Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Berubah!!


__ADS_3

Sepekan telah berlalu, semua kembali normal. Isma masih bekerja sebagai sekretaris yang bekerja tanpa pernah mengeluh. Isma menjadi lebih pendiam. Dia tidak lagi protes dengan apa yang diperintahkan atasannya.


Sedangkan Prince sibuk mengurus pernikahannya dengan Keyra. Dan hari ini Prince menemani Keyra memilih undangan dan juga gaun pengantinnya.


"Prince, gimana kalau yang ini?" Memperlihatkan design undangan yang disukainya.


"Bagus, simple." Jawabnya singkat.


Keyra diam saja, dia tahu pernikahan ini hanya untuk menutupi kehamilannya. Mereka juga sudah membuat perjanjian, segera bercerai setelah bayi dalam kandungan Keyra lahir. Prince juga menekankan agar Keyra tidak berharap cinta darinya.


"Yang ini saja, mbak." Pilihnya sesuai yang disetujui Prince.


"Ok. Mau di cetak berapa ribu?"


"1000 saja." Sahut Prince.


"Tapi Prince itu terlalu sedikit, setidaknya 3000 undangan. Aku punya banyak teman, kmmu juga, kan?" Protes Keyra.


"Seribu itu sudah kebanyakan, Key. Pernikahan kita sederhana saja lah, saat pengucapan janji cukup keluarga dan teman terdekat saja. Resepsinya sederhana saja, cukup kok."


Prince menjawab tanpa melihat kearah Keyra. Dia hanya sibuk menatap layar handphone sambil sesekali mengetik juga. Ya rupanya Prince bekerja sambil sesekali berkomunikasi dengan Isma sebgai sekretarisnya.


"Prince udah selesai. Kita langsung ke tempat gaunnya." Ajak Keyra.


"Oh. . . Ok."


Prince menggandeng tangan Keyra untuk menuju mobil. Kemudian mereka pun menuju butik pengantin. Setibanya di butik, Keyra langsung mencoba gaun yang menurutnya paling indah.


"Prince gimana? Cantik nggak?" Berputar dan berlegak-legok dengan gaun putihnya.


Lagi dan lagi Prince mengangguk setuju. Jujur saja, secantik apapun Keyra dengan balutan gaun itu, dalam hati dan pikirannya hanya ada Isma.


"Ya udah mbak, gaun yang ini saja." Ujar Keyra lesu.


Jujur dia sedih dengan perlakuan Prince. Ya dia sadar Prince tidak menginginkan pernikahan ini. Tapi tetap saja, Keyra berharap lebih dengan pernikahan ini.


'Aku janji Prince, aku akan membuat kamu mencintaiku dan melupakan perempuan itu.' Batin Keyra.

__ADS_1


"Masnya sekalian coba bajunya." Saran pemilik butik.


"Iya mbak. . ." Sahut Keyra.


"Nggak usah. Aku percaya aja semuanya sama kamu. Bajunya pasti pas kok." Tolak Prince.


dan kali ini dia berjalan lebih dulu, karena urusan baju telah selesai.


Dengan perasaan sedih dan kesal Keyra menyelesaikan urusan baju mereka. Lalu dia segera menyusul Prince yang sudah siap di dalam mobil.


Keyra masuk ke mobil, tidak ada suara sama sekali. Mereka hanya saling diam.


"Kemana lagi nih?" Tanya Prince akhirnya.


"Antar aku pulang saja. Lagi pula sepertinya kamu sibuk dengan pekerjaan kantor." Sahut Keyra.


"Key, kamu gak usah marah lah. Kamu kan tahu, aku memang setuju untuk menikahimu. Jadi kita cukup menikah saja, gak usah di buat ribet. Aku banyak pekerjaan di perusahaan."


"Iya aku paham kok. Itulah makanya aku mau pulang aja. Kita cukup nikah kan? ya udah semuanya udah selesai kok." Bentak Keyra kesal.


"Ok. Aku antar pulang."


Prince melajukan mobilnya untuk segera mengantar Keyra pulang. Tapi di perjalanan matanya malah melihat pemandangan yang tidak mengenakan hatinya. Di seberang jalan sana, Isma sedang bercanda tawa dengan Bimo di depan Restoran.


"Eh tapi Bim, aku pernah lo ketemu si arif. Tapi dia gak selucu dulu lagi." Ucap Isma sambil tertawa pelan.


"Masih lucu dia, Is. Mungkin dia sok cool aja di depan kamu."


"Bisa jadi."


Merekapun kembali tertawa sembari menunggu makan siang mereka siap di bungkus.


Ting…


Handphone Isma berbunyi, notif di Wa nya. Ya rupanya Wa dari Prince.


Boss:

__ADS_1


Isma jangan lupa siapkan makan siang saya.


Sebentar lagi saya tiba di kantor.


Isma terdiam membaca pesan itu. Seharusnya Prince makan siang bersama Keyra saja. Bukankah mereka sedang mengurus segala keperluan pernikahan.


"Aku kira setelah Bos menikah, aku akan sedikit terbebas dari pekerjaan seperti ini." Ucap Isma.


"Maksudnya?" Tanya Bimo penasaran.


Isma pun menyodorkan Handphonenya pada Bimo. Mata Bimo membulat saat membaca Wa dari Prince.


"Aneh nih lelaki. Kenapa gak sekalian makan siang aja sama bojonya."


"Berantam kali. Maklum, setiap akan memulai pernikahan pasti ada aja kesalahan dan perdebatan."


"Bos tu aneh. Tunangan lama-lama sama Amanda, eh gak ada angin gak ada hujan malah nikah sama Keyra. Atau jangan-jangan Keyra udah hamil du. . ."


"Hush. . . Kamu ada-ada aja, Bim. Udah lah terserah mereka saja, bukan urusan kita juga." Sahut Isma.


Sebenarnya bukan hanya Bimo yang berpikiran seperti itu, sejak Prince mengumumkan tentang pernikahannya yang tiba-tiba dengan Keyra, semua karyawan menggosipkan hal yang sama.


Isma yang tahu tentang kebenarannya hanya bisa diam. Dia tidak mau ambil pusing tentang semua itu. Jujur saja, hati Isma masih sangat kecewa dan terluka oleh Prince.


Bagaimana tidak terluka, Prince datang menawarkan cinta dan kebahagiaan, tapi ternyata itu hanya gurauan semata. Isma masih berusaha untuk menenangkan hatinya. Berusaha untuk menjaga propesionalitasnya sebagai seorang sekretaris.


"Ya udah la, aku pesan dulu satu lagi buat makan siang Bos." sambung Isma.


"Ok, aku tunggu di sini aja lah." Jawab Bimo.


Isma pun melangkah masuk ke restoran, sekalian menjemput pesanan mereka yang ternyata sudah siap.


Sedangkan Prince sudah meluncur menuju rumah Keyra. Setelah mengantar Keyra, Prince langsung menuju Perusahaan tanpa bertanya apakah Keyra mau makan siang atau tidak.


Begitu sakit rasanya hati Keyra mendapat perlakuan seperti itu dari Prince. Sepeninggalan Prince Keyra menangis dan dia juga merasakan perutnya sakit, sepertinya dia mengalami kram perut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2