Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
PANGERAN


__ADS_3

Jakarta.


"Alhamdulillah, akhirnya kita di rumah. . ." Suara girang Isma menggema di seluruh rumah.


Dia berjalan cepat memeriksa keadaan rumah yang masih sama seperti tiga minggu yang lalu saat di tinggal ke Korea. Sedangkan Prince mengangkut barang bawaan ke lantai atas, dimana kamar mereka berada.


"Mas, kulkasnya kosong. Nanti malam kita belananja." Teriaknya dari dapur.


"Iya sayang…" Sahut Prince sambil membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Lalu, Isma pun menghampiri suaminya. Saat melihat Prince berbaring, Isma pun ikut berbaring di sebelahnya.


"Sini. . ."


Prince merentangkan tangannya meminta Isma mendekat. Dengan senang hati Isma bergeser. Dan kini, kepalanya berada diatas dada suaminya. Sementara tangan Prince merangkul bahu kesayangannya.


"Maafkan Mas. Karena harus meeting sama klien, kita gak bisa langsung ke Bandung." Sesalnya.


"Tidak apa, Mas. Adek juga. . . Sebenarnya. . . Takut ke Bandung. Adek takut mimpi adek jadi nyata." Mencengkram erat kemeja bagian dada suaminya.


Prince memberikan kecupan di kening Isma. Dan sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama. Dia juga sedang menyembunyikan perasaan takut dan khawatir dalam dirinya.


"Adek tahu. . . Mas adalah seorang pangeran yang akan membebaskan tuan putri tercantik ini." Ucap Prince sambil mencubit pelan hidung Isma.


"Iihhh. . . Sakit tau."Protesnya manja.


"Kalau seandainya, nanti Abi benaran gak suka sama Mas. . ."


"Mas ngomong apa? Mana mungkin Abi nggak suka sama menantunya." Sela Isma memotong ucapan Prince.


"Dengar dulu. Ini hanya seandainya sayang. . ." Memeluk tubuh Isma erat.


"Adek gak mau dengar andai-andai yang menyakitkan." Ujarnya kesal.


Isma membalik tubuhnya hingga dia membelakangi suaminya. Dia tidak suka dengan kata andaikan. Itu menakutkan baginya.


"Dengar dulu. . . Mas hanya ingin kita membicarakan pahitnya dulu. Agar nanti saat terjadi, kita sudah punya rencana untuk menyelesaikannya." Menarik tubuh Isma kembali dalam dekapannya.


"Jika sayang akhirnya harus memilih Abi. Maka sayang harus pegang satu kata. Mas, tidak akan pernah mengembalikan adek pada Abi dan Umi sampai nyawa terpisah dari jasad. Jika Mas terpaksa pergi, itu hanya sementara. Mas pergi untuk menyusun rencana agar bisa kembali merangkul adek dalam pelukan Mas." Jelas Prince.


Isma meneteskan air mata mendengar ucapan suaminya. Dia terharu sekaligus takut. Isma mengeratkan genggamannya di baju Prince.


"Tuan putri harus yakin. Pangeran tidak akan gagal menyelamatkan tuan Putrinya. Percayalah dan selalu doakan kebaikan untuk pangeran." Sambung Prince.


"Mas janji. . ." Tanya Isma yang kini mendongak untuk dapat menatap mata suaminya.


"Iya sayang, Mas janji. Insya Allah."


Kembali Prince memberi kecupan di kening, mata, pipi hidung dan berakhir di bibir Isma. Hanya kecupan sebentar. Lalu Prince membawa Isma bangkit dari posisi berbaring.


"Mas harus ke kantor sekarang. Agar urusan cepat selesai dan kita bisa secepatnya ke Bandung." Ucapnya.


Isma mengangguk. Air mata masih ada di ujung pelipis miliknya. Dan Prince menyapunya dengan telunjuknya.


