Pangeran Cinta Beda Agama

Pangeran Cinta Beda Agama
Jadikan aku Milikmu


__ADS_3

Rumah sakit.


Prince dan Isma sudah berada di ruangan tempat kakek di rawat. Mama sama Papa juga ada disana.


"Kakek, Prince datang. