Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Gangguan kejiwaan


__ADS_3

Keadaan Isma mulai membaik. Saat ini, dia sudah berada di Bandung. Sedangkan Prince sudah di Korea. Dia tetap berangkat ke korea karena urusan mendadak berkaitan dengan perusahaan.


Meski begitu, Prince selalu menelpon setiap per tiga puluh menit.


"Kalau menelpon terus, kapan Mas kerjanya?" Protes Isma.


"Mas khawatir sayang."


"Adek baik baik saja, Mas. Kalau ada apa-apa, ada Umi sama Abah. Teh Fitri juga sering datang." Jelasnya.


"Baiklah. Kalau begitu, Mas kembali kerja. Sayang baik baik ya." Ucapnya sebelum mengakhiri panggilan.


"Suamimu telpon lagi, dek?" Tanya Umi.


"Iya, Umi. Mas Prince terlalu khawatir. Padahal adek baik baik saja." Membantu Umi menyusun piring yang baru selesai dicuci.


"Ya, wajar saja dia khawatir. Istrinya sedang mengandung tiga buah hatinya dan dia pergi saat adek dalam keadaan yang sedang tidak baik." Ujar Umi.


"Adek paham, Umi. Hanya saja, hari ini Mas sudah menelpon sebanyak belasan kali."


"Nikmati saja perhatiannya. Nanti ada saatnya dia benar benar sibuk dan susah menghubungi." Mengelus perut Isma.


Hanya senyum yang terlihat dibibir Isma. Dia membenarkan apa yang barusan Umi katakan. Mungkin saat ini Prince belum begitu sibuk sehingga masih sempat menanyakan kabarnya.

__ADS_1


"Sayang bunda lagi apa? Sehat selalu ya sayang. Kita doakan agar semua urusan Ayah dipermudah. Aamiin." Bicara pada bayi bayinya yang masih di dalam perutnya.


Di Jakarta. Fitri sedang menenangkan seorang pasien yang mengamuk. Pasien itu ingin membunuh setiap pria dan wanita yang dilihatnya. Terlebih jika dia tahu, pria dan wanita itu merupakan pasangan kekasih atau pasangan suami istri.


"Apa pasien selalu seperti ini?" Tanya Fitri pada salah satu perawat yang ikut membantunya.


"Sejak kedatangannya memang selalu seperti ini saat terlambat memberinya obat." Jawabnya.


"Sudah berapa lama pasien ini di sini?"


"Hampir tiga minggu."


Fitri mengangguk paham. Dia berhasil menyuntikkan obat penenang pada pasien tersebut.


'Kasihan, wajah cantik dan kulit terawat seperti ini, malah mengalami gangguan kejiwaan.' Ucap Fitri dalam hati sambil menatap wajah pucat pasiennya itu.


"Baiklah. Tolong jaga pasien ini. Kalau ada apa apa langsung panggil saya." Perintah Fitri pada perawat itu.


Lalu, Fitri segera menuju ruangannya. Dimana seorang pasien sedang menunggunya.


"Selamat sore mas Vino!" Sapa Fitri pada pasiennya.


"Selamat sore dokter." Jawabnya lesu.

__ADS_1


"Kenapa sangat lesu? Apa masalahnya semakin memburuk?" Tanya Fitri.


"Begitulah dokter. Istri saya semakin hari semakin membuat saya stres. Belum lagi anak saya yang bahkan tidak mau melihat saya sama sekali." Tuturnya.


Fitri mencatat penjelasan Vino dan memeriksa hasil catatan beberapa minggu lalu saat Vino datang menemuinya.


"Istri saya semakin sering memanggil saya dengan nama mantan suaminya." Lanjutnya.


"Boleh tatap saya sebentar?" Saran Fitri.


Tanpa ragu Vino menatap mata Fitri. Keduanya saling bertatapan kurang lebih dua menit. Tatapan Vino kosong, benar benar kosong. Fitri kesusahan menembus perasaan yang sedang dirasakan Vino.


"Apa yang Mas Vino rasakan saat ini?"


"Tidak tahu Dokter. Rasanya hampa, saya bahkan tidak lagi merasakan sakit saat tangan saya tersayat benda tajam." Jelasnya sambil memperlihatkan bekas sayatan di pergelangan tangannya.


"Istri mas Vino tahu, keadaan mas Vino yang seperti ini?"


"Tahu, tapi dia tidak peduli." Jawabnya datar.


"Apa yang mas Vino inginkan untuk saya bantu?"


"Pertemukan saya dengan mantan suami istri saya."

__ADS_1


Mata Fitri terbelalak kaget. Lalu menatap mata Vino. Tapi, kemudian Fitri kembali lega. Rupanya Vino benaran tulus hanya ingin bertemu untuk bicara, bukan untuk melakukan hal mengerikan ataupun balas dendam.


Bersambung…


__ADS_2