"Jangan menangis. Ingat, ada Allah yang selalu bersama kita. I love you." Satu kecupan berlayar lagi di bibirnya.


Isma merona. Dia tersenyum malu-malu. Entah mengapa, wajahnya terasa panas, sehingga dia membekap kedua pipinya dengan telapak tangannya.


Sedangkan Prince sudah bersiap untuk berangkat. Dia merapikan kemejannya, memakai Jas dan membawa beberapa file.


Isma mengantarkan suaminya hingga depan rumah. Begitu Prince selesai memasang sepatunya, Isma kembali memeluk tubuh suaminya itu. Dia membenamkan wajahnya didada suaminya. Isma bermanja seperti bayi.


Prince tersenyum bahagia, dia membalas pelukan itu tak kalah eratnya. Lalu, dia pun memberi kecupan lagi di puncak kepala Isma.

__ADS_1


"Sayang baik-baik di rumah. Mas berangkat dulu. Assalmu'alaikum. . ."


Isma mencium punggung tangan suaminya, lalu setelah menjawab salam, barulah dia melepaskan suaminya.


Tapi, sebelum Prince menutup pintu mobilnya, Isma berlari menghampirnya.


"Ada apa, sayang. . . Awas jatuh. . ." Teriak Prince khawatir.


"Adek bolehkan menghubungi Umi?"


Prince tersenyum gemas. Kemudian dia mengangguk, pertanda memberi izin pada kesayangannya itu.


"Tapi ingat. Jangan pernah mengangkat telepon dari Mama ataupun Amanda." Pesannya tegas.


"Siap suamiku." Ucap Isma tegas dengan mengangkat tanganya memberi hormat pada suaminya itu.


"Mas sudah memesan makanan untuk sayang. Makan yanng banyak, jangan lupa mandi." Ucapnya.


Isma hanya menanggapi dengan anggukan. Mobil Prince akhirnya meninggalkan garasinya dan semakin menghilang dari pandangan Isma.


Isma pun bergegas masuk ke rumah. Saat itu juga dia langsung menelpon Mas Arya.


πŸ“±"Assalamu'alaikum, Mas. Ini adek." Ucapnya begitu tersambung.


Di seberang sana, Arya terdiam sesaat mendengar suara yang selama tiga minggu ini di khawatirkannya.


πŸ“±"Adek baik-baik saja, kan?" Tanya Arya khawatir.


πŸ“±"Iya, Mas. Adek sehat, Mas Prince juga sehat. Maaf adek gak sempat ngasih kabar." Sesalnya.


πŸ“±"Syukurlah. Kita semua khawatir. Adek tak memberi kabar tiga minggu ini."


πŸ“±"Abi sama Umi sehat, Mas?"


πŸ“±"Umi sehat, tapi Abi. . ."


πŸ“±"Abi sakit, sempat struk parah dan masuk rumah sakit."


πŸ“±"Innalillah. . . Ya Allah. Adek nggak tahu, maafkan adek Mas." Isak Isma yang mulai meneteskan air mata karena menyesal.


πŸ“±"Bagaimana keadaan Abi sekarang?"


πŸ“±"Sudah membaik. Tapi, kalau bisa pulanglah dek, Abi selalu menanyakan keberadaan adek."


πŸ“±"Iya, Mas. Besok adek ke Bandung..."


πŸ“±"Sekarang, adek di mana?"


πŸ“±"Di Jakarta. Adek baru tiba sekitar setengah jam lalu."


πŸ“±"Mas mau ke Bandung, adek mau ikut gak?"


Sebentar Isma terdiam. Dia ingin sekalli segera ke Bandung. Tapi, bagaimana dengan suaminya?


πŸ“±"Mas Prince saat ini sedang di kantor Mas. Bayak hal yang harus di bicarakan sama Kliennya. Jadi, baru bisa ke Bandung besok." Jelas Isma.


