
"Kenapa tidak ada yang cocok sih." Mencoba terus tampa peduli dengan kunci yang satu persatu berserakan dilantai karena terlepas dari tangannya.
"Ini yang terakhir, semoga bisa. Bismillah…" Dan akhirnya pintu kamar Fazil terbuka. Dengan segera Tifah masuk. Betapa terkejutnya dia melihat Fazil dengan keadaan seperti itu.
"Ya ampun den. Dari kemarin den Fazil duduk disini bermain game, bahkan masih memakai baju sekolah." Melepas headphone ditelinga Fazil.
Fazil terkejut, begitu headphone terlepas dari telinganya, dia menoleh pada bik Tifah yang tidak disadari kedatangannya.
"Den belum makan dari kemarin. Bibik khawatir den kenapa kenapa, sampai bibik membuka pintu kamar den Fazil menggunakan kunci kunci cadangan ini. Ternyata den Fazil malah main game." Rutuknya kesal sambil terduduk dilantai.
Melihat bik Tifah seperti itu, segera saja Fazil ikut duduk dilantai dihadapan bik Tifah. Dia menundukkan kepalanya merasa bersalah. "Maaf bik." Ucapnya pelan.
"Bibik khawatir. Seharian den Fazil belum makan."
"Ya sudah, ayok makan sekarang. Tapi, bibik temani aku makan ya. Aku nggak selera makan sendirian." Mengajak Tifah menemaninya makan.
Merekapun melangkah menuju dapur, lalu dengan semangat bik Tifah menyiapkan makanan untuk majikan mudanya itu.
"Ayah sama bunda kapan pulangnya bik?" Memasukkan sepotong ayam kedalam piring.
__ADS_1
"Malam ini, den. Sepertinya sebentar lagi Tuan dan Nyonya akan tiba." Melirik jam dinding di hadapannya.
"Kalau begitu, aku tunggu ayah bunda saja. Aku mau makan bersama." Fazil tidak jadi menyantap sarapannya.
Tifah hanya diam, dia ingin sekali mengomel agar Fazil segera makan. Tapi, sebelum itu terjadi suara deringan telepon rumah mengusiknya.
"Siapa ya yang nelpon?" Melangkah menuju meja tempat telpon berada.
"Assalamualaikum." Bicara melalui ganggang telepon. Sejenak wajah Tifah berubah menjadi serius.
"Di rumah sakit mana?" Tanya Tifah yang wajahnya mendadak pucat dengan bibirnya yang juga ikut bergetar.
"Ada apa bik?"
Tifah menatap sendu pada Fazil. Perlahan dia memberikan ganggang telepon itu pada Fazil.
"Iya, saya Fazil anaknya Prince." Jawabnya tegas. Sedangkan bik Tifah sudah berderai air mata.
"Apa? Ayah sama bunda kecelakaan?" Teriaknya tidak percaya.
__ADS_1
"Den yang sabar ya. Sekarang kita kerumah sakit saja dulu." Seru Tifah.
"Dirumah sakit mana ayah sama bunda saat ini?" Menyatat alamat rumah sakit. "Aku akan segera kensana." Menutup telepon.
"Bibik ikut ya den!" Seru Tifah yang juga ikut melangkah dibelakang Fazil yang melangkah dengan begitu cepat.
Mereka menuju rumah sakit dengan naik taxi. Sepanjang perjalanan Fazil hanya diam. Wajahnya terlihat pucat, tangannya gemetar dan terasa sejuk. Sedangkan Tifah berusaha menenangkan perasaan khawatir Fazil dengan mengajaknya bersholawat.
"Ayah sama bunda akan baik baik saja kan, bik?" Menyela ditengah lantunan sholawat bik Tifah.
"Inshaa Allah tuan dan nyonya akan baik baik saja, den." Menepuk lembut punggung Fazil.
"Ya Allah selamatkan ayah bundaku." Mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Tifah tersenyum haru mendengar doa Fazil. 'Betapa beruntungnya tuan dan nyonya memiliki anak anak yang sholeh dan sholehah. Dan aku juga beruntung diberi kepercayaan untuk merawat mereka.' Batinnya sambil terus menatap lembut wajah pucat Fazil.
"Bik, untuk sementara rahasiakan dulu tentang ayah bunda dari Feisal dan Rara. Takutnya mereka khawatir dan tidak konsentrasi lagi belajarnya." Sarannya pada Tifah.
"Iya den. Bibik akan merahasiakan dulu kejadian ini dari mereka." Menyetujui saran Fazil.
__ADS_1