
10 minggu kemudian.
Prince benar-benar tidak lagi merasa mual dan pusing dipagi hari. Hanya saja, dia menjadi terlalu manja. Kemanapun ingin ditemani Isma.
Tak jarang Isma ikut ke kantor. Menemani suaminya. Hanya duduk sambil membaca buku tentang bayi dan kehamilan. Seperti saat ini, Isma sedang berada diruangan Rina.
"Rin, apa rapatnya lama?" Tanya Isma mulai bosan menunggu suaminya.
"Ya tergantung permasalahan yang sedang mereka bicarakan." Jawab Rina acuh.
Rina sedang sibuk sebenarnya. Hanya saja, karena Bos yang minta menemani istrinya ini, jadinya Rina tidak begitu fokus pada pekerjaannya.
"Rin, apa sekarang kamu masih suka ngidam?"
"Masih. Tapi tidak seperti saat usia dua bulan."
"Memang dulu seperti apa?"
Sejenak Rina mengalah. Dia menghentikan pekerjaanya. Lalu menghampiri sahabatnya itu.
"Dulu aku suka meminta apapun, semua jenis makanan. Terus sering manja dan tak mau ditinggal Bimo walau sebentar."
"Seperti Mas Princeβ¦" Ucap Isma.
"Kurang lebih. Tapi, aku hanya muntah di minggu awal kehamilan."
"Oo gitu. . . Kalau Mas Prince, malah sering muntah. Dia jadi menyukai makanan yang dulunya dia tak suka. Sebaliknya semua makanan yang dulu dia suka, sekarang malah tak suka."
"Aku juga mengalami itu. Tapi hanya beberapa hari saja." Sambung Rina.
"Kamu benaran gak mengalami apa-apa, gitu? Misalnya ngidam? Atau merasa pusing saat minggu pertama kehamilan?" Tanya Rina penasaran.
"Tidak sama sekali Rin. Aku bahkan gak tau kalau aku hamil. Taunya hamil juga karena Mas Prince yang muntah terus setiap pagi. . ." Tuturnya.
"Beruntung sekali dirimu. Berarti Prince sangat mencintai kalian berdua. Hingga dia rela mengambil alih semua perasaan dan keadaan yang harusnya kamu lalui."
Isma tersenyum. Benar, suaminya sangat mencintainya. Isma dapat merasakan kehangatan kasihnya yang begitu tulus.
"Is. . . tapi kamu jangan sedih ya. . ." Ujar Isma.
"Hahh. . . Maksudnya?" Tanya Isma heran.
Rina mendekati Isma. Lalu, tiba-tiba dia memeluk Isma.
"Kenapa, Rin?"
"Kemarin aku gak sengaja bertemu Teh Fitri. . ."
"Teteh? Apa dia sehat?" Isma melepas pelukan Rina.
Rina mengangguk.
"Abi. . . Umi. . .? Apa mereka juga sehat?" Tanya Isma.
Matanya sudah berkaca-kaca, dia sangat merindukan keluarganya.
"Umi sehat. Tapi, Abi masih belum sembuh. Sekarang Abi rutin menemui Psikiater setiap hari minggu ke Jakarta."
Air mata Isma jatuh. Dia merasa sangat sedih mendengar kabar Abi yang tak kunjung membaik.
"Is, maafkan aku. . . Sungguh aku tidak berniat membuat kamu sedih." Memeluk kembali tubuh Isma.
"Rin, aku yang menyebabkan Abi jadi seperti itu. Aku egois Rin." Isaknya.
Rina mengelus punggung Isma mencoba menenangkannya.
"Maafkan aku, Isma." Ucapnya menyesal.
"Apa yang harus aku lakukan, Rin?"
Rina tidak menjawab. Dia hanya memeluk Isma mencoba menenangkan rasa sedih di hatinya.
Bandung.
Umi duduk di depan Abi. Dengan pelan, Umi mengelap kaki Abi dengan handuk basah.
"Abi belum sarapan pagi ini. Umi ambilkan sarapan, ya?"
Bukannya menjawab, Abi malah mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau melihat Umi. Bahkan perlahan Abi nerusah menarik kakinya menjauh dari tangan Umi.
"Abi, mau sampai kapan Abi mendiamkan Umi seperti ini? Sebenci itukah Abi pada Umi?" Teriak Umi sambil menangis.
__ADS_1
Kesabaran Umi mualai rapuh. Hatinya hancur setiap harinya karena Abi semakin menjauh darinya.
"Abi egois. Abi egois. . ." Teriak Umi.
Arya dan Fitri berlari keluar dari kamar saat mendengar teriakan Umi. Mereka melihat Umi menangis dihadapan Abi, sementara Abi memalingkan wajahnya dari Umi.
