Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Bukti Cinta


__ADS_3

Malam di Korea.


Rina dan Bimo sedang menikmati berendam di air panas di kamar mandi, kamar mereka. Sedangkan Isma, di balkon kamarnya, duduk bersandar pada dada bidang suaminya sambil menatap cahaya lampu kota Seoul.


"Masya Allah. Begitu indah malam hari di sini."


"Benar-benar indah." Sambung Prince.


Satu kecupan mendarat di kening Isma. Lalu, tangan Prince mengelus perutnya.


"Mas berdoa, agar bayi di dalam sini ada tiga." Ucapnya.


Isma mengerutkan keningnya, menegakkan kepalanya untuk menatap wajah Prince.


"Kenapa tiga. Sangat banyak, gak muat." Protes Isma.


"Sayang lupa? Mas pernah bilang, kalau sayang punya anak kembar tiga?" Tanya Prince sambil menduselkan hidungnya di kepala Isma yang berlapis jilbab itu.


Sebentar Isma mencoba berpikir, kapan suaminya mengatakan hal itu.


"Oh, Encik Malaysia? Mas mengatakan padanya waktu itu. Adek ingat." Jawab Isma lantang.


"Mas ingin benar-benar menjadi kenyataan." Mengelus perut Isma.


Bukan dari luar, Prince menyelipkan tangannya masuk kebalik piyama Isma.


"Mas geli." Protes Isma saat merasa tangan Prince menyentuh perutnya tanpa alas.


"Mas mengelusnya pelan, sayang." Memperlembut elusannya.


"Tapi, kenapa waktu itu Mas bilang adek sudah menikah dan sudah punya anak?" Ketus Isma sambil mempoutkan bibirnya.


"Karena memang sayang sudah menikah waktu itu."


"Maksudnya? Adek menikah dengan siapa?"


"Dalam mimpi dan hati Mas. Adek adalah Istri, Mas."


Kembali Isma mengerutkan dahinya. Kali ini dia juga mengalih posisi duduknya untuk bisa menatap langsung wajah suaminya.


Tapi, dengan cepat Prince menarik kembali tubuhnya untuk bersandar padanya.


"Adek selamanya hanya untuk Mas. Dan bayi-bayi kita yang ada di sini, akan sangat bahagia karena memiliki Ayah yang setampan idol Korea ini." Memuji dirinya sendiri.


Hal itu membuat Isma kembali mempoutkan bibirnya. Dia tidak begitu setuju dengan pujian suaminya.


"Bagaimana kalau bayinya tidak kembar sama sekali?"


"Tidak apa. Mas akan membuatnya lagi, sampai kita bisa memiliki tiga anak."


"Mas menginginkan tiga?" Mencoba menatap wajah Prince hingga terpaksa dia menegakkan kepalanya.


"Sebenarnya Mas ingin lima. Tapi, kalau sayang harus melahirkan sebanyak itu, Mas gak tega."


Isma tersenyum senang. Dia memegangi kedua tangan suaminya yang masih setia mengelus perutnya.


"Makanya, kita berdoa supaya anaknya kembar tiga. Lalu, setelah itu, Mas akan buat lagi yang kembar dua. Jadi, sayang cukup melahirkan dua kali dan kita punya anak lima." Sarannya.


"Sama saja, Mas. Adek tetap akan melahirkan lima kali. Hanya waktunya saja yang lebih pendek." Jelas Isma.


"Apakah begitu?" Tanya Prince kurang paham.

__ADS_1


"Iya, Mas."


Dipeluknya Isma erat. Dia berhenti mengelus perutnya. Lalu diciuminya kening, dan pipi Isma.


"Katanya akan sangat menyakitkan saat melahirkan. Mas tidak ingin adek merasakan banyak kesakitan." Ucapnya.


Isma melepas diri dari pelukan suaminya. Dia membalikkan badannya. Lalu duduk dikedua paha suaminya dengan menghadap langsung.


Dipengangnya kedua pipi suaminya. Lalu, Isma memberi kecupan di bibir suaminya.


"Kebahagiaan perempuan, akan benar-benar lengkap saat bisa melahirkan." Jelas Isma.


"Jadi, Mas tidak usah khawatir. Mas jangan takut dan sedih. Cukup selalu genggam erat tangan adek, saat adek melahirkan bayi kita nanti." Sambung Isma.


Prince tersenyum senang. Lalu dia menarik tubuh Isma lebih dekat padanya. Kemudian, Prince mengangkat tubuh itu. Dia menggendong Isma.


"Mas jangan terlalu erat meluknya. Nanti bayinya sakit." Protes Isma.


Ya kini bayi mereka berada ditengah-tengah keduanya. Perut kotak-kotak Prince dapat merasakan perut Isma yang sudah mulai buncit dan keras.


"Baiklah, maafkan ayah anak-anak. Ayah hanya terlalu merindukan Bunda kalian." Dialognya.


Prince sudah sangat yakin kalau bayinya akan kembar. Setidaknya kembar dua. Isma mengaminkan saja doa suaminya itu.


