
πΉ Hari ini Prince dan Isma kembali bersama dan tak akan terpisah lagi. πΉ
Selamat membaca.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΈπΈπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Pukul 3 dini hari, Isma bangun. Kepalanya masih terasa pusing. Dan, mimpi yang dialaminya terasa nyata.
Pelan Isma mengucek matanya, lalu meraih iphone. Dilihatnya jam dilayar yang menunjukkan pukul 3 dini hari.
"Mas Prince. . ." Ucapnya.
Segera mengedarkan pandagan keseluruh ruangan kamarnya. Dia mencari suaminya yang diyakini telah datang. Merasa tak melihat tubuh yang dicarinya, Isma pun segera berlari keluar kamarnya.
"Mas, Mas. . . Mas dimana?" Tanya Isam yang kini mencari di ruang tengah, dapur, kamar mandi dan taman belakang rumah.
Tidak ada apa-apa yang ditemuinya. Hanya suara jangkrik dan cuaca yang dingin menyeruap membuatnya kedinginan.
"Apa mimpi itu benaran? Atau sekarang aku sedang bermimpi?" Tanya Isma pada dirinya sendiri.
"Dek, kamu ngapain di sana?" Teriak Umi dari dalam rumah.
"Umi. . . Apakah Mas Prince belum datang? Tapi, ini sudah pagi. Apa adek bermimpi?" Tanya Isma lagi.
Dia melangkah mendekati Umi.
"Adek lupa, ya? Prince kan gak jadi datang. Dia sudah berangkat ke Korea sekarang." Jelas Umi.
Isma terdiam. Dia bingung dengan apa yang dikatakan Umi. Sungguh Isma tak paham.
"Adek sendiri yang bilang sama Umi. Katanya Prince mengirim pesan yang mengatakan tidak bisa ke Bandung. . ,"
Belum selesai Umi bicara, Isma sudah berlari masuk ke kamarnya. Entah mengapa, dia langsung mengunci pintu kamar.
Dilihatnya Iphone miliknya dan benar, ada pesan dari suaminya. Mata Isma terbelalak saat membaca pesan itu. Sesaat dunia seakan berhenti berputar.
Bulir bening mulai menetes dari pelupuk matanya. Ya, Isma sangat mengerti arti pesan itu. Tapi, Isma tak mengerti mengapa Abi mencoba memisahkannya dari suaminya.
"Ya Allah, kuatkan aku." Ucapnya dalam tangisan.
Tak ingin berlarut dalam kesedihan, Isma pun berwudhu lalu melaksanakan tahajjud, kemudian membaca Al-Qur'an dan bersholawat sebanyak-banyaknya.
Tak terasa adzan subuh berkumandang. Isma pun segera melaksanakan sholat subuh. Begitu juga dengan Umi dan Abi.
"Abi. . . Umi rasa apa yang kita lakukan adalah salah." Ucap Umi pelan dan ragu.
"Bukankah surga seorang wanita yang telah menikah itu terletak pada suaminya? Dan. . . Kita memisahkan Isma dari surganya. Apa hak kita melakukan itu Abi. . ." Sambung Umi.
". . ."
"Abi, yang berhak memisahkan itu hanya Allah. Yang berhak memberi pengadilan itu hanya Allah. Umi juga benci, sedih dan takut mengingat kejadian hari itu. Tidak Bi, kejadian itu tidak pernah hilang dari ingatan Umi. . ." Tutur Umi dengan deraian air matanya.
"Abi menerima Prince setulus hati. Tapi, Abi belum bisa menerima karena dalam diri Prince mengalir darah lelaki tua itu. Abi. . . Abi belum bisa Umi, ra-rasanya sakit. . ." Ucap Abi yang mulai merasakan setiap otot tubuh tegang.
__ADS_1
"Abi. . . Ya Allah tolong, Abi istighfar. . ." Teriak Umi yang berusaha memangku kepala Abi.
Kini tubuh Abi tergeletak di lantai, tanganya terus bergerak tanpa arah, kaki Abi juga seperti itu. Mulut Abi terkunci rapat, sedangkan bibirnya mulai miring ke kiri.
Abi struk saat itu juga. Umi menangis khawatir. Dan diam-diam Isma menangis melihat Abi. Tanpa sepengetahuan Umi dan Abi, Isma mendengar semua percakapan mereka.
Hatinya sakit melihat keadaan Abi. Tapi, Isma juga kecewa dengan kekerasa hati Abi yang masih terus terkurung dalam traumanya itu.
"Umi. . . Abi kenapa?" Tanya Isma yang akhirnya menghampiri Umi dan Abi.
"Abi struk, dek. Kita bawa Abi kerumah sakit."
Isma membantu Umi menaikkan tubuh Abi keatas kursi roda. Lalu mereka mendorong kursi Abi menuju luar.
Isma sudah menelpon taxi. Jam baru menunjukkan pujul 6 pagi. Beruntungnya sudah ada taxi.
Tidak begitu lama, taxi tiba. Sopir taxi membantu Isma dan Umi memasukkan Abi ke mobil.