"Abi tidak pernah merasakan cinta. Abi tidak mencintai Umi sebesar cinta Prince dan Isma. . . Ya, Umi sadar, Abi menikahi Umi hanya karena terpaksa, Kan? Karena perjodohan. . ." Ucap Umi.
Dia mengungkapkan segala apa yang dirasakannya. Tidak lagi peduli dengan kemungkinan tubuh Abi akan kembali kejang.
"Sampai kapanpun, Umi akan tetap melindungi Isma. Umi akan tetap mendukung keputusannya. . . Prince bertanggung jawab. Dia tidak akan pernah menyakiti Isma." Sambungnya.
"Abi mau mengabaikan Umi. Baiklah. . . Umi terima. Mulai saat ini. . . Umi. . ."
Sebentar Umi mengehetikan ucapannya. Dia berharap Abi akan menatapnya, meski tatapan kebencianpun tak apa. Tapi, nihil. Abi tidak menoleh sama sekali.
Air mata Umi mengalir semakin deras. Dadanya terasa sesak, Umi memukul pelan dada yang terasa sakit itu.
"Mulai detik ini. . . Umi tidak akan mencampuri urusan Abi. Umi akan tidur di kamar Isma." Tegas Umi sambil mengantapkan giginya.
Lalu Umi berlari menuju kamar Isma. Sedangkan Abi masih terdiam tanpa ekspresi. Dia membiarkan Umi pergi begitu saja. Tidak ada sedikitpun kesedihan terlihat diwajah Abi.
Arya dan Fitri hanya saling berpelukan. Fitri mulai menangis. Dia sedih melihat keadaan Abi dan Umi.
"Mas, apa yang harus kita lakukan?" Tanya Fitri.
"Cukup diam. Kita tetap lanjutkan pengobatan Abi. Dan tugas sayang, hiburlah Umi sesekali." Jawab Arya mantap.
Dipeluknya tubuh Fitri erat.
"Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan, Mas." Ucap Arya sambil mengecup kepala Fitri.
"Insya Allah. Selama Mas masih menginginkan aku untuk berada di samping Mas. Maka selama itu juga aku akan selalu ada di samping, Mas." Jawabnya dengan menambah erat pelukannya.
Sedangkan Umi, dia menangis terisak di kamar Isma. Diraihnya foto Isma.
"Maafkan Umi, dek. Umi belum bisa membujuk Abi." Ucap Umi memeluk foto Isma.
Dan Abi, masih diam di tempat semula. Sekilas terlihat baik-baik saja. Tapi, jika dilihat lebih dekat. Mata Abi berkaca-kaca menahan air yang hendak jatuh melalui pelupuk matanya.
Tangan Abi menggenggam erat, napasnya mulai terdengar berat. Abi menahan emosi yang meluap. Ya, akhir-akhir ini Abi sudah bisa mengendalikan emosinya. Meski belum seutuhnya, setidaknya Abi sudah bisa mengatasi itu secara perlahan.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Isma baru saja selesai melaksanakan dua raka'at sholat hajat. Dan Prince masih berkutik di depan komputer di ruang kerjanya.
Isma pun menyusul sambil membawakan segelas kopi untuk suaminya.
"Mas, adek bawa kopi." Ucap Isma yang bersusah payah membuka pintu ruang kerja suaminya.
Satu tangannya memegang gelas kopi, sementara tangan yang lainnya memegang selimut.
Ya, Isma membawa selimut. Seperti biasa, dia akan tidur di ruangan ini. Menemani suaminya itu. Bukan Isma yang mau, tapi suaminya yang nenginginkan seperti itu.
"Sayang hati-hati. . ." Teriak Prince melangkah menghampiri Isma.
Diambil alih olehnya gelas kopi itu dan di letakkan di atas meja. Lalu, Prince kembali membantu Isma membawakan selimut tebalnya.
"Mas masih lama ya?" Tanya Isma sambil meluruskan kakinya di atas sofa.
"Iya, sayang. Ini tentang perusahaan di Korea." Jelas Prince sambil memijat pelan betis Isma.
"Ya sudah, Mas lanjut kerja gih, adek tidur duluan."
"Maaf ya, sayang. Mas jadi jarang peluk sayang saat bobok."
"Tidak apa. Asal Mas jangan nakal aja."
Prince mengerutkan keningnya tak mengerti dengan kata nakal yang disebutkan Isma.
"Nakal bagaiman?"
"Ya nakal, melirik wanita lain yang cantik dan gak gendut seperti adek." Ucapnya dengan memanyunkan bibirnya.
Prince tersenyum. Dikecupnya bibir manyun itu.
"Jangan pernah ngomong gitu. Sayang itu gak gendut. Hanya saja, sayang kan sedang berdua sama dedek. Makanya terlihat besar." Bujuk Prince.
