
Pagi ini Rina begitu semangat. Dia melangkah menuju ruangan Bimo. Sambil menenteng sekotak bubur ayam kesukaan Bimo.
"Bim, kamu udah sarapan?"
Rina sudah tiba di ruangan Bimo. Dan Bimo fokus menatap layar komputer dengan jari yang cekatan menekan tombol-tombol keyboard.
"Sudah tadi sama Isma. Kamu sudah sarapan?" Tanya Bimo tanpa menoleh.
Mendengar hal itu Rina langsung menyembunyikan makanan itu di belakang punggungnya.
"Ok. Mmh, ya sudah kalau begitu aku kembali ke ruanganku."
Rina pun mulai berbalik dengan perasaan kecewa dan juga rasa cemburu. Tapi dia lupa, ternyata saat berbalik, bubur ayam itu tetap di sembunyikan di belakag punggungnya.
"Kamu bawa bubur ayam?" Tanya Bimo.
Sontak Rina menoleh dan langsung menyembunyikan lagi bubur ayam itu.
"Ah, iya. Aku mau sarapan dulu."
Bimo mengerutkan dahinya heran.
"Sejak kapan kamu suka bubur ayam?"
Rina tersenyum malu, dia ketahuan berbohong kali ini.
"Ini buat kamu. Tapi kan kamu sudah sarapan."
"Ya sudah sini. Aku masih belum kenyang nih." Mengulurkan tangan meminta bubur ayamnya.
"Benaran?"
"Iya Rina. . ."
Bimo melangkah menghampiri Rina. Lalu mengambil alih bubur ayam dari tangan Rina.
"Thankyou!!" Ucapnya sambil mengusak puncak kepala Rina yang tertutup jilbabnya.
Rina terdiam. Betapa senangnya mendapat perlakuan seperti itu dari Bimo.
'Ya ampun aku kenapa? Kok bisa jadi deg-degan gini sih. Oh Bimo, kenapa kamu membuat hatiku cenat-cenut kayak marmut gini.' Ucapnya dalam hati.
Bimo menatap heran melihat Rina yang senyum-senyum sendiri dengan mata yang meram-melek.
__ADS_1
"Rina, Rin. . . Hey. . ." Melambaikan tangan di depan Rina.
"Aa, hah??" Jewabnya bingung.
"Kenapa? Senyum-senyum sendiri gitu?"
"Eeng. . . gak kok. Aku kembali ke ruanganku. Selamat menikmati sarapannya."
Rina pun melangkah meninggalkan ruangan Bimo dengan hati yang gembira.
Sementara itu, Isma sedang berada di ruangan Prince. Mereka membahas tentang persiapan untuk peresmian Wonderland theme Park and Hotel di Bogor.
"Ada baiknya ini di balik gini aja, Bos." Saran Isma sambil mencoret-coret lembaran kertas dihadapannya.
"Mana baiknya aja. Ini kan sementara juga. Nanti kita bahas lagi saat rapat sama tim."
"Baik, bos."
Isma pun akhirnya membereskan kertas-kertas berserakan tersebut. Sedangkan Prince hanya duduk diam di depan komputernya. Sambil sesekali Prince curi-curi pandang gitu.
"Ada yang perlu saya bantu lagi, Bos?"
"Nggak ada. Kamu silahkan keluar dari ruangan ini."
"Baik bos. Tanpa disuruh pun saya memang akan meninggalkan ruangan dan perusahaan ini."
Jawab Isma pelan tapi mengena di hati Prince. Alisnya mulai mengkerut hingga hampir menyatu.
"Maksudmu?"
"Setelah even pembukaan wonderland selesai, saya akan langsung menulis ulang surat pengunduran diri."
"What? Mengundurkan diri?" Teriak Prince sambil memukul meja yang untungnya tidak terlalu keras.
"Iya Bos. Saya akan segera mengundurkan diri."
"Kenapa? Apa ada hal yang membuat kamu tidak nyaman?"
"Iya."
"Apa itu. Mungkin aku bisa sedikit membantu."
Sebentar Isma menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Bos arogantnya itu.
__ADS_1
"Saya tidak nyaman setiap kali berada di dekat Bos."
Prince terkekeh pelan mendengar jawaban Isma. Perlahan dia melangkah sedikit mendekat kearah Isma.
"Islam mengizinkan lelaki menikahi dua perempuan, kan? Tapi, kamu akan menjadi satu-satunya wanita yang akan aku nikahi setelah aku beragama Islam." Bisik Prince di telinga Isma.
Napas Isma menderu kencang, dia mencoba menghela napas untuk menenangkan perasaan campur aduk di hatinya saat mendengar bisikan Prince ditelinganya.
"Cukup Bos. Saya harap Bos menjaga sikap saat bersama saya. Saya bukan perempuan murahan yang suka di rayu suami orang." Tegas Isma sambil menggertakkan giginya.
"Siapa yang bilang kamu murahan? Oh astaga! Jadi selama ini kamu pikir aku merayumu?"
Prince tertawa geli. Dia merasa lucu mendengar omongan Isma yang menurutnya terlalu cepat mengambil kesimpulan.
"Aku tidak merayumu. Aku hanya memberitahumu." Ucap Prince sambil melangkah kembali ke tempat duduknya.
"Saya akan segera menulis surat pengunduran di. . ."
Belum selesai Isma mengucapkan kata-katanya, Prince bangkit dari duduknya sambil memukul meja dia melangkah mendekati Isma lagi. Hal itu sontak membuat Isma terkejut.
"Berani kamu menulis surat itu, maka kamu akan saya buat mengandung anak saya. . ."
Prraakkk. . .
Suara renyah saat telapak tangan menyentuh pipi. Suara itu berasal dari tamparan Isma di wajah Prince.
"Kamu memang Bos saya. Tapi, kamu tidak punya hak untuk bicara sembarangan sama saya." Bentak Isma kesal.
Bukannya menjawab atau meminta maaf, Prince malah tertawa geli. Tangannya mengusap pipi kirinya yang terkena tamparan.
Melihat senyum mengejek seperti itu membuat Isma semakin marah dan kesal. Dan dengan perasaan yang masih berapi-api, Isma meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Prince yang akhirnya merubah senyum itu menjadi duka.
Prince membanting remote control AC di tangannya dengan kuat ke arah pintu begitu pintu itu tertutup.
"Aaggrhhhh. . ." Teriaknya kesal.
Isma terkejut mendengar itu. Hingga membuatnya terdiam menutup kedua telinganya di depan pintu.
"I love you Isma. . ." Ucapnya sambil terisak.
Dengan sangat jelas Isma mendengar ucapan itu. Dia pun menyandarkan tubuhnya di daun pintu ruangan Prince. Air matanya juga ikut menetes. This moment, kedua insan itu menangis bersama meski tak saling bisa mendekap erat.
Bersambung. . .
__ADS_1