
Isma terdiam duduk di depan cermin menatap wajahnya yang terlihat pucat. Dadanya terasa sesak dan susah bernapas. Tangannya meraih lipstik merah dan memakaikan ke bibirnya. Lipstik itu berhasil menyamarkan raut pucat diwajahnya.
Isma terlihat cantik dengan balutan gamis gold berbaur hitam. Hijab hitam panjang terpasang rapi menjuntai. Gamis ini pemberian Prince dua hari yang lalu. Gaun ini adalah syarat terakhir yang diinginkan Prince sebelum dia menjadi suami Keyra selamanya.
Isma memejamkan matanya sejenak. Dia mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu.
*Prince dan Keyra tampak semakin mesra saja. Mereka benar-benar terlihat bahagia menjelang hari pernikahan. Dan beberapa hari terakhir, Prince selalu membawa Keyra ikut ke kantor.
Dan siang ini Isma baru saja kembali dari membelikan makan siang untuk Keyra dan Prince.
"Kamu beli rujaknya dimana?" Tanya Keyra saat melihat rujak yang di bawa Isma.
"Di fresh fruit resto, mbak. Apa mbak tidak suka?" Tanya Isma sesopan mungkin.
"Belum tau, kan aku belum coba." jawabnya judes.
Isma hanya diam menunggu Keyra mencoba rujaknya. Sedangkan Prince masih berkutat dengan komputernya. Meski begitu dia mendengar perbincangan kedua wanita itu.
Keyra mencoba memakan rujak itu, lalu dengan tiba-tiba dia memuntahkan kembali rujak yang sudah sampai di mulutnya. Isma kaget melihat hal itu, dia bergegas mengambilkan tisu dan memberikannya pada Keyra.
"Kamu pasti bohong. Ini rujak murahan jalanan." Bentaknya kesal.
"Nggak kok mbak itu rujak. . ."
Belum selesai Isma bicara, Keyra memasukkan secuil rujak itu ke mulat Isma. Isma tersedak, tapi dia bisa mengatasinya. Rujak itu ternyata terlalu pedas dan asin. Isma pun bingung kenapa rujaknya gak enak gini. Padahal selalu enak kok. Apa jangan2 Bimo salah memesannya.
"Maaf mbak, saya gak tau kenapa rasanya jadi gak enak gini." Ucap Isma sambil membereskan tumpahan rujak yang dimuntahkan Keyra.
Prince akhirnya terusik oleh keributan itu. Dia semakin emosi melihat Isma yang duduk di latai membersihkan muntahan rujak Keyra.
"Berdiri…" Ucap Prince dingin.
Isma tidak memperdulikan itu, dia terus saja membersihkan lantai. Sedangkan Keyra menatap heran pada Prince yang tiba-tiba bersikap dingin seperti itu.
"Berdiri…" Ulangnya dengan suara lebih keras dari sebelumnya.
Keyra terkejut, dia memegangi perutnya dan hendak berdiri meraih pergelangan tangan Prince. Tapi sebelum dia meraih tangan Prince, Prince sudah lebih dulu menarik kuat pergelangan tangan Isma dan membuatnya berdiri.
Isma terkejut, dengan cepat dia menghempaskan genggaman tangan Prince.
"Maaf bos, saya tidak sengaja membeli rujak yang salah. . ." Ucap Isma gemetar, dia kaget saat Prince tiba-tiba meraih tangannya.
Keyra hanya diam. Dia melihat mata Prince yang menatap Isma namun bukan tatapan marah, tapi tatapan sedih. Keyra tidak mengerti dengan situasi ini.
Prince mengatur napasnya, mencoba menahan emosinya. Rasanya ingin segera di peluknya Isma yang gemetar dihadapnnya. Tapi apa daya, semuanya jadi kacau.
"Isma kamu keluar dari ruangan ini. Jangan pernah datang ke sini saat saya bersama Keyra." Ucap Prince dengan terus menatap Isma yang menunduk diam.
"Baik, bos. Sekali lagi saya minta maaf. . ."
Dengan langkah cepat Isma meninggalkan ruangan itu. Begitu tiba di luar, air mata Isma mengalir begitu saja. Agar tidak terlihat oleh orang lain, Isma segera masuk ke dalam lift. Dia menekan tombol yang akan mengantarkannya ke atap.
Air matanya semakin deras. Entah mengapa hatinya sakit sekali dengan perlakuan Prince yang bahkan tidak memberikan maaf atau pun kata yang dapat melipur hatinya.
Setibanya di atap, Isma melepas tangisnya. Karena tidak ada yang akan mengetahui dan mendengar tangisannya, Isma menangis sekeras-kerasnya.
"Astaghfirullahal'azim, ya Allah kuatkan hatiku. Tegarkan jiwaku ya Allah. Hilangkan rasa sakit ini." Ucapnya dalam tangisan.
Sementara Isma menangis di atap, Prince menatap dalam mata Keyra.
"Aku nggak nyangka kamu seperti ini, Key."
