Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Keajaiban


__ADS_3

Seperti yang dijanjikan. Pagi ini Prince kembali menemani Isma berjalan-jalan ditaman. Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Sampai pada akhirnya, Prince kehilangan kewaspadaannya.


Pria berpakaian serba hitam itu dengan nekat kembali menjalankan rencananya. Dia berlari dengan kencangnya dari arah belakang menabrak Isma dan Prince yang sedang berjalan santai.


Ggubbrraaakkk…


Pria itu menabrak tubuh Isma dan Prince bersamaan. Genggaman tangan Prince dan Isma terlepas. Tubuh Isma terjatuh kesamping kiri dan tubuh Prince terjatuh ke kanan. Pria berpakaian hitam itu melanjutkan langkahnya tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Sayang…" Teriak Prince khawatir saat melihat Isma tertelungkup.


Prince juga mengalami hal yang sama. Dia juga telungkup diatas rumput, dan tanpa disadarinya keningnya terhantuk pada pinggiran kursi kayu taman.


Prince berdiri dan melangkah secepat mungkin menghampiri Isma. Segera dibawanya tubuh Isma dalam pangkuannya.


"Sayang…" Panggilnya sambil mengelus perut dan wajah Isma.


"Mas…" Ucapnya sangat lemah.


Prince khawatir. Dia mencoba mengangkat tubuh Isma. Pada saat itu, Prince merasakan sakit pada pergelangan kakinya. Tapi, dia menahannya dan terus berusaha berdiri sambil menggendong tubuh Isma.


Dalam gendongan Prince, Isma hanya terdiam. Matanya terbuka, tapi tidak berkedip. Napasnya tidak terdengar oleh Prince.


"Sayang… sayang… bertahan sebentar."


Air mata sudah menetes dari pelupuk matanya. Pergelangan kakinya yang sakit tak dihiraukannya. Yang dia pikirkan saat ini keselamatan istri dan anak-anaknya.


Beberapa orang yang melihat langkah tertatih Prince dan tetesan darah dari balik gamis Isma, membantu Prince membawa tubuh Isma hingga tiba di mobil.


"Sayang… sayang bertahanlah…" Ucap Prince.


Air mata yang terus mengalir membuat pandangannya buram. Orang-orang itu membantu memasukkan tubuh Isma kedalam mobil. Tubuh Isma didudukkan di kursi depan dan dipasangkan seatbelt oleh mereka.


"Terimakasih… terimakasih…" Ucap Prince tanpa bisa melihat jelas wajah-wajah orang-orang yang telah membantunya.


Prince segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Sedangkan Isma masih terdiam dan mulai bernapas dengan tarikan napas yang tersengal-sengal dan sangat pendek.


"Sayang…" Prince mengelus wajahnya.


Sementara tangan lainnya memegang erat stir mobil. Beruntungnya jalanan saat itu tidak begitu ramai, hingga Prince bisa mengebut.


"Mma..mmass…" Ucap Isma terbata-bata dan air mata mengalir dipelupuk matanya.


"Iya sayang, Mas disini. Sebentar lagi kita sampai…" Mengelus pipi Isma tanpa menoleh.


Prince harus fokus menatap jalana di depan sana. Karena dia tidak bisa melihat jelas akibat air mata yang terus mengalir.


Napas Isma terdengar cepat dan terengah-engah. Rasanya Prince ingin segera menghentikan mobil dan memeluk tubuh Isma. Tapi, dia tidak ingin terlambat membawanya ke rumah sakit.


"Sayang, sebentar lagi. Bertahanlah, Mas mohon. Ya Allah…" Ucap Prince dalam tangisnya.


"Allah… hmhmm… Allah…" Ucap Isma ditengah tarikan napasnya.


Prince membelokkan mobilnya memasuki perkarangan rumah sakit. Dengan cepat dia mematikan mesin mobil, lalu turun dan berlari tergesa membuka pintu mobil untuk Isma.


Segera Prince menggendong tubuh Isma masuk ke rumah sakit. Dan darah terus berceceran sepanjang perjalanan Prince membawa tubuh Isma masuk ke dalam rumah sakit.


Suster yang melihat itu, segera membawakan kursi roda pada Prince. Tapi Prince tak menghiraukan itu. Dia terus menggendong tubuh Isma dan membawanya ke ruangan rawat umum.


Segera Prince membaringkan tubuh Isma diatas tempat tidur di ruangan rawat umum tersebut.

__ADS_1


"Dokter tolong selamatkan istri dan anak-anak saya." Ucapnya pada Suster yang tadi membawakan kursi roda.


"Mas sabar, saya akan memeriksa terlebih dahulu keadannya." Ucapnya.


Lalu suster itu meminta salah satu suster lain untuk memanggil dokter kandungan. Sementara dia mencoba memeriksa keadaan Isma. Dan Prince masih setia berdiri disana sambil menggenggam erat tangan Isma.


"Apa yang terjadi!" Seru Dokter yang baru datang dengan langkah tergesa.


"Sepertinya terjadi pendarahan Dok." Sahut suster yang memeriksa Isma.


"Dokter tolong selamatkan istri saya." Ucap Prince memohon.


"Insya Allah, Pak. Saya akan mencoba sebaik mungkin." Menepuk bahu Prince.


"Pindahkan pasien keruang operasi." Perintahnya.


Tubuh Isma dibawa ke ruang ICU. Prince menunggu diluar dengan penuh kekhawatiran.


Sejak tadi, Bimo menghubunginya. Tapi, sedikitpun Prince tidak mengalihkan konsentrasinya dari rasa khawatir menunggu Isma.