"Mas masih cinta gak sama adek?"
Kembali Prince mengerutkan dahinya. Kenapa malam ini Isma bertingkah aneh seperti ini.
"Sayang Mas sama adek gak akan berkurang sedikitpun." Memeluk tubuh Isma erat.
__ADS_1
"Benaran?"
"Iya sayang. . ."
"Meski adek gak ada disamping Mas?"
"Iya, saya. . .ng. . . Tunggu apa maksudnya dengan adek gak ada dismping, Mas?" Tanya Prince saat menyadari ada yang membuatnya ambigu dengan ucapan Isma.
"Ya. . .iya. Seandainya suatu saat nanti terpaksa adek harus kembali pada Umi dan Abi. . ."
"Sayang. . ." Prince mengeratkan pelukannya.
Dielusnya punggung Isma lembut. Dia paham sekarang. Sepertinya, Isma sedang merindukan Umi dan Abi.
"Maafkan Mas. . . Mas masih belum bisa meyakinkan Abi. Mas. . . Masih takut untuk menemui Abi." Ucapnya.
Isma hanya diam. Dia mulai meneteskan air mata. Hatinya sedih saat mendengar ucapan maaf dari suaminya itu. Tapi, Isma juga sangat sedih mendengar kabar Abi yang tak kunjung membaik.
"Beri Mas waktu sebentar lagi. . . Mas janji akan bicara dengan Abi. Mas janji akan membuat Abi kembali menerima kita."
"Tidak Mas. Jangan berjanji. Adek gak apa-apa. Adek hanya teringat Umi dan Abi. Rasanya adek sangat merindukan mereka." Ucap Isma.
Prince paham. Prince mengerti kesedihan Isma. Tapi, apa yang bisa dia lakukan sekarang? Hanya memeluk dan memberikan kasih sayang yang bisa dilakukan saat ini.
Prince merasa bersalah, karena beberapa minggu terakhir, dia terlalu sibuk dengan pekerjaan. Sehingga jarang merangkul dan memanjakan ataupun bermanja pada istrinya.
Dia yakin, pasti karena hal itulah Isma mulai merindukan kasih kehangatan Umi dan Abi.
"Kita tidur di kamar malam ini. Sayang gak perlu berbaring sendirian di sofa ini." Ucap Prince sambil mengangkat tubuh Isma.
"Lah, pekerjaan Mas bagaimana?"
"Kerjaan bisa Mas kerjakan besok. Tapi, memeluk sayang tidak bisa ditunda lagi." Menyatukan hidung mereka.
Dengan entengnya Prince menggendong Isma menaiki anak tangga. Isma pun dengan senang hati mengalungkan tangannya dileher suaminya.
"Mas, maafkan adek. Mood kerja Mas jadi terganggu. . ." Ucapnya sedih merasa tidak enak.
"Isma Ramadhani adalah prioritas utama Prince Wijaya, setelah Allah dan Rasullullah. . ." Tegasnya.
Isma membenamkan wajahnya didada Prince, mengeratkan lingkaran tangannya di leher Prince. Dia tersenyum bahagia mendengar kata-kata romantis yang diucapkan Prince.
"Nanti, kalau dedek sudah lahir. . . Dedek jadi Prioritas utama juga ya Mas?"
"Tentu, sayang. Kalian dunia Mas."
Akhirnya, mereka tiba didepan pintu kamar. Prince meminta Isma membuka pintu. Karena tangannya merangkul tubuh kesayangannya itu.
"Adek berat ya, Mas?"
"Sedikit lebih berat dari biasanya. Apa mungkin dedeknya bertambah berat didalam sana?" Mata Prince menatap Perut Isma yang mulai terlihat menonjol.
"Mungkin... Aah, adek gak sabar ketemu sama dia." Mengelus perutnya.
"Hiyaakk. . . Kita sampai." Membaringkan tubuh Isma diatas kasur yang empuk itu.
"Mas cuci muka dulu. Sayang tunggu sebentar." Berlari menuju kamar mandi.
Isma tersenyum senang memandangi punggung suaminya yang akhirnya menghilang di balik tembok kamar mandi.
"Maafkan adek, Abi. Adek tidak sanggup kehilangan Mas Prince. Maafkan adek memilih untuk egois kali ini." Ucap Isma lirih.
Air mata kembali jatuh diujung matanya. Dia memiringkan tubuhnya, lalu membenamkan dirinya dibalik selimut tebal itu.
BERSAMBUNG. . .
Semangat semua. . . πͺπͺ
Semoga aktivitas hari ini akan lebih mudah dan menyenangkan.ππππ
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
Tinggalkan jejak kalian. Agar Author semakin semangat.
Terimakasih atas dukungan kalian. . .π
__ADS_1