"Ya… aku… hanya terkejut karena rasa rujaknya itu benar-benar gak enak. Dan dia pasti sengaja mau ngerjain aku, karena selama beberapa hari ini aku selalu minta dia untuk beli macam-macam. . ." Jelas Keyra membela dirinya agar tidak di salahkan.
"Kamu pulang sekarang. Aku sudah memesankan taxi."
__ADS_1
Prince mengantar Keyra sampai depan kantor. Keyra hanya diam, dia tidak tahu harus bicara apa. Karena sekarang pikirannya masih menyinpan pertanyaan tentang hubungan Prince dan Isma yang hari ini membuatnya mencurigai sesuatu.
Keyra terhanyut dalam pertanyaan pertanyaan itu di dalam taxi yang terus melaju membawanya semakin menjauh dari Perusahan. Sedangkan Prince kembali ke kantor.
Kini Prince di dalam Lift, dia mencoba menenagkan diri dan ingin menghampiri Isma.
"Maafkan aku Isma. Aku tidak bermaksud membentakmu dan bersikap kasar. Aku hanya bingung, kenapa kamu selalu mau melayani kegi**an Keyra." Rutuk Prince menyalahkan dirinya.
Ting. . .
Pintu lift terbuka di lantai delapan, tapi Prince tidak keluar dari lift. Dia merasa sesak dan kacau, hingga memutuskan untuk naik ke atap.
Mata Prince membola saat tiba di atap, dilihatnya Isma terduduk sambil terisak di sudut tembok atap.
'Isma… haruskah aku samperin?' Batinnya.
Selangkah demi selangkah Prince mulai mendekati Isma. Hingga berjarak sekitar _+ 60 cm dengan Isma.
"Isma, maafkan aku." Ucap Prince sambil mengulurkan sapu tangan pada Isma.
Mendengar namanya di sebut, Isma mendongakkan kepalanya. Begitu matanya bertemu dengan mata Prince, Isma langsung berdiri. Dia menghapus air matanya dan merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan karena menangis.
"Maafkan saya bos. Saya tidak bermaksud membuat mbak Keyra. . ."
"Gak usah minta maaf. Nih hapus air matamu." Mengulurkan sapu tangan.
Dan Isma menerima sapu tangan itu, dia mengelap sisa-sisa air mata yang sudah mengering.
Prince lega karena akhirnya dia bisa bertemu Isma dan hanya berdua saja. Banyak hal yang ingin Prince katakan pada Isma. Sejak hari pernikahan Isma, Prince tidak punya kesempatan untuk bicara berdua dengan Isma.
Kini Prince duduk di sebelah Isma, jarak mereka masih sama, 60 cm. Prince tahu Isma sangat menjaga jarak dengan lelaki yang bukan muhrimnya.
"Is, boleh aku bicara hanya berdua dengan mu?"
Isma mengangguk. Setidaknya dia ingin mendengar apapun yang di katakan Prince untuk terakhir kalinya sebelum dia menjadi suami sah Keyra.
"Aku minta maaf, karena hari itu meninggalkan kamu begitu saja. Aku bahkan tidak tahu kalau pernihakan itu..."
Prince menghentikan ucapannya, dia tidak ingin mengungkit hal yang mungkin menyakitkan untuk Isma.
"Aku juga minta maaf karena gak ngejar kamu waktu kamu datang dan melihat aku memeluk Keyra."
Isma hanya diam. Dia benar-benar hanya ingin mendengar penjelasan dari Prince.
"Maaf juga, karena gak pernah menjelaskan apapun sama kamu. Aku hanya tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan harus memulai menjelaskan dari mana?"
"Tanyakan apapun. Aku akan menjawabnya. Aku tidak tahu harus mulai dari mana." Sambungnya.
Prince menatap Isma yang masih terus menunduk dan sesekali sesegukan.
"Apa kamu mencintai ku?" Tanya Isma tanpa menoleh.
Prince kaget mendengar pertanyaan itu. Apa yang harus dilakukannya. Ya, Prince sangat mencintai Isma. Tapi, percuma Prince mengatakan cinta kalau pada akhirnya Prince akan menikahi Keyra.
"Apa pertanyaan itu terlalu susah untuk di jawab? Jika iya, maka tidak usah. . ."
"I love you so much. Only you, Isma." Jawab Prince penuh semangat.
Isma terdiam mendengar jawaban itu, antara percaya dan tidak. Tapi setidaknya itu membuat hatinya bahagia.
"Kamu masih percaya akan Tuhanmu?" Lanjut Isma.
Prince terdiam. Sebenarnya, beberapa hari terakhir hati Prince mulai tergoyah. Dia mulai merasakan kenyamanan saat mendengar suara azan dan lantunan ayat Qur'an yang sering di dengarnya di Televisi.
"Maafkan aku Is. Aku belum bisa menjawab pertanyaan itu."
__ADS_1
"Tidak usah meminta maaf. Aku paham."
Isma pun berdiri. Dia sudah mendengar apa yang ingin di dengarnya. Kini dia tahu apa yang harus dilakukannya.