Begitu tiba di kamar, Prince membaringkan perlahan tubuh Isma diatas kasur.


"Boleh Mas mengunjungi anak-anak malam ini?" Tanya Prince.


Isma tersenyum malu mendengar pertanyaan Prince. Pertanyaan itu seperti dialog di dalam novel saja.


"Kenapa Bunda malu? Apa bunda malu karena Ayah terlalu lama tidak berkunjung?" Goda Prince.


"Baca doa dulu." Ucapnya pelan.


"Baiklah sayang. Ayah datang..." mematikan lampu.


Lalu Prince membaca doa untuk mengunjungi anak-anaknya. Diikuti oleh Isma dalam hati. Dan malam itu mereka terhanyut dalam kasih penuh kehangatan.


Meninggalkan pasangan yang sedang beribadah itu. Di kamar mandi. Rina duduk membelakangi Bimo. Dan Bimo memberikan pijatan-pijatan lembut dipundak Rina.


"Kemana saja bermain hari ini?" Tanya Bimo.


"Namsan Tower." Jawabnya singkat.


"Menyenangkan?"


"Sangat menyenangkan. Aku memasangkan gembok disana."


"Apa tulisan di gembok itu?"


"Semoga Mas semakin mencintaiku."


Mendadak Bimo menghentikan kegiatannya memijit Rina. Lalu, ditariknya tubuh Rina semakin mendakat padanya. Perlahan Bimo mengelus perut Rina yang tertutup oleh buih.


"Sayang masih meragukan cinta Mas?" Tanya Bimo.


Dia meletakkan dagunya di bahu kanan Rina. Dan dengan sengaja dia memberi ciuman di leher Rina yang basah dan terkena buih.


"Entahlah. Aku tidak tahu, Mas. Hanya rasanya, hatiku berkata begitu." Ungkapnya.


"Apa yang harus Mas lakukan agar sayang percaya?"

__ADS_1


Rina menggeleng. Lalu dia merebahkan kepalanya kebelakang, yang tepat di ceruk leher suaminya.


"Mungkin, karena kita terlalu sibuk kerja. Hingga aku merasa semua yang Mas lakukan hanya sebatas rekan kerja."


Bimo menghela napas dalam. Sebenarnya dia tidak begitu mengerti dengan jalan pikiran Rina yang masih tidak bisa merasakan ketulusan cintanya.


"Ini bukti cinta, Mas." Mengelus perut Rina.


"Didalam sini, Mas menanamkan seluruh cinta kasih Mas ke dalam sini." Ucap Bimo.


Rina mengangguk. Air matanya tumpah di pelupuk matanya. Tiba-tiba dia menangis. Bimo khawatir.


"Sayang kenapa? Apa ada yang sakit?"


Rina menggeleng. Dia memeluk erat tubuh Bimo sambil menangis.


Bimo pun menyambut pelukan Rina. Diciumnya kening Rina, mata, hidung dan bibirnya.


"Sungguh Mas sangat mencintaimu. Tidak ada cinta lain selain untuk sayang." Tegas Bimo meyakinkan Rina.


"Mas jangan tinggalkan aku. Jangan membenciku. Aku takut, aku takut, Mas." Ucapnya dalam tangisan.


"Demi Allah sayang. Mas sangat mencintaimu. Mas akan selalu disini. Mas minta maaf karena tidak memiliki banyak waktu untuk sayang."


Bimo memberikan pelukan hangatnya. Ditariknya keran dan air pun jatuh seperti air hujan. Dibawah tetesan air itu, Bimo menciumi tubuh istrinya.


Rina hanya menerima semua sentuhan suaminya. Hingga dia tidak mampu menahan rasa hingga keluar dari mulutnya.


Napas keduanya saling berpacu. Mereka saling berpelukan dan berciuman. Sungguh malam yang luar biasa. Tapi, sejenak Bimo menghentikan perbuatannya.


"Apa sayang baik-baik saja?"


"Iya, aku baik-baik saja, Mas." Jawab Rina masih dengan napas yang tidak beraturan.


"Boleh Mas melakukannya di sini?" Mencium lagi leher Rina.


"Lakukan, Mas. Buktikan seluruh cinta Mas hanya untukku." Ucap Rina terengah.


Suara Rina membuat Bimo tertantang. Hingga dia tidak bisa mengendalikan lagi keinginannya untuk menyatukan cinta dengan istrinya itu.


Tidak berhenti di kamar mandi. Mereka menyudahi mandi air hangat. Lalu, melanjutkan lagi di dalam kamar. Entah berapa kali mereka pindah tempat. Hingga akhirnya mereka terbaring lelah saling berpelukan.


Malam ini merupakan malam yang panjang dan indah untuk kedua pasangan yang tengah melepas rindu mereka. Satu doa dalam hati masing-masing, mereka ingin selalu bersama hingga maut memisahkan.


BERSAMBUNG. . .


Hay hay Reader. . .


Semangat dan terus jaga kesehatan.


Jangan lupa


LIKE


KOMEN


VOTE


Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.


Terimakasih semuanya. . .

__ADS_1


__ADS_2