πŸ“±"Minta izin padanya. Kamu ikut Mas ke Bandung duluan. Lagi pula, besok dia juga akan menyusul, kan?"


πŸ“±"Iya. . ." Jawab Isma ragu.


πŸ“±"Adek minta izin dulu sama Prince. Mas akan ke Bandung sore ini."


πŸ“±"Baik, Mas. Nanti adek kabari lagi."

__ADS_1


Pembicaraan ini terputus. Isma sedih dan khawatir mendengar kabar Abi yang sakit. Rasanya dia ingin segera terbang ke Bandung. Tapi, bagaimana dengan suaminya.


Dengan ragu, Isma akhirnya menelpon Prince. Panggilannya langsung terhubung.


πŸ“±"Ada apa sayang?" Tanya Prince khawatir.


πŸ“±"Tidak apa, Mas. Adek baik-baik saja. Hanya adek mau minta izin. . ."


πŸ“±"Izin untuk apa?"


πŸ“±"Adek tadi menelpon Mas Arya. Dan dia mau ke Bandung, dia bilang Abi sakit. . . Boleh tidak adek ke Bandung duluan. . ." Tanya Isma ragu.


Sebentar tidak terdengar jawaban dari Prince. Isma khawatir tak mendapat izin.


πŸ“±"Baiklah. . . Adek boleh ikut Mas Arya ke Bandung."


πŸ“±"Mas akan nyusul besok, kan?" Tanya Isma.


πŸ“±"Iya sayang. Mas akan segera menyusul ke Bandung. Salam buat Umi dan Abi." Tegas Prince.


πŸ“±"Yeeyy. . . Terimakasih suamiku tercinta." Ujarnya girang.


Mendengar suara girang Isma membuatnya tersenyum-senyum sendiri.


Dan, begitu Isma mendapat Izin. Dia pun segera memberitahu Arya. Dan saat itu juga Arya langsung menjemputnya. Sementara makanan yang di pesan telah datang. Langsung saja Isma membawa makanan itu ikut bersamanya ke Bandung.


Eh, bukan ikut ke Bandung. Hanya ikut menemani Isma selama di perjalanan ke Bandung.


"Arsyid mana, Mas?"


"Ikut Tetehmu ke Palembang."


"Palembang? Sumatra? Jauh kali. . ."


"Iya, Teteh dapat tugas disana selama sebulan. Dan baru berangkat tadi malam." Jelas Arya.


Isma menghela napas berat. Dia sedih karena tak bisa bertemu keponakannya yang sangat dirindukannya itu.


Mobil yang dikendalikan Arya, terus melaju menyusuri jalanan menuju Bandung.


"Dek, apa Prince memperlakukan adek dengan baik?"


Arya membuka pembicaraan.


"Sangat baik, Mas. Kenapa Mas bertanya seperti itu?" Tanya Isma heran.


"Hanya memastikan. Karena kalian menghilang semenjak Amanda mengaku menikah dengan..."


"Itu hanya kebohongan, Mas. Mama mertuaku yang meminta Amanda melakukan itu. Mereka ingin memisahkan adek dari Mas Prince." Jelasnya.


Sejenak Arya menghela napas lega. Ternyata Prince benar lelaki yang baik. Tapi, tetap saja Abi tidak akan pernah bisa menerima Prince lagi.


'Maafkan, Mas dek. Mas tidak bermaksud jahat pada kalian. Tapi, ini cara terbaik untuk kita semua.' Batin Arya.


"Mas, adek tidur ya. Adek kantuk, capek juga." Ucapnya sambil menguap.


"Iya, dek. Nanti kalau sudah sampai, Mas Bangunkan."


Dan Isma pun terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Arya merasa bersalah pada adeknya itu.


Bersambung. . .


Terimakasih untuk semua Reader dan Author yang masih setia mendukung karyaku.

__ADS_1


Sehat selalu buat kalian semua. . .


😍😍😍😍😍😍😍😍


__ADS_2