"Is, tunggu aku. Sebentar lagi." Ucap Prince yang membuat Isma berat melangkahkan kakinya.
"Untuk apa aku menunggu suami orang. Lagi pula, kamu juga belum mencintai Islam."
"Aku akan berusah mengenal dan mempelajari Islam. Aku janji Isma. Aku sangat mencintaimu. Hanya kamu Isma Ramadhani." Ucap Prince sambil bermohon di hadapan Isma.
"Kamu kenapa Prince? Berdirilah, aku tidak akan merubah keputusanku. Kita hanya di takdirkan untuk berteman saja." Tegas Isma agar Prince segera berdiri dan berhenti memohon.
"Kalau kamu mau, aku akan pindah agama sekarang juga. Lalu kita menikah, dan setelah menikah kamu bisa ajarkan aku tentang Islam."
Isma tersentuh dengan ucapan Prince. Tapi bayangan wajah Keyra dan bayi dalam kandungannya membuat Isma menahan gejolak kebahagiaan di hatinya.
"Pernikahanmu hanya tinggal tiga hari Prince. Kamu seharusnya fokus dan juga harus menjaga Keyra dengan baik."
Isma mencoba menjelaskan. Sedangkan Prince hanya mengangguk.
"Aku tidak akan menikahinya kalau kamu tidak mau menungguku." Ujar Prince seakan mengancam Isma.
Isma terdiam mendengar ucapan Prince. Isma juga heran mengapa Prince bertingkah seperti anak kecil gitu. Pake acara ngancam-ngancam segala.
"Kamu gak usah aneh-aneh deh Prince. Sebentar lagi kamu akan segera menikah dan ini bukan suatu perminan yang bisa kita mainkan terlebih dahulu."
"Aku tau Is. Tapi aku sama sekali tidak mencintai Keyra. Aku menikahinya hanya untuk membantunya. Jadi aku mohon, tunggu aku Isma."
Isma terdiam. Betapa menyentuh hatinya ucapan Prince barusan. Tapi, mengapa Prince berani mengambil resiko dengan bermain dalam sebuah ikatan pernikahan.
"Aku tidak akan menunggumu Prince. Aku tidak mau menunggu lelaki yang bermain dengan pernikahan."
Ucapan Isma membuat Prince terdiam. Dia tidak tahu bagaimana caranya meluluhkan hati Isma untuk menunggunya.
"Belajarlah mencintai Keyra. Nikahi dia dengan pernikahan yang sebenarnya." Sambung Isma.
Dan ucapan Isma kali ini membuat Prince kecewa dan sakit. Hatinya sangat sakit saat mendengar perempuan yang sangat dicintainya memintanya untuk mencintai perempuan lain.
"Baiklah, aku akan menikahi Keyra dengan pernikahan yang sebenarnya. Tapi dengan syarat. . ." Tantang Prince.
"Apa maksudmu? Aku tidak akan menyetujuinya." Tegas Isma.
"Baik. Kalau kamu tidak menyetujuinya. Aku akan menikahi Keyra dan menceraikannya begitu resepsi pernikahan selesai."
"PRINCE..." Bentak Isma kesal bercampur takut. Dia tidak mau menjadikan Prince sebagai lelaki br***s*k yang melupakan janjinya dan tidak bertanggung jawab.
"Aku hanya minta satu syarat saja Isma. Aku mau kamu hadir di pernikahanku dengan memakai gaun yang aku pilihkan langsung untukmu. Kamu harus datang dan mengucapkan selamat tepat di depanku." Teriak Prince menjelaskan syaratnya.
Keduanya terdiam. Isma meneteskan kembali air matanya, sedangkan Prince mencoba menetralkan kembali napasnya yang terasa sesak setelah mengatakan persyaratan yang dimintanya dari Isma.
"Baik, aku akan datang. . ." Air mata Isma menetes, lalu tanpa pamit dia melangkah meninggalkan Prince.
"Aargghhhh. . ." Teriaknya berkali kali.
Prince menjambak rambutnya dan akhirnya dia menangis.
"Maafkan aku Isma. Aku tidak tau, apakah aku bisa menepati janjiku untuk mencintai Keyra? Seluruh hatiku hanya untukmu Isma. . . Hanya kamu pemilik hati ini."
Prince menangis menumpahkan kekesalannya. Dia menonjok tembok menggunaka tangan kanannya hingga tangan itu mengeluarkan darah.
Diam-diam Isma masih berdiri di balik pintu lantai atap. Dia menyaksikan tangisan Prince. Hal itu juga membuat hatinya terasa amat sangat sakit.
"Aku juga mencintaimu Prince. Tapi agamaku melarang menikah denganmu. Maafkan aku. Aku akan mendoakan kebahagiaanmu."
Isma menagis sambil menekan dadanya yang terasa semakin sesak dan sakit.
__ADS_1
Mereka menangis menumpahkan segala perasaan yang menyesakkan di hati. Kali ini mereka menangis tanpa saling menatap. Semoga suatu hari mereka akan menangis sambil saling berpelukan.*
Bersambung. . .