Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Cinta dan Rindu


__ADS_3

"Pak Mahmud, sebentar lagi zuhur. Sudah waktunya untuk istirahat." Teriak Vita ditengah hiruk pikuk suara dari palu yang memukul paku dan juga suara pahatan.


Pak Mahmud selaku ketua dari timnya pun memerintahkan teman-temannya untuk menghentikan pekerjaan mereka.


Sementara itu, Isma datang untuk memeriksa sejauh mana pekerjaan terlaksana.


"Mbak Isma. Kami baru saja mau istirahat." Ucapnya.


"Silahkan, pak. Saya hanya datang mengecek saja." Ujar Isma sambil tersenyum.


"Mbak Isma belum berangkat?" Tanya Vita.


"Belum, ba'da zuhur baru berangkat."


"Loh, Jakarta jauh lo mbak. Bukannya temu janjinya pukul 3 sore?"


"Gak jadi, Vita. Katanya besok pukul 10 pagi."


Vita pun mengangguk paham. Kemudian dia melangkah menuju kerangka-kerangka lemari yang baru dikerjakan oleh pak Mahmud dan timnya.


"Apa akan selesai sebelum hari pengiriman, mbak?" Tanya Vita khawatir.


"Yakin saja. Lagi pula, kamu kan tahu, pak Mahmud selalu bisa menyelesaikan tepat waktu."


Isma kini memeriksa pahatan ukir di papan yang akan dijadikan pintu lemari.


"Saya sangat suka dengan ukiran hasil karya pak Mahmud." Pujinya dengan menyentuh hasil ukiran yang baru setengah jadi itu.


"Saya juga. Pak mahmud menuangkan cintanya dalam setiap ukirannya." Sambung Vita.


"Betul... Yuk kita sholat dulu, setelah itu saya mau langsung berangkat ke Jakarta." Ajak Isma.


Vita pun mengikuti ajakan Isma. Bekerja menjadi karyawan Isma sangat menyenangkan menurut Vita. Dia menjadi lebih rajin ibadah, karena setiap waktu selalu diingatkan oleh Isma.


"Mbak, saya penasaran. . ." Ucap Vita.


"Tentang apa?" Tanya Isma sambil terus melanjutkan langkah menuju Mushola di lantai atas Ruko yang sengaja di sediakan Isma untuk tempat dia dan karyawan serta seluruh pekerjanya melaksanakan sholat.


"Terkadang, kita sudah dikejar waktu. Pekerjaan masih jauh dari kata siap. Mbak Isma bukannya malah meminta pekerja bekerja lebih cepat, malah meminta mereka untuk Istirahat sholat. Bagaiamana kalau akhirnya klien malah kecewa dan marah?"

__ADS_1


Isma menghentikan langkahnya, dia menoleh kearah Vita sambil tersenyum.


"Apapun pekerjaan yang kita lakukan, kita harus mendahulukan Allah ketika panggilannya telah diserukan oleh muadzin. Maka segala apapun kesulitan kita akan dimudahkan." Jelas Isma.


"Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Maka dengan izinnya hidup kita akan selamat." Sambung Isma sambil menyentuh pelan pundak kanan Vita.


"Begitu ya mbak. Aa, saya benar-benar kelam masalah agama." ucap Vita sedih.


"Gak apa-apa, Vita. Yang penting sekarang selagi diberi kesempatan, yok barengan sama saya untuk mendekat pada Allah." Ajak Isma sambil tersenyum.


Vita pun akhirnya ikut tersenyum. 'Menenagkan sekali senyumnya mbak Isma. Semoga mbak Isma segera dipertemukan dengan jodohnya. Sehat selalu mbak Isma.' Batin Vita mendoakan atasannya itu.


Usai sholat zuhur dan makan siang, Isma berpamitan pada Karyawannya untuk berangkat ke Jakarta nenemui Istri Vino yang katanya berada di Jakarta.


Sepanjang perjalanan Isma bicara dengan Rina.


"Pokonya mampir ke rumahku dulu. Aku kangen banget sama kamu Isma." Rengek Rina.


"Iya, tapi nggak janji ya. Soalnya aku mau ketemu Arsyid dulu. Kangen aku sama ponakan lucu ku itu."


