Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Olahraga Pagi


__ADS_3

Isma terbangun saat azan subuh berkumandang. Dia terkejut melihat mata Prince menatap lemas padanya. Kantong matanya terlihat hitam seperti mata panda.


"Mas kenapa? Apa Mas tidak tidur semalaman?" Menyentuh wajah pucat dan lelah Prince.


Bukannya menjawab Prince malah menyelipkan kepalanya dalam pangkuan Isma. Isma yang mengerti pun langsung mengelus kepala Prince yang kini berada diatas perutnya.


"Kenapa Mas tidak membangunkan adek tadi malam? Sekarang sudah subuh loh Mas!"


"Mas gak mau ganggu istirahat sayang." Menarik kembali tubuh Isma untuk berbaring.


"Azan baru berkumandang. Kalau Mas mau sebentar saja. Khawatirnya kita bisa telat subuhnya." Saran Isma.


"Mas janji hanya sebentar, sekedar melepasnya saja. Mas tersiksa sayang." Rengeknya manja dan memulai kegiatannya.


Prince melakukan dengan sangat hati hati dan hanya sebentar seperti janjinya. Setelah itu mereka mandi berasama dan melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Sementra itu, Umi dan Fitri sudah sibuk menyiapkan sarapan didapur. Abah sudah berdialog dengan motornya diluar sana. Sedangkan Arya kembali tidur disamping Arsyid usai sholat subuh tadi.


"Tumben adekmu belum bangun?" Ucap Umi heran.


"Tadi malam Prince mengompres perutnya. Katanya adek susah tidur. Mungkin sekarang masih tertidur." Jawab Fitri sambil melanjutkan acara memasaknya.


"Pergilah tanyakan. Siapa tahu keadaannya sedang tidak baik." Meminta Fitri memanggil Isma.


Fitri pun melangkah menuju kamar Isma. Dan saat ini mereka sedang bermesraan. Prince meminta kembali jatahnya. Belum puas katanya, karena sudah terlalu lama tertahan.

__ADS_1


"Boleh ya, Mas mau lagi…" Mendusek di dada Isma.


"Ini masih pagi Mas. Nanti kedengaran orang kan malu!" Protes Isma.


"Jangan bersuara. Sayang bekap aja mulutnya. Mas gak tahan ini loh sayang." Rengeknya memaksa sambil bermanja.


"Iya, tapi perlahan. Adek sedikit khawatir." Mengelus wajah Prince yang masih mendusel didadanya.


"Ok pelan, tapi lama…" Memposisikan tubuh Isma dengan nyaman dibawah kungkungannya.


"Jangan lama lama. Nanti kita dipanggil sama Umi, karena gak bangun bangun. Kan malu kalau ketahuan." Ucapnya pelan.


Prince tidak lagi peduli dengan ucapan Isma. Dia sudah memulai olah raga pagi harinya.


Fitri tersenyum malu malu menuju dapur. Umi yang melihat senyuman malu Fitri merasa heran dan penasaran.


"Kenapa? Kok senyum senyum gitu?" Tanya Umi.


Fitri semakin melebarkan senyumnya. Lalu dia menyenggol nyenggol pelan bahu Umi.


"Kamu kenapa? Disuruh panggil Isma, eh malah nyenggol Umi sambil senyum senyum. Aneh!" Seru Umi bertambah penasaran.


"Itu loh mi, Isma sama Prince lagi olahraga pagi." Jelasnya sambil tersenyum menatap Umi yang bertambah bingung.


"Kapan mereka keluar? Pintu aja Abah yang pertama buka kok." Celoteh Umi.

__ADS_1


"Iih Umi, bukan olahraga itu." Sahut Fitri memberi kode dengan mendekatkan kedua jari telunjukknya.


"Heung, maksud kamu… olahraga pagi pagi?" Tanya Umi.


Fitri Tersenyum dan mengangguk. Umi pun akhirnya ikut tersenyum malu malu.


"Mmh, terpisah sebentar melepas rindunya sampai pagi." Ucap Umi yang melanjutkan mencuci piring.


"Dulu kamu juga gitu sama Arya." Sambung Umi yang berhasil membuat Fitri bertambah malu.


"Kok Umi tahu?"


"Tahu lah, Umi sering mampir kekamar kalian setiap pagi." Jawab Umi santai.


Fitri mengerutka wajahnya malu. Dia membayangkan saat Umi menguping diluar kamarnya saat bermesraan bersama Arya.


"Tapi saat itu, aku tidak dalam keadaan hamil Umi." Ujarnya pelan.


"Ya, karena saat kamu hamil, Arya sudah tidak terlalu ingin. Dia sudah menyetok banyak saat kamu belum mengandung." Jelas Umi.


"Sudah ah, Umi. Jangan bahas itu lagi. Malu…" Menyusun piring di meja makan.


Umi hanya tersenyum bahagia. Kini Umi sudah punya menantu dan cucu yang semuanya selalu ada bersamanya. Tinggal menanti kehadiran buah hati Prince dan Isma yang masih tujuh minggu lagi.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2