di telinga Prince.


"Siap tuan putri." Jawab Prince.


Dia langsung menggendong Isma menuju kamar. Kemudian, dibaringkannya tubuh Isma di atas tempat tidur. Lalu, tidak lupa Prince mengecup puncak kepala Isma.


Sebentar mereka melafadzkan doa sebelum beribadah. Agar terhindar dari campur tangan syaiton dan agar mendapat pahala serta diberi keturunan yang sholeh dan sholehah.


Meninggalkan Prince dan Isma yang sedang menikmati ibadah mereka. Di Jakarta, Rina sedang terbaring lemah di atas tempat tidurnya.


Beberapa hari ini, dia mengalami mual dan pusing. Serta sering muntah. Bimo sudah membawakan dokter untuk memeriksa keadaan istrinya.


Hasilnya, Rina positif mengandung bayi mereka. Dan sudah memasuki minggu ke tiga.


"Sayang, terimakasih." Ucap Bimo.


Dipeluknya erat tubuh lemah itu. Diciumi seluruh wajah Rina berkali-kali oleh Bimo.


"Sebahagia itukah suamiku ini?" Tanya Rina.


"Lebih bahagia dari ini sayang." Jelas Bimo sambil mencium perut Rina yang masih datar itu.


"Mas, geli. . Ahh." Protes Rina saat di rasa kumis tipis Bimo menyentuh area perutnya tanpa berlapis sehelai benangpun.


Ya Bimo menyibak bagian baju di perut Rina. Dia ingin melihat dan merasakan karyanya yang kini telah singgah di rahim Rina.


"Semoga Allah selalu melindungi kita. Dan semoga, dedeknya selalu bertumbuh dengan cepat dan sehat di dalam sini." Ucapnya, dengan kembali menciumi perut Rina.


Rina tersenyum lega. Betapa bahagianya, karena akhirnya diberi amanah oleh Allah.


Tangan Rina membelai lembut kepala Bimo yang masih betah mendusel di perutnya.


"Nanti, dedek jangan buat Mama mengidam yang aneh-aneh ya sayang." Mulai berdialog dengan dedeknya.


"Terserah dedek dong, Papa." Jewab Rina dengan menirukan suara anak kecil.


"Gak boleh gitu dong, dek. Nanti kalau Papa gak bisa menuhi ngidamnya Mama gimana?"


"Ya, dedek sedih." Sahut Rina.


"Baiklah. Papa akan berusaha memenuhi semua ngidam Mama. Demi dedek dan Mama yang sangat Papa sayangi." Mencium lagi perut Rina.


Sebenarnya, Rina merasa sangat geli saat Bimo mencium perutnya. Dia ingin protes dan menghentikan Bimo mencium perutnya. Tapi, semua itu di tahannya. Dia tidak ingin kesedihan terukir di wajah suami tercintanya itu.

__ADS_1


Bersambung. . .


__ADS_2