Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Sahabat & Cinta


__ADS_3

Ba'da Asar, Isma baru tiba di rumah Fitri. Dia di sambut langsung oleh Rina dan Bimo. Sedangkan pemilik rumah baru saja tiba limat menit setelah Isma.


"Kamu banyak rahasia sama aku." Protes Rina.


"Rahasia apa, Rina sayang?" Tanya Isma sambil meletakkan gelas untuk tamunya itu.


"Pokonya, sejak kamu batal menikah dan tentang hubungan kamu sama Bos. Terus tentang kamu yang tidak datang kepernikahan aku, semuanya mencurigakan." Celotehnya.


Rina tidak lagi peduli dengan janjinya untuk tidak membahas Prince. Tingkat kecurigaannya jauh lebih penting dari pada menepati janji.


Sebentar Isma menghela napas. Perlahan dia melangkah mendekati Rina yang duduk di samping Bimo. Dan Isma duduk di lantai dengan menengadahkan kepalanya menatap Rina.


Isma saat ini terlihat seperti sedang sungkeman meminta restu.


"Isma, kamu gak perlu cerita." Sela Bimo.


"Kenapa? Apa kamu ikut menyembunyikan sesuatu." Tuduh Rina emosi.


"Rin, kamu gak boleh marah gitu sama, Bimo." Saran Isma sambil menggenggam pergelangan tangan Rina.


"Mengapa? Apa kamu sangat mencintai Bimo? Lalu mengapa kamu tidak menikah saja dengan Bimo?" Bentaknya semakin kesal.


Bimo terdiam. Ucapannya malah membuat Rina semakin salah Paham.


"Rin, aku tidak datang kepernikahamu karena sangat sibuk. Terlebih karena aku tidak ingin bertemu bos mu." Jelas Rina.


"Kenapa? kenapa kamu tidak ingin menjumpainya? Apa hubungan kalian sebenarnya?" Desak Rina berteriak.

__ADS_1


"Dia. . . Maafkan aku Rin. Aku belum siap untuk menceritakan itu." Ucap Isma menyesal.


"Ok. Berarti selama ini kamu memang tidak pernah menganggapku sahabat." Ucap Rina kesal.


"Rin, aku tidak. . ."


"Lepas. Aku mau pulang." Berdiri dan melangkah menjauhi Isma yang masih duduk bersimpuh.


"Rin, aku. . ."


"Sudah, Is. Aku tahu sekarang. Semua ini pasti ada hubungannya dengan Bimo."


"Sayang, kamu ngomong apa?" Sambung Bimo.


Bimo langsung memeluk tubuh Rina, tapi Rina mendorongnya menjauh.


"Cukup, Is. Aku tidak ingin mendengar apapun. Aku bukan lagi sahabatmu." Ucapnya dengan air mata mengalir di pipinya.


"Sayang. . . Kamu salah paham. . ." Jelas Bimo.


"Aku tidak ingin mendengarmu. Antarkan aku pulang ke rumah Mama." Pinta Rina, masih menangis.


"Rin. . . Aku mencintai. . ." Isma tidak sanggup membuka mulutnya untuk melanjutkan ucapannya.


"Terserah, aku tidak mau dengar. Jika kamu mencintai Bimo, harusnya kamu bilang sama aku. Jangan hanya diam dan berbohong padaku." Tegasnya.


Lalu Rina berlari kencang menuju mobil.

__ADS_1


"Bim, maafkan aku. Aku izinkan kamu menceritakan semuanya. Aku tidak bisa mengatakan apapun pada Rina." Pinta Isma sedikit memohon.


Lalu, Bimo pun mengejar Rina. Meski Rina diam dan menangis. Bimo tetap berusaha membujuk dan menjelaskan pada Rina.


Sedangkan Isma terduduk di lantai. Air matanya juga tumpah. Fitri yang melihat itu langsung merangkul tubuh Isma.


"Teh, kenapa begitu berat mulutku menyebut namanya. Kenapa aku menyakiti Rina hanya sekedar untuk menyembunyikan namanya..." Isaknya dalam dekapan Fitri.


"Apa yang sebenarnya kamu rasakan?" Tanya Fitri.


"Aku rindu. . . Aku sangat merindukannya. . . Teh. Mengapa? tiga tahun sudah berlalu. Aku berusaha sekuat yang aku bisa untuk berhenti mengingat tentangnya. Tapi. . . Hati ini semakin merindukannya. . ." Ucap Isma.


Fitri memeluknya erat, mencoba menenangkan hati adik iparnya itu yang sedang terluka. Persis seperti tiga tahun lalu, saat dia kehilangan Prince pertama kalinya.


"Aku bahkan menyakiti hati Rina demi melupakan dia, Teh. Aku jahat. Aku . . . Aku. . . Aku tidak tahu harus bagaimana, Teh. Rina pasti membenciku."


"Tidak sayang. Rina tidak akan membencimu. Dia akan paham saat Bimo menceritakan yang sebenarnya."


Fitri ikut menangis sambil memeluk Isma. Dan mengelus pelan punggungnya.


Betapa rumitnya urusan hati Isma. Kenapa hatinya masih menjadi milik Prince bahkan sudah tiga tahun berlalu. Isma bahkan tak membiarkan siapapun menggantikan posisi Prince di hatinya. Padahal dia tahu, ke imanan mereka tidak akan bisa membuat mereka bersama.


"Allah punya rencana terindah untuk adek. Percayalah sayang. Kau pasti akan bahagia dengan lelaki yang tepat. Kamu harus kembali kuat. Ada teteh, umi, abi, mas Arya dan Arsyid. Kamu punya kita semua." Ucap Fitri.


Sore itu menjadi sore terberat buat Isma. Inilah alasannya tidak ingin bertemu Rina. Bukan tidak menganggapnya sahabat. Bukan tidak ingin berbagi cerita.


Hanya saja, sejak hari dimana dia memberanikan diri untuk pergi dari perusahaan, Isma bertekad untuk tidak lagi mengingat, membahas atau bertanya tentang Prince.

__ADS_1


Bersambung. . .


__ADS_2