
Sepanjang perjalanan, Isma hanya diam mendengarkan musik yang sengaja di stell keras olehnya.
Drriiittt… ddrrriiitt…
Ponselnya berdering, ada panggilan dari Teh Fitri. Dan Isma langsung menjawab.
"Teteh. . .Aku di jalan mau ke Jakarta." Ucapnya girang.
"Sendirian?"
"Iya. Oh ya, Arsyid mana?"
"Ikut mas mu. Dia gak mau ikut sama Teteh."
"Loh, mas kan kerja?"
"Iya. Arsyid ikut mas ke kantor. Hampir setiap hari."
"Apa gak ganggu kerjaan, mas?"
"Katanya tidak. Arsyid selalu senang bermain sama rekan kerja masmu. Jadi, gak merepotkan sama sekali, katanya."
"Teteh di rumah sakit?"
"Iya dek, sejak di pindah tugaskan ke RS Jiwa, Teteh kerja setiap hari. Dan setiap hari juga Teteh berinteraksi dengan pasien yang terganggu psikisnya."
"Teteh wanita luar biasa. Mas Arya aja bisa sembuh dari traumanya, apa lagi pasien lainnya." Puji Isma.
"Tapi Teteh masih belum bisa menyembuhkan Abi, dek." Ujarnya sedih.
"Tidak apa, Teh. Yang penting sekarang abi suda sagat jarang membahas soal itu. Abi juga tidak lagi seposesif dulu. Sekarang Abi mengizinkan Isma berteman sama non muslim kok Teh."
"Iya sih dek, tapi tetap aja. Teteh khawatir sama kebahagiaan kamu."
"Kebahagiaan adek? Memang apa hubungannya dengan kesembuhan ku, Teh. Toh adek yakin Allah siapkan jodoh yang seiman kok dg adek. Adek yakin itu."
"Ya, teteh tau. . . Tapi bagaimana kalau jodoh adek seorang mua…"
Fitri tidak melanjutkan ucapannya. Dia tidak ingin melanggar janjinya pada Isma untuk tidak lagi bertanya atau membahas tentang Prince.
"Mua. . . Apa, Teteh??" Tanya Isma penasaran.
"Ah nggak, Teteh menguap, ngantuk." Kilahnya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau gitu, Teteh tidur aja dulu bentaran." Saran Isma.
"Mau gitu, tapi gak boleh, teteh kan lagi kerja. Eeh dek, bentaran teteh cuci muka dulu. Jangan di tutup dulu ya. Teteh masih mau ngobrol."
"Iya Teteh."
Isma masih terus mengemudi dengan kecepatan sedang. Dan Fitri sudah berlari menuju toilet. Sedangkan HP miliknya diletakkan diatas meja kerjanya.
Selama Fitri berada di kamar mandi, dua dokter cantik lainnya memasuki ruang kerjanya.
"Mbak Fitri. . ." Panggil mereka.
"Kemana dia?" Tanya Dokter 1.
"Mungkin Toilet. Nih HP nya ada di atas meja." Ucap Dokter 2.
Mereka pun memilih duduk di di sofa tepat di depan meja kerja Fitri, sambil menunggu.
"Eh, kemaren kan aku ke Bogor. Sengaja liburan sama adikku." Dokter 1 mulai bercerita.
"Wah, pasti seru. Kapan-kapan ajak aku dong." Sahut Dokter 2.
"Iya, kalau kita ada waktu libur berdua. Tapi, gini deh. Aku mau cerita tentang pemiliknya. . ."
"Iyalah. CEO ganteng itu. . ." Teriaknya girang.
Tanpa mereka sadari, Isma mendengar pembicaraan itu melalui HP Fitri yang masih tersambung.
Dan yang terjadi, Isma memperpelan laju mobilnya. Begitu mendengar wonderland. Isma menambah volume panggilan agar terdengar jelas pembicaraan kedua dokter itu.
"Maksudmu si Prince itu??" Tanya dokter 2.
"Iya lah, siapa lagi."
"Loh, bukannya dia di Korea?"
"Memang, sejak bercerai dia langsung pindah ke Korea."
Mendengar kata bercerai, membuat Isma semakin penasaran. Dia pun menepikan mobilnya. Mematikan mesin mobinya, dan fokus mendengar pembicaraan kedua dokter itu.
"Siapa bilang mereka bercerai?" Tanya dokter 2.
"Loh, kamu ketinggalan berita. Setelah bayi yang di kandung istrinya itu lahir. Prince langsung menceraikannya dan dia pun pindah ke Korea."
__ADS_1
Isma terdiam masih mendengarkan. 'Mereka bercerai?' Batinnya.
"Dan mantan istrinya itu sudah menikah lagi dengan ayah kandung anaknya." Tuturnya panjang lebar.
"Jadi benar, wanita itu mengandung dari pria lain. Kasian Prince." Ucapnya sedih.
"Andai Prince mau menatapku sebentar saja. Aku akan berjuang untuk menikahinya." Ujar Dokter 1 penuh semagat.
"Mimpi kali. Memangnya kamu mau menikah dengan lelaki beda iman." Ejek dokter 2.
"Eh sembaragan. Tau gak sih, Prince mualaf sekarang."
"Masak?"
"Iyalah. Kamaren itu aku gak sengaja lihat dia sholat di mushola dekat hotel. Udah tampan, kaya raya, sholeh lagi. . ." Puji Dokter 1 sambil membuat ekspresi penuh harapan dan kegirangan.
"Ya kali Prince mau sama kamu. . ."
Mereka akhirnya saling mengejek dan kemudian tertawa bersama. Dan pada saat itulah Fitri kembali dari toilet.
"Kalian sudah lama menunggu? Sorry, aku ngantuk banget. Jadi cuci muka dulu." Jelas Fitri.
Kedua dokter itu hanya mengangguk sambil tersenyum-senyum malu. Sedangkan, Fitri mengambil lagi HP miliknya.
"Dek, maaf Teteh kelamaan ya?"
"Ta..kk a..pa kok Teh." Ucapnya sedikit gagap.
Isma melanjutkan perjalanan. Entah mengapa, mendengar kabar Prince membuat hatinya tak menentu. Ada perasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan.
'Ya Allah kenapa lagi ini hatiku. . . Wahai hati tenanglah.' Batin Isma.
"Dek, sepertinya ngobrolnya kita lanjut nanti saja, ya. Teteh harus kembali kerja."
"Iya, Teh. Semangat kerjanya. Sampai ketemu nanti di Jakarta."
Isma mengakhiri pembicaraan mereka. Dan hatinya masih tak menentu. Isma menambah laju mobil, lalu yang lebih aneh terjadi. Bulir bening menetes dari pelupuk matanya.
"Ini air mata kenapa netes, sih. Ya Allah tenangkan hatiku." Ucap Isma sambil menghapus air matanya yang semakin deras.
Air mta itu bahkan menghalangi matanya menatapi jalanan di depan sana.
Bersambung. . .
__ADS_1