Dia tidak menghubungi siapapun. Dia tidak punya waktu untuk melakukan itu. Yang dia rasakan dan pikirkan saat ini hanya kekhawatiran terhadap istri dan anak-anaknya.


Satu jam…


Dua jam…


Dokter akhirnya keluar dari ruangan itu. Prince langsung berdiri dan menghampirinya.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya."


"Allah masih menyelamatkan istri dan anak-anak, pak Prince." Ucapnya menepuk bahu Prince.


Dokter itu ikut duduk disamping Prince. Dia membantu Prince kembali bangkit dari sujudnya.


"Pak Prince, izinkan saya memeriksa pergelangan kaki anda dan juga dahi anda." Ucap Dokter.


"Saya ingin melihat istri saya dulu, Dokter."


"Istri anda sedang disiapkan untuk dipindah ke ruangannya."


"Saya akan memeriksa luka saya setelah saya melihat istri saya." Tegasnya.


Beberapa suster keluar dari ruang operasi dengan mendorong troli Isma untuk di pindahkan ke ruang rawat VIP.


Isma masih belum sadar. Pakaiannya telah diganti dengan pakaian rumah sakit, kecuali jilbabnya yang masih tetap sama. Seluruh tubuh Isma diselimuti dengan lengkap hingga leher Isma.


Melihat itu Prince sedikit merasa lega. Sebentar dia memberi ciuman didahi Isma. Dan saat Isma dibawa keruangannya, Prince dibawa oleh dokter itu keruangan dokter umum.


Setibanya di sana, Prince melakukan X ray pada pergelangan kakinya. Dan benar, pergelangan kaki Prince mengalami pembengkakan.


Dokter membalut pergelangan kakinya dengan perban setelah mengoleskan obat. Tidak lupa, Dokter juga menjahit luka di dahi Prince setelah membersihkan sisa-sisa tetesan darah di dahi dan pipi sebelah kirinya.


Setelah di obati, Prince langsung menuju ke ruangan Isma dengan bantuan suster mendorong kursi rodanya.


"Terimakasih, Suster." Ucap Prince saat tiba di depan ruangan Isma.


Kemudian dia segera masuk. Isma menangis menatap kearah suaminya yang kini menjalankan kursi roda sendiri menggunakan tangannya.


"Sayang… apa masih sakit?" Tanya Prince mengelus lembut pipi Isma.

__ADS_1


Isma menggeleng dan terus menangis. Hal itu membuat Prince khawatir. Dengan tertatih dia bangkit dari kursi roda dan akhirnya duduk di pinggir tempat tidur Isma.


Digenggamnya erat tangan Isma dengan tangan kirinya. Dan tangan kanannya menghapus air mata dipipi Isma.


"Maafkan Mas…" Membaringkan tubuhnya di samping Isma.


Tangan Isma melingkar erat dileher suaminya. Dia masih menangis tersedu-sedu.


"Sayang…" Ucap Prince.


Perlahan dia menyentuh tombol disamping kiri tempat tidur Isma. Hingga tempat tidurnya bergerak membentuk sandaran. Isma bisa dengan leluasa bersandar sambil terus memeluk Prince.


"Adek takut…" Isaknya dalam pelukan Prince.


"Mas ada disini. Mas tidak akan kemana-mana." mengelus punggung Isma lembut.


"Peluk adek lebih erat. Adek gak mau kehilangan Mas." Pintanya sambil menangis.


Prince mengatur posisinya. Dia mengesampingkan rasa sakit dipergelangan kakinya. Dengan nyaman dia berbaring disamping Isma, lalu membawa Isma dalam pelukannya.


Perut besar Isma menyentuh perut Prince. Dan saat itu Prince merasakan tendangan dari dalam perut Isma.


"Anak-anak sepertinya protes, karena ayah memeluk bunda terlalu erat." Ucap Prince.


Isma tidak menyahut. Dia semakin membenamkan tubuhnya dalam pelukan Prince.


"Sayang tenang. Jangan takut, semuanya baik-baik saja. Anak-anak kita juga hebat. Mereka baik-baik saja di dalam sini." Menyentuh permukaan perut Isma.


Satu tendangan kembali terasa. Hal itu membuat tangisan Isma makin keras.


"Sayang… apa tendangan baby menyakiti sayang?" Tanya Prince khawatir.


Isma menggeleng kuat. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Dan kembali bayi mereka menendang lagi. Namun, tendangan kali ini membuat Isma tersenyum dalam tangisnya. Dan Prince memahami kenapa Isma menangis.


"Sayang bahagia, karena anak-anak bertahan dengan baik?" Tanya Prince.


Isma mengangguk kuat dalam pelukan Prince. Senyum ikut mengembang dibibir Prince. Pelukan hangatpun kembali diberikan pada istri dan anak-anak nya.


Betapa bersyukurnya mereka, karena Allah masih melindungi mereka. Allah menyelamatkan kandungan Isma dan memberi kekuatan pada Isma untuk tetap bertahan, meski banyak darah yang keluar dari tubuhnya.


Jika Allah sudah berkehendak, makan tidak ada yang mustahil baginya. Mudah saja bagi Allah melakukan sesuatu pada siapa dan pada apa yang dilehendaki-Nya.


BERSAMBUNG


Hay hay Reader. . .


Semangat dan terus jaga kesehatan.


Jangan lupa


LIKE


KOMEN


VOTE


Tinggalkan jejak kalian. Karena jejak kalianlah yang menjadi semangat Author menulis.


Terimakasih semuanya. . .

__ADS_1


__ADS_2