"Abi istighfar. . ." Ucap Umi merangkul kepala Abi.
Isma duduk di depan, namun matanya terus menatap kearah Abi. Hati Isma hancur melihat keadaan Abi. Tapi, hatinya juga kecewa saat mengingat bagaimana Abi berusaha memisahkannya dengan suaminya.
"Pak, lebih cepat." Tegas Isma.
Sopir itu pun menambah kecepatan laju mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat.
Sementara Umi dan Abi yang sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit.
Prince berolah raga ringan di halam depan rumah. Usai sholat subuh tadi dia tidak lagi kembali tidur. Bukan, Prince bahkan memang tidak tidur semalaman.
Driitt. . . Driitt. . .
Panggilan dari Bimo.
π±"Ada apa Bim?"
π±"Bos, saya sama Rina mau ke Bandung. Isma menelpon, Abi nya masuk rumah sakit. Apa Bos mau ikut?" Tanya Bimo.
Sebentar Prince berpikir.
π±"Iya, aku ikut. Aku pakai mobil sendiri. Sampai ketemu di Bandung." Jawab Prince.
Ya, dia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nantinya. Satu yang dia inginkan adalah bertemu kekasihnya. Ini alasan yang tepat untuk menemui Abi.
Apapun yang terjadi nanti. Prince sudah siap dengan segala keadaan.
Skiipp. . .
Rumah sakit Bandung. Abi terbaring tak sadarkan diri. Umi dengan setia melantunkan surah yasin didekat Abi.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Isma duduk di depan ruagan Abi. Air matanya mengalir tak berhenti.
"Ya Allah sembuhkan Abi. . . Sembuhkan Abi. . ." Ucapnya.
__ADS_1
"Isma. . ." Teriak Rina yang baru saja tiba di rumah sakit.
Langkah Rina semakin cepat, dia ingin segera memeluk tubuh sahabatnya itu.
Isma pun menoleh dan beranjak dari tempat duduknya. Dia pun berlari dan menerobas dalam pelukan Rina.
"Sabar, ya Is. Semua akan baik-baik saja." Ucap Rina.
Isma mengangguk saja. Air matanya masih terus mengalir. Dan matanya kini menatap jauh kedepan, dimana ada dua lelaki yang melangkah kearahnya.
Satunya Bimo. Ya, Isma yakin itu Bimo. Tapi, satu lagi siapa? Tatapan Isma pudar karena air mata, namun dia masih terus berusaha mengenali wajah itu.
"Mas Prince? Aku tidak bermimpi, kan Rin?" Tanya Isma yang mulai melepas pelukannya.
Benar, lelaki itu adalah suaminya. Dengan segera Isma melangkah pelan dan saat melihat Prince membentangkann kedua tangannya, Isma pun berlari.
Dia.berlari sekencang mungkin, air mata terus menetes. Pandagannya semakin pudar, tapi tak menghalangi langkahnya menuju suaminya.
Bruakkk. . .
Suara tubuh Isma yang menghantam tubuh Prince. Kini, Isma berada dalam pelukan suminya. Pelukan yang dirinduinya.
"Mas. . . Jangan tinggalkan adek. Apapun yang terjadi." Isaknya dalam pelukan Prince.
Tangannya mencengkram erat kemeja bagian punggung Prince. Dia tidak ingin terpisah lagi dari suaminya itu.
"Mas tidak akan kemanapun. Mas akan selalu disini bersama sayang." Ucap Prince sambil berkali-kali mengecup pincak kepala Isma.
"Hhiikksss. . . Adek rindu, adek takut. . . adek bangun pagi ini, tapi Mas gak ada." Tuturnya manja dengan tangisanya yang semakin pecah.
Rina dan Bimo hanya diam dan tersenyum melihat adegan romantis di depan mereka.
Dan seluruh penghuni rumah sakit, ikut terharu seakan sedang menonton sinetron live.
Mereka melupakan dimana mereka berada sekarang. Yang mereka tahu, saat ini mereka tak mau lagi terpisah dan tak mau melepas pelukan rindu mereka.
"Adek gak akan jaiil da nakal lagi. Adek akan selalu tersenyum saat Mas pulang kerja. Adek akan ikut Mas kemanapun. Adek gak akan protes lagi. . ." Isaknya.
Prince tersenyum gemas. Ini lah, Isma yang sangat dicintainya. Dunianya, cinta dan segalanya.
"Mas gak akan pergi. . . Mas disini, sayang. Mas akan selalu ada disini. Love you." Ucap Prince kembali mengeratkan pelukannya.
Ya, sesaat mereka melupakan kedatangan ke rumah sakit untuk menjenguk Abi. Mereka juga melupakan tentang keadaan Abi yang bisa saja semakin kritis saat melihat Prince yang berusaha mengambil Isma darinya.
Bersambung. . .
Hehhee. . .
Untuk Reader tersayang,ππ
Terimakasih masih selalu menyempatkan waktu membaca karyaku.
Jangan lupa like, komen, dan vote juga ya ππ
__ADS_1