
Keyra menunggu Gabriel di depan gerbang sekolah. Dia memperhatikan setiap anak SMP yang baru pada keluar dari sekolah untuk pulang.
"Kamu yakin Gabriel sekolah disini?" Tanya Dito suaminya.
"Iya, Dit. Aku pernah melihat Isma menjemput Gabriel di sini." Ungkapnya.
"Mungkin Gabriel dipindahkan sekolah, Key. Lihatlah, tidak ada tanda tanda Isma akan menjemputnya dan lagi pula, Gabriel gak nongol sampai sekarang." Ucapnya.
Dito sebenarnya malas menunggu lama lama. Dia tipe lelaki yang cepat bosan. Keyra mengatakan Gabriel anak darinya. Tapi, Dito sama sekali tidak percaya. Memang Dito pernah berhubungan dengan Keyra saat Keyra masih pacaran dengan Vino. Tapi, apa iya sekali saja bisa langsung menghasilkan anak.
Selalu saja hal itu yang menjadi perdebatan keduanya. Dito bertahan bersama Keyra sampai saat ini, hanya karena Keyra punya banyak uang dan selalu mengikuti keinginan Dito.
"Sudahlah Key, pulang saja. Lagian ngapain coba ngurusi anak yang gak penting." Celotehnya.
"Dit, Gabriel itu anak kamu juga. Kamu kok tega ngomong gitu." Bentaknya marah.
"Lah, siapa suruh kamu meninggalkan anak itu saat memutuskan untuk kabur bersamaku."
"Kamu tu ya..." Masuk kembali kemobil dengan membanting pintunya kuat.
"Semua ini karena kamu Dito. Hidupku jadi berantakan semuanya karena kamu." Menunjuk wajah Dito.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, Key. Sekarang yang aku pedulikan adalah perutku. Aku lapar." Ucapnya datar.
Keyra semakin emosi. Dia benar benar sudah gila, makanya bisa bertahan dengan Dito selama empat tahun ini. Ya, Keyra bertahan dengan Dito hanya untuk mendapat kepuasan saat tidur saja. Karena dia tidak bisa mendapatkan semua itu dari Vino yang terlalu sibuk bekerja.
Itulah salah satu alasan Keyra bertahan bersama Dito. Dia tahu selama ini Dito hanya memanfaatkan uang dan tubuhnya, sama seperti yang dia juga lakukan pada Dito.
"Jadi bagaimana? Masih mau menunggu, atau pergi cari makan?" Tanya Dito yang tidak peduli dengan Keyra yang menahan emosinya.
"Aku mau kita cerai." Tegas Keyra.
Dito terdiam mendengar itu. Tanpa aba aba dia melajukan mobil sangat kencang. Keyra diam seribu bahasa, wajahnya tampak pucat. Keyra paling takut naik mobil dengan kecepatan seperti saat ini. Dito tahu hal itu, dia sengaja melakukan itu karena emosi mendengar Keyra mengucapkan kata cerai.
"Kamu mengenalku lebih dari siapapun Key. Aku tidak suka kata cerai. Dan kali ini kamu mengucapkan itu lagi." Bentaknya tanpa mengurangi kecepatan laju mobil.
Keyra semakin ketakutan. Dia bahkan kesusahan untuk bernapas. Perutnya terasa sangat mual, hingga akhirnya dia muntah. Dito tidak peduli akan hal itu.
"Aku mohon berhenti, Dit. Aku mohon..." Ucapnya memohon.
Dito paling suka saat melihat Keyra memohon dan mengemis seperti itu padanya. Dio pun menepikan mobil.
Keyra segera keluar dan melanjutkan muntahnya. Seluruh kemejanya kotor oleh muntahnya, begitu juga rok mini yang dipakainya. Semuanya kotor dan bau oleh muntahnya.
__ADS_1
Dito ikut turun dari mobil. Dia membuka jasnya, lalu memberikan pada Keyra.
"Lepaskan bajumu. Pakai ini untuk sementara." Ucapnya.
"Brengsekk, aku membencimu." Maki Keyra yang akhirnya menangis.
Dia kembali teringat akan perlakuan lembut Vino padanya. Meski Vino jarang membelainya, tapi Vino adalah lelaki terbaik yang selalu memperlakukannya dengan baik.
"Kamu tahu itu sejak awal. Aku memang seperti ini, karena aku hanya hutuh uang dan tubuhmu." Ucap Dito.
"Lepaskan aku Dito. Lepaskan aku. Kamu boleh mengambil semua uangku, tapi tolong lepaskan aku." Ucapnya sambil terisak.
Dito mendekati Keyra. Dengan paksa ditariknya tubuh Keyra masuk kedalam mobil. Dito mengunci rapat mobilnya, lalu melepaskan semua pakaian Keyra dengan paksa. Keyra tidak bisa melawan, dia selalu terbuai saat Dito menyentuhnya.
"Aku tidak akan mengambil uangmu saja, sayang. Karena sebenarnya aku sangat tergila gila dengan tubuhmu." Melanjutkan kegiatannya di dalam mobil itu.
Untunglah kaca mobil itu kaca hitam. Sehingga tidak ada yang bisa melihat apa yang terjadi di dalam mobil.
"Kamu seperti biinaataang..." Lirih Keyra disela desahannya.
"Aku menjadi seperti ini karena kamu sangat menyukainya sayang." Bisiknya ditelinga Keyra.
__ADS_1
Air mata Keyra jatuh begitu saja. Dia menangis terisak, menyesali segala yang terjadi dalam kehidupannya.
'Maafkan aku, maafkan Mama sayang.' Batinnya.