
Rumah sakit.
Abi dan Fitri tiba dirumah sakit tepat waktu. Umi terbaring lemah ditempat tidur salah satu ruang rawat inap rumah sakit itu. Ditangannya tertancap selang infus.
Arsyid duduk dipinggir tempat tidur Neneknya sambil mengipas wajah Nenek dengan lembaran koran. Sedangkan, Arya masih di ruang dokter untuk berkonsultasi tentang keadaan Umi.
Dengan langkah sangat pelan, Abi memasuki ruangan itu. Diikuti Fitri dari belakangnya.
"Kakek?" Panggil Arsyid begitu melihat Abi.
Abi tersenyum menaggapi Arsyid. Dia menundukkan wajahnya. Karena Abi merasa malu untuk menemui Umi. Tapi, sebenarnya Umi sedang tertidur. Jadi dia bahkan tidak tahu tentang kedatangan Abi.
"Umi sama Kakek datang juga!" Seru Arsyid.
Dia turun dari tempat tidur Neneknya. Lalu melangkah menghampiri Umi dan Kakeknya.
"Umi, Nenek panas terus. Nenek juga tidur terus. Nenek gak mau bangun, padahal aku sedih sendirian." Celotehnya mengadu pada Fitri.
"Biarkan Nenek istirahat. Kepala Nenek sangat pusing katanya. Jadi, tugas kita menemani Nenek sampai Nenek bangun dan sembuh." Tutur Fitri.
Arsyid mengangguk paham. Sementara itu, Abi mulai semakin mendekat kearah Umi. Ditatapnya wajah pucat yag terbaring lemah itu.
"Maafkan Abi, Umi. . ." Ucapnya menyesal.
Perlahan tangannya mulai mengelus kening istrinya itu. Dirasanya kening itu memang sangat panas. Lalu Abi memberanikan dirinya memberi kecupan di kening Umi.
Pada saat itu terjadi, Umi terbangun. Matanya terbuka lebar karena merasa terkejut. Abi juga ikut terkejut, tapi tidak membuatnya menghentikan kecupan di kening Umi.
"Umi sudah bangun?" Tanya Abi sambil membelai wajah Umi.
Umi masih diam, dia bingung dengan apa yang sedang terjadi. Mata Umi masih terus menatap wajah Abi.
"Maafkan Abi. . . Maafkan Abi. . ." Ucap Abi terisak.
Dia menangis tersedu-sedu. Perlahan Umi mendudukkan tubuhnya, lalu memberi pelukan pada Abi.
"Umi juga minta maaf. . . Tidak seharusnya Umi menyakiti perasaan Abi. Maafkan Umi. . ."
Suasana ruangan menjadi penuh haru. Arya yang baru saja kembali pun menghampiri Fitri.
"Abi baik-baik saja, kan sayang?"
"Iya, Mas. Abi sangat baik."
"Kakek sama Nenek kenapa nangis, Umi?" Tanya Arsyid bingung.
Fitri dan Arya saling menatap lalu tersenyum. Kemudian Arya menggendong tubuh Arsyid.
"Mereka sedang menangis bahagia. Karena Nenek sama Kakek sekarang sudah sembuh. Jadi, anak Abi yang pintar ini bisa bermain bersama kakek dan Nenek lagi." Jawab Arya.
"Yeyeye. . . Aku mau main sama Kakek, sama Nenek, sama Abi, sama Umi. . . Tapi. . .!"
"Tapi kenapa, sayang?" Tanya Fitri.
"Aunty sama Uncle, gak ada. . ." Ucapnya sedih.
Ya, kebahagiaan itu tidak lengkap. Karena keluarga mereka belum lengkap tanpa Isma dan Prince.
Arya merangkul bahu Fitri agar semakin dekat padanya dan juga Arsyid. Satu kecupan di kening Fitri diberikan oleh Arya. Lalu mereka melihat kearah Abi dan Umi yang masih menangis dan saling berpelukan.
Sedangkan Isma, saat ini dia sedang demam. Seluruh tubuhnya terasa sangat lemah.
"Sayang, makan dulu ya. Satu suapan saja deh. Sayang hampir seharian gak makan."
Bujuk Prince sambil membawakan ketoprak kesukaan istrinya itu.
"Gak mau, Mas. Rasanya pahit…" Tolaknya.
"Dikit aja, ini udah mas siapkan susu stoberi yang manis."
Prince mulai menyodorkan satu sendok ketoprak kearah mulut Isma. Tapi dia malah semakin menutup rapat mulutnya.