"Mhh, baiklah. Aku mah apa. Hanya sahabat yang terlupakan." Rengeknya kesal.


"Rina sayangku, cintaku, yang manja banget sejak menikah. Kamulah satu-satunya sahabat terbaikku. Jadi aku usahakan untuk menemuimu, sayang…" Bujuk Isma.


Bimo yang baru saja pulang, heran melihat istrinya itu memanyunkan bibirnya sambil merutuk.


"Kenapa, sayang, siapa yang membuat sayanya aku kesal begini." Tanya Vino dengan langsung mendekap erat tubuh istrinya itu.


"Mantan pacarmu." Ucapnya sambil melepaskan diri dari dekapan suaminya.


"Mantan pacar? Siapa?" Bimo heran dan mencoba ngingat siapakah mantannya yang berani membuat Istri tercintanya bersedih.


"Isma." Ucapnya kesal.


Bimo tersenyum, di peluknya lagi istrinya dari belakang. Di kecupnya pundak sang istri.


"Isma bukan mantan pacarku, sayang. Dia itu cinta pertamaku." Jawabnya.


"Terserah. Pokoknya aku benci sama Isma aku gak mau kenal sama dia lagi, kalau sampai dia gak nemui aku." Rutuknya kesal.

__ADS_1


Bimo terdiam, tapi masih tetap memeluk istrinya.


"Kalau Isma gak sempat datang kesini, bagaimana kalau kita yang nyamperin dia." Saran Bimo.


"Emang boleh?"


"Boleh dong sayang. Memangnya kamu maunya kapan?"


"Sekarang boleh?" Rengeknya manja.


"Mas, masih harus kembali ke kantor. Nanti sore ya, pulang kerja. Ok?"


Isma melepas pelukan suaminya, tanpa berkata apa-apa dia langsung berlari menuju kamar.


"Salah bicara lagi. Bagaimana dong. . ." Ucap Bimo bingung.


Dia pun mengejar istrinya ke kamar. Begitu sampai, dilihatnya Rina menangis.


"Sayang kok malah nangis? Mas tadi hanya menyarankan saja, kok. Kamu kan tahu, mas masih harus ke kantor. Kalau gak gitu, mas bisa di pecat loh. . ." Membelai lembut rambut Rina.


"Kalian sengaja saling menghindar, kan? Aku tahu mas masih mencintai Isma. Aku rasa Isma juga punya perasaan sama mas. Makanya kalian mencoba untuk saling menghindar…" Ungkapnya sambil menangis.


Perlahan Bimo merebahkan tubuhnya di samping Rina. Di peluknya tubuh gemetar istrinya yang sedang menangis itu.


"Ya Allah sayang. . . Kamu mikirnya kejauhan. Dulu iya aku mencintai Isma. Tapi sekarang, kamu segalanya untukku. Kamu duniaku." Jelas Bimo.


"Bohong. Buktinya, Isma bahkan gak datang saat kita menikah. Dan kita sudah hampir satu bulan menikah, Isma bahkan belum juga pernah mau menemui aku." Ucapnya terisak.


Bimo terdiam sambil memprerat pelukannya. Dia bingung mau jawab apa. Andai Rina tahu, sedikitpun Isma tidak mencintai Bimo. Dan andai Rina tahu, rasa untuk Isma di hati Bimo sudah lama sirna dari hatinya.


"Baiklah, kita temui Isma sekarang. Isma dimana?" Tanya Bimo.


"Benaran?" Tanya Rina.


Dia membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Bimo. Dan Bimo mengangguk dan tersenyum.


"Isma sekarang dalam perjalanan menuju Jakarta. Kita tunggu Isma di rumah Teteh Fitri." Ucapnya semangat.


Rina sudah duduk, dia berlari ke kamar mandi, membersihkan wajahnya. Lalu bersiap memakai jilbabnya. Sedangkan Bimo hanya menungggu, memandang istrinya yang penuh semangat bersiap mau ketemu wanita yang membuatnya cemburu.

__ADS_1


'Semoga saja, nanti istriku ini tidak cemburu lagi pada Isma.' Batinnya.


Bersambung…


__ADS_2