Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Senjata makan tuan


__ADS_3

Prince dan Isma sudah tiba di kediaman Rina dan Bimo. Mereka sangat senang melihat bayi lucu Bimo dan Rina. Perasaan ingin segera bertemu bayi mereka semakin menggelitik tidak sabar.


"Gimana keadaan kamu, Rin?" Tanya Isma.


"Alhamdulillah baik, Is. Cuma Asi ku belum keluar. Jadi belum bisa kasih Asi sama baby." Tuturnya sedih.


"Jadi solusinya gimana kata Dokter?"


"Sabar, dan harus diurut terus gitu."


Isma memberi pelukan pada sahabatnya yang kini sudah menjadi seorang ibu. Betapa bahagia rasanya melihat kebahagiaan Rina, bisa melahirkan dengan selamat.


Lain dengan Rina dan Isma. Bimo dan Prince duduk di sofa sudut ruangan. Keduanya terlihat sangat serius menatap layar ponsel milik Bimo.


"Bagaimana kalau kita ngobrol di luar." Ajak Prince.


"Boleh." Jawab Bimo.


Sebelum keluar, Bimo menghampiri Rina terlebih dahulu.


"Sayang, Mas ngobrol di luar sama Prince ya." Pamitnya.


Rina mengangguk saja. Mendapat izin dari Rina, Bimo segera mengikuti langkah Prince.


Kini keduanya duduk di kursi koridor rumah sakit.

__ADS_1


"Jadi benar, pria itu suruhan Amanda?" Tanya Prince untuk lebih meyakinkan lagi.


"Ya itu kenyataannya." Jelas Bimo.


"Lalu dimana Amanda?" Tanya Prince.


Bimo tidak menjawab, dia malah memperlihatkan video lainnya pada Prince.


"Apa lagi ini? Kenapa memperlihatkan video seperti ini?" Tanya Prince heran tiba tiba di suguhkan video tidak senonoh.


"Lihat yang jelas."


Prince melihat sekali lagi, mengikuti perintah Bimo. Benar, dia merinding saat tahu siapa yang ada dalam video tersebut.


"Amanda? Ini Amanda, kan?" Melihat lebih jelas lagi.


"Astaghfirullah…" Menyingkirkan video itu.


"Kamu tahu Amanda dimana sekarang?" Tanya Bimo.


Prince menggeleng. Lagi, Bimo memperlihatkan video seorang wanita stres terkurung didalam salah satu kamar rumah sakit jiwa.


"Kasihan Amanda." Ujarnya sedih.


"Begitulah, senjata makan tuan. Kabarnya, Amanda mencoba berkencan dengan pria pria kaya raya dan mencoba menjebak mereka dengan bantuan antek anteknya itu. Kemudian, Amanda tidak sanggup melunasi pembayaran yang telah disepakati sejak awal. Nah, jadilah dia masuk perangkap sendiri." Jelas Bimo panjang lebar.

__ADS_1


Prince hanya mengangguk dan membuat ekspresi kasihan. Walau bagaimanapun, Amanda pernah menjadi sahabat baiknya dan setidaknya, banyak juga kebaikan Amanda padanya saat itu.


"Bim, jangan sampai Isma tahu tentang hal ini."


"Kenapa?"


"Aku rasa kamu jauh lebih mengenalnya. Aku hanya tidak ingin dia menemui Amanda. Aku khawatir Amanda nekat. Aku mengenal Amanda, saat dia membenci seseorang, dia akan melakukan apa pun untuk menyakiti orang itu. Dan aku tidak ingin terjadi hal buruk pada Isma." Jelasnya.


Bimo mengangguk paham. Ya, dia tahu Isma seorang yang sangat pemaaf.


Keduanya terdiam dengan pemikiran mereka masing masing. Bimo dengan perasaan marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa berbuat apa pun untuk Isma. Sedangkan Prince kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa membalaskan rasa sakit Isma pada Amanda.


Sementar itu, di ruangannya. Isma sedang belajar menggendong bayi Rina.


"Kenapa kalian belum memberinya nama?" Tanya Isma.


"Aku mau kamu yang memberinya nama, Is." Jawab Rina tersenyum menatap bayinya dalam gendongan Isma.


"Loh kok aku? Aku saja masih bingung mau nentuin nama untuk bayi-bayi ku, Rin." Ujarnya.


"Berikan nama apa pun. Aku akan sangat senang."


Sebentar Isma menatap wajah sahabatnya itu. Rina tersenyum senang. Matanya mengatakan kejujuran bahwa dia ingin Isma memberikan nama untuk bayinya.


"Mmh, bagaimana kalau Khoirul Azam. Aku suka nama itu." Tersenyum menatap wajah bayi dalam gendongannya.

__ADS_1


"Khoirul Azam, aku juga suka. Terimakasih Is. Love you." Ucapnya senang.


BERSAMBUNG…


__ADS_2