
"Panggil orangtua kalian kesekolah sekarang." Teriak kepala sekolah.
Fazil, Rara dan Feisal terdiam mendengar perintah Kepsek untuk memanggil kedua krangtua mereka kesekolah.
"Pak sebaiknya kita bawa mereka keruangan bapak dulu. Tidak baik dikerumuni siswa siswa lain." Saran pak Rudi, penjaga perpustakaan.
"Kalian semua ikut keruangan saya." Ajaknya dengan raut wajah penuh kemarahan.
Begitu tiba diruangan kepsek. Susi hanya terdiam, dia tidak bisa menghubungi orangtuanya karena mereka sedang di luar Negeri. Begitu juga dengan si kembar.
"Kalian ini rupanya anak anak yang kurang perhatian. Pantas saja kelakuan kalian liar, bebas seperti ini. Rupanya orangtua kalian tidak mendidik kalian dengan baik." Celoteh pak Kepsek.
"Maaf pak, jangan membawa bawa orangtua segala. Mereka orangtua terbaik yang mampu mendidik kami. Justru menurut saya bapak lah yang gagal menjadi kepala sekolah." Ujar Fazil yang membuat Kepsek tersulut emosi.
"Berani sekali kamu menghina saya." Teriaknya marah. "Bocah ingusan seperti kalian tahu apa hah tentang pendidikan." Menunjuk wajah Fazil.
__ADS_1
"Kepsek yang setiap hari menggoda penjaga kantin yang cantik. Apa begitu cara bapak mendidik…" Sambung Rara yang sejak tadi muak mendengar cacian kepala sekolah.
Pllaakkkk…
"Kurang hajar. Berani sekali kamu ya…" hendak mendekati Rara. Tapi dengan cepat Fazil menarik Rara untuk bersembunyi dibelakangnya.
"Kalian benar benar ya…" Mencari sapu, lalu mengayunkan tangkai sapu pada tubuh Fazil. Dengan cepat Feisal hendak melindungi Fazil, tapi Fazil yang melihat pergerakan Feisalpun langsung mendorong tubuh Feisal menjauh darinya, dan akhirnya sapu itu tepat mengenai perut Fazil.
Bukan sekali pak kepsek memukul Fazil, namun sudah berkali kali. Melihat kejadian itu, Feisal Rara menangis menggenggam erat bagian baju belakang Fazil. Sedangkan Feisal menatap Kepsek geram.
"Rara, Feisal kalian bawa Fazil pulang. Dan kamu Susi, tetap di sekolah sampai jam pelajaran selesai." Ucap guru kelasnya.
Rara, Feisal dan Fazil pun pulang. Mereka pulang naik angkutan umum. Sepanjang perjalanan Fazil memegangi perutnya yang terasa sakit karena pukulan pak kepsek tadi. Rara yang merasa khawatir hanya bisa menyenderkan kepalanya pada Fazil, begitu juga dengan Feisal. Mereka hampir meneteskan air mata. Dan hanya Fazil yang tetap kuat meski rasa sakit diperutnya seakan membuat napasnya terhenti.
Tidak. Bukan karena kuat, Fazil menahan rasa sakit itu, tapi karena dia ingin kedua saudaranya tenang. Setidaknya dengan melihat Fazil yang baik baik saja, maka kedua saudaranya pun akan merasa baik baik juga.
__ADS_1
"Rahasiakan dulu kejadian ini dari bunda dan ayah. Gue akan menyelesaikan masalah ini sendiri." Ucap Fazil.
"Meski kita merahasiakan masalah ini, bunda dan ayah akan tetap tahu. Terlebih tadi buk Merlin sudah mengirimkan pesan pada ayah untuk datang ke sekolah kita." Jelas Rara.
"Iya Zil. Bunda sama ayah akan segera tahu begitu mereka tiba di Malaysia." Sambung Feisal.
"Gue tahu itu. Maksudnya, selama bunda dan ayah belum pulang, bantu gue untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini." Tegasnya.
"Bunda sama ayah pasti akan sangat kecewa. Fotoku sama Jelita pasti sudah sampai pada mereka. Aku memang anak yang tidak baik. Aku malah berbohong." Celoteh Feisal menyesali perbuatannya.
Fazil hanya diam menahan sakit di perutnya. "Apa pipimu masih sakit, Ra?" Memeriksa wajah Rara yang memang agak merah dibagian bekas tamparan tadi.
"Aku akan membalasnya. Akan aku rusakkan wajah si tua nakal itu." Feisal mengucapkan itu dengan penuh tekad.
Mendengar ucapan Feisal barusan membuat Fazil dan Rara tersenyun geli. Feisal ternyata bisa galak juga. Padahal sejak kenal Jelita, Feisal menjadi cowok yang bucin banget, dan tidak ada hal yang penting kecuali tentang Jelita.
__ADS_1