
"Bunda senang kalau kamu memilih untuk Homeschooling. Tapi, rasanya sangat disayang sekali, nak." Isma mencoba menjelaskan pada Fazil yang tiba tiba meminta izin untuk sekolah dirumah.
"Zil, dengar Ayah. Kamu itu cerdas. Kamu juga kreatif. Jadi sangat rugi rasanya kalau kamu hanya homeschooling. Lebih baik kamu ke London. Ayah tahu kamu suka komputer. Manfaatkan itu dengan belajar disana bersama Feisal." Prince menyarankan.
"Bunda setuju sama Ayah." Sahut Isma. Sedangkan Fazil hanya teridam. Dia sedang memikirkan sesuatu.
"Ayah tahu, kamu melakukan semua ini karena ingin Azam baik baik saja, kan?" Tebak Prince.
Mata Fazil akhirnya menatap kearah ayahnya. Lalu dia mengangguk pelan dengan perasaan bersalah dan juga merasa aneh atas perasaan bersalah itu, sementara dirinya tidak melakukan kesalahan.
"Ayah akan pindahkan kamu, ke sekolah manapun yang kamu inginkan. Tapi, ayah akan tetap tidak setuju dengan homeschooling." Tegas Prince dengan wajah penuh harap.
"Pilihlah sekolah mana yang kamu inginkan, nak. Asalkan jangan homeschooling." Isma mengatakan itu sambil memeluk tubuh Fazil yang ternyata sudah lebih tinggi darinya.
__ADS_1
"Ayah, bunda. Berikan Fazil waktu sampai besok sore. Secepatnya sepulang sekolah."
Prince tersenyum dan mendekati putranya. Lalu, prince mengelus pipinya yang kini berada di pundak bundanya. "Akan ayah tunggu sayang." Prince memberi kecupan di ubun ubun Fazil.
Isma pun melepas pelukannya, lalu mencium pipi Fazil. "Tidurlah, jangan terlelu berpikir keras. Kamu punya banyak waktu, bukan hanya sampai besok, tapi sampai kamu benar benar yakin dengan pilihanmu, nak." Ucap Isma.
"Terimakasih, bunda. Terimakasih, ayah." Ucap Prince saat kedua oraagtuanya hendak keluar dari kamarnya.
Memang begitu faktanya. Sebenarnya Azam pun tidak begitu keberatan dengan semua itu. Tapi, dengan adanya Fazil disekolah yang sama. Dan terlebih Fazil mengacaukan harinya saat pertama datang kesekolah, semua itulah yang semakin membuatnya kesal.
Tring…
Notif pesan mampir di layar ponsel Azam. Dengan malas dia membuka pesan tersebut.
__ADS_1
#Zam, sorry. Aku tidak bermaksud mengacaukan semuanya. Hari itu saat seorang cewek berlutut dihadapanmu, membuatku merasa iba dan teringat pada bunda dan Rara. Aku benar benar tidak bisa melihat perempuan mengemis berlutut seperti itu terlebih pada seorang laki laki. Aku tahu Zam, sejak hari itu, kamu berubah padaku. Maafkan aku, Zam.
Tentang kedua orangtua kita, aku rasa om Bimo bukan sekedar bahawan Ayah seperti yang kamu sebutkan. Tapi, lebih tepatnya, om Bimo adalah sahabat baik Ayah dan Bunda. Aku tidak ingin membuat hubungan persahabatan mereka renggang hanya karena kita kekanak kanakan.
So, besok kamu harus kembali kesekolah seperti biasa. Aku akan segera pindah ke London. Aku tidak akan menggangu kamu lagi. Tapi, aku berharap kita masih tetap bersahabat seperti kedua orangtua kita yang menjadi sahabat hingga mereka tidak muda lagi.#
Begitulah isi pesan yang ternyata dari Fazil. "Pengecut loe Zil." Teriaknya semakin kesal.
Entah apa yang membuat Azam kesal. Padahal Fazil sudah akan pindah dari sekolah seperti yang diinginkannya. Tapi, nyatanya, mengetahui Fazil benar benar akan pindah malah membuatnya semakin kesal dan marah.
"Pengecut. Brengseng. Loe yang kekanak kanakan, Zil." Mengamuk sejadi jadinya sampai menghempaskan ponselnya.
Sebenarnya Azamlah yang kekanak kanakan. Fazil sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya Azam inginkan darinya. Jika memang dia kesal hanya karena Papanya adalah bawahan Ayahnya. Fazil sudah meminta Ayahnya untuk memberikan jabatan yang lebih baik untuk Bimo di perusahaan milik ayahnya.
__ADS_1