
"Cindi, apa yang kamu lakukan?" Seorang dokter meghampiri perawat yang ternyata bernama Cindi.
"Dokter? Ah, saya hanya merasa kasihan pada tuan Vino." Ungkapnya.
"Kamu ingin merawatnya? Membantu dia sembuh?" Tanya dokter itu.
Sebentar Cindi berpikir. Lalu mengangguk mengiyakan. Ya, dia ingin merawat Vino. Dia ingin mengenal lebih dekat seorang Vino yang ditinggal selingkuh oleh istrinya. Cindi mulai penasaran tentang penyebab istrinya meninggalkan laki laki sesempurna Vino.
"Pergilah, mulai hari ini kamu menjadi perawat khusus untuk Vino." Ucap dokter itu pada Cindi.
"Terimakasih, dokter." Sahutnya senang.
Lalu Cindi segera menghampiri Vino yang masih memperhatikan semut semut kecil itu.
"Selamat siang Tuan Vino." Sapanya ikut berjongkok di sebelah Vino.
Vino menoleh, lalu tersenyum. Kemudian kembali memandangi semut.
"Tuan Vino lagi ngapain disini?" Tanyanya hati hati.
Vino menunjuk kumpulan semut itu. Lalu tersenyum senang.
"Lihatlah mereka sedang berbagi makanan. Mereka saling talong menolong." Ungkapnya.
__ADS_1
Cindi pun ikut memperhatikan semut semut tersebut. Tapi, hatinya terenyuh sakit, mengingat keadaan Vino semakin memburuk setiap harinya.
"Kenapa Tuhan tidak menciptakan aku menjadi semut saja, ya?" Ucapnya.
"Kenapa tuan Vino mengatakan seperti itu?"
"Lihatlah, semut tidak saling menyakiti. Mereka saling membantu." Menunjuk kumpulan semut itu lagi.
"Tahukah tuan Vino, kenapa Tuhan menciptakan Tuan sebagai manusia bukannya semut?"
Vino menggeleng sambil menatap wajah Cindi.
"Karena, Tuan Vino adalah seorang yang luar biasa. Sedangkan semut, hanya makhluk kecil yang apa bila diganggu salah satu dari mereka, lalu mereka akan menggigit manusia, lalu pada akhirnya mereka akan dibunuh seluruhnya. Sedangkan kita, manusia Apa bila disakiti, kita bisa memilih untuk membalas atau memaafkan. Karena kita hebat. Sementara semut, tidak bisa memaafkan. Mereka hanya akan membalas dendam, meski mereka tahu balas dendam mereka itu akan membunuh seluruh keluarga mereka."
"Jadi aku hebat? Karena aku bisa memaafkan?" Tanya Vino pada Cindi.
Vino tersenyum. Lalu perlahan dia mulai berdiri dan melangkah meninggalkan kumpulan semut itu. Cindi pun mengekor dibelakangnya.
Sementar itu, di rumah sakit tempat Fitri bekerja. Lagi dan lagi pasiennya mengamuk.
"Tanang Amanda, tenang ya..." Bujuk Fitri dan perawat lainnya pada perempuan yang ternyata adalah Amanda.
Saat ini, Amanda memegang gunting yang di dapatnya di ruang kerja salah satu dokter. Entah bagaimana ceritanya Amanda bisa keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Aku tidak membutuhkan bayi sialan dalam perut ini. Akan aku bunuh bayi ini sebelum dia lahir." Teriaknya menodongkan gunting kearah perutnya.
"Jangan, jangan aku mohon jangan..." Teriak salah seorang perawat yang merasa bersalah.
Ya Amanda bisa keluar dari kamarnya, karena keteledoran dirinya yang lupa mengunci pintu kamar itu setelah memberikan Amanda makanan.
"Kalau mbak Amanda membunuh bayi itu, mbak Amanda akan ikut merasakan sakitnya." Teriaknya.
Amanda tersenyum sinis. Dia melepaskan gunting dari tangannya. Lalu dia berlari sekencang mungkin menuju pintu jalan keluar dari rumah sakit.
Semua menjadi panik dan ikut mengejar Amanda. Tapi, mereka terlambat. Amanda sudah berada diatas pohon. Dia siap untuk melompat.
"Aku akan terbang..." Teriaknya sambil melompat dari dahan pohon tempat kakinya berpijak.
"Tidak..." Teriak Fitri sambil berlari kencang mencoba menyelamatkan Amanda.
Gubbrraaakkk...
Suara tubuh Amanda jatuh ke tanah. Fitri menghentikan langkahnya. Dia terdiam menyaksikan tubuh Amanda yang saat ini terbaring di tanah dengan darah mengalir dipahanya.
Beberapa perawat langsung menghampiri tubuh Amanda. Mereka segera mengangkat tubuh itu untuk segera dibawa ke rumah sakit.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya aku lihat?" Ucap Fitri pucat dan gemetar usai menyaksikan kejadian itu.
__ADS_1
"Dokter Fitri? Anda baik baik saja?" Tanya seorang perawat yang khawatir dengan keadaan Fitri.
"Ah iya, saya baik baik saja. Mari kita menyusul Amanda." Melangkah cepat dengan pikiran kosong diiringi oleh dua perawat lainnya.