"Sayang, dikit aja. Mas, janji hanya sesuap ini saja. Aaaa. . Aakk. . ." Meminta Isma membuka mulutnya.
Isma menggeleng keras. Lalu dia malah langsung berlari kabur menuju kamar.
Hari ini Prince benar-benar dibuat kewalahan dan khawatir dengan keadaan Isma.
"Sayang, buka pintunya. Sayang, kok Mas malah dikunci di luar?" Panggil Prince dari luar kamar.
__ADS_1
"Adek gak mau makan. Pokoknya adek mau kerja. Kalau Mas gak ngizinin, ya sudah. Adek gak akan mau makan." Sahutnya dari dalam.
Senyum terlihat disudut bibir Prince. Kini dia paham kenapa Isma sejak tadi cuek dan susah diatur. Padahal biasanya kalau lagi demam, Isma akan sangat manja.
"Jadi, sayang ngambek karena gak diizinin kerja?"
"Iya. Adek bosan di rumah terus, Mas. Adek mau kerja. Adek akan hati-hati kok. Lagian ada karyawan adek juga di kantor." Tuturnya.
"Ok. Mas izinin kerja. Jadi, buka pintunya sekarang."
"Mas bohong. Nanti adek buka pintu, Mas malah bilang berubah pikiran." Celotehnya tidak percaya.
"Tidak sayang, Mas janji. Sayang boleh kerja."
"Benaran?"
"Iya, makanya buka dulu pintunya..."
Akhirnya Isma membuka pintu kamarnya. Dipeluknya erat tubuh suaminya itu.
"Mas janji ya, jangan merubah keputusan lagi."
"Iya, sayangku cintaku. . ." Mengeratkan pelukannya.
Isma sangat senang, karena akhirnya diizinkan untuk kembali bekerja. Tanpa dia bisa menyadari, kalau kantornya itu di Bandung. Dia bahkan belum memikirkan dia harus tinggal di mana di Bandung.
Isma juga belum memikirkan bagaimana dengan suaminya yang akhirnya akan ditinggalkannya karena harus ke Bandung. Tidak memungkinkan untuk bolak-balik Jakarta-Bandung dengan kondisinya yang sedang mengandung.
Dia mengesampingkan itu semua. Yang penting saat ini dia telah mendapat izin untuk kembali bekerja.
"Sekarang…" Mengangkat tubuh Isma dalam gendongannya.
"Apa? Adek lagi sakit, Mas. . ." Gumam Isma malu-malu.
"Justru karena adek sakit, sekarang kita…"
"Iihhh, kok gitu. Lepasin Adek Mas... adek masih sakit tau, tenggorokan adek kering, suhu tubuh adek juga masih tinggi panasnya..." Celotehnya sambil memejamkan mata.
Prince bingung, kenapa Isma berceloteh aneh dengan wajah bersemu malu. Memangnya apa yang mau mereka lakukan.
Tubuh Isma digendong Prince. Di bawanya kedapur, didudukkan di atas kursi meja makan. Saat itulah Isma akhirnya membuka matanya.
Dia menatap bingung. Lalu, tertunduk malu sambil memukul pelan kepalanya.
Dia datang membawa piring ketoprak tadi dan juga susu stroberi kehadapan Isma.
"Mas nyuruh sayang makan. Sayang mikir apa hayo…" Goda Prince dengan tatapan sangat menggoda iman.
"Eng. . . Eeennggak kok. Adek gak mikir apa-apa. Cuma mikir mau makan." Ucapnya kesal karena digoda.
"Sayang habiskan makannya. Nanti kita ke Mall."
"Ngapain ke Mall?"
"Beli semua perlengkapan untuk pekerjaan sayang."
Isma mengerutkan dahinya bingung. Perlengkapan kerja bagaimana.
"Pekerjaan Adek aman kok, Mas. Gak perlu ada perlengkapan."
Satu suapan mendarat ke mulut Isma. Siapa pelakunya. Jelas suaminya. Dia dengan senang hati menyuapi istrinya.
"Sayang, kan tahu. Mulai minggu depan Mas akan sangat sibuk mengurus perusahaan. Termasuk proyek di Bali, Batam dan Jeju, Korea."
"Iya tau. Terus apa hubungannya dengan perlengkapan kerja adek?"
"Adek memangnya mau bolak-balik Jakarta-Bandung? Kalau mau seperti itu, lebih baik gak usah kerja." Ujar Prince.
"Heengg. . ."
"Mas gak mungkin ke Bandung. Pekerjaan di Jakarta benar-benar sangat banyak. Akan repot kalau Mas bolak-balik Jakarta-Bandung." Sambungnya sambil menyuapi Isma.
Kali ini Isma diam. Dia mulai memikirkan apa yang sedang dibicarakn suaminya.
"Atau mungkin sayang, mau tinggal di rumah Umi?"
"… … …"
"Ya, kalau sayang tinggal di rumah Umi, bagus juga. Jadi nggak perlu persiapan untuk mencari tempat tinggal baru dan barang-barang baru. Bagus juga."
__ADS_1
"Tunggu. . . Mas ingin adek tinggal di rumah Umi?"
"Satu-satunya pilihan terbaik. Karena Mas gak bisa jagaian adek. Jadi, bagusnya ada Umi yang bisa jaga adek."
"Tapi... kalau Adek kangen sama Mas gimana? Kalau Abi gak ngizinin adek ketemu Mas gimana?" Ujarnya mulai khawatir dan memikirkan segala sesuatunya.
Prince tidak menjawab. Dia hanya mengangkat kedua bahunya.
'Katakan sayang gak jadi kerja. . . Ayo katakan...' Batin Prince penuh harap.
Ya, ini semua bagian dari taktiknya untuk membuat Isma berubah pikiran dan membatalkan keinginannya untuk kembali bekerja.
"Adek... Mas… adek mau kerja. Apapun yang terjadi, adek tetap mau kerja. Tinggal di rumah Umi bukanlah ide yang buruk. Adek pasti bisa mengatasinya. Toh meski adek di Jakarta, Mas juga akan tetap sibuk dan kita juga akan jarang bertemu dan mengobrol." Tutur Isma.
Penuturan itu membuat Prince tersulut emosi. Tapi, berhasil ditahannya. Dia tidak habis pikir Isma bisa beranggapan seperti itu.
"Jadi sayang baik-baik saja kalau kita susah bertemu?"
"Mmm,"
Isma mengangguk yakin sambil meminum susu stoberinya.
"Sayang yakin?"
"Iya, Yakin. Lagian Mas juga sibuk..."
Isma mulai melangkah meninggalkan meja makan. Dan Prince masih duduk diam disana. Rasanya kecewa mendengar ucapan Isma.
Dia kira, Isma ingin selalu bersamanya dan tidak ingin terpisah walau sebentar. Karena itulah yang dia rasakan. Tapi, ternyata Isma malah berbanding terbalik dengan apa yang dibayangkannya.
Saat Prince semakin berlarut dalam lamunannya. Tiba-tiba saja matanya ditutup oleh Isma menggunakan telapak tangannya.
"Tebak, siapa saya?"
Isma meniru suara bayi. Prince terkejut. Tapi, perasaan sedihnya mulai berkurang mendengar suara Isma yang sepertinya ingin bercanda dengannya.
"Siapa...ya… apa ini sayangnya Mas?" Menyentuh jemari Isma yang menutup matanya.
"Betul..." Ucapnya girang.
Lalu Isma menjauhkan tangannya dari area mata Prince. Dia tersenyum senang menatap wajah suaminya itu.
"Gendong…" Rengeknya.
"Baiklah tuan Putri."
Prince menggendong tubuh Isma segera.
"Mau kemana kita tuan Putri?" Mulai melangkah meninggalkan dapur.
"Kemanapun yang Mas inginkan. Jangan pernah tinggalkan adek sendirian walau sebentar. Selalu bawa adek kemanapun, meskipun itu untuk pergi bekerja. Karena, adek janji tidak akan mengganggu pekerjaan, Mas." Ucapnya manja.
Isma mengungkapkan semua yang diinginkannya dari suaminya itu. Dia berharap suaminya mengerti makna tersirat dibalik kata-katanya.
"Tapi, bukankah adek mau kembali kerja? Apa adek mau Mas antar ke Bandung sekarang? Ke rumah Umi?"
Isma menggeleng kuat. Dia juga mengeratkan lingkaran tangannya di leher suaminya.
"Adek gak akan kemanapun. Asalkan Mas selalu ada di dekat adek. Itu saja sudah cukup." Ucapnya.
Prince tersenyum. Kini dia paham apa makasud Isma. Dipercepatnya langkah menuju kamar, membawa kesayangannya itu.
"Baiklah, Mas tidak akan meninggalkan sayang sendirian lagi. Mas akan membawa sayang kemanapun Mas pergi."
Prince memberikan kecupan hangat di kening Isma. Betapa bahagia hatinya saat ini.
BERSAMBUNG. . .
Hay hay Reader. . .👋
Semangat dan terus jaga kesehatan.
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
VOTE
__ADS_1
Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.
Terimakasih semuanya. . .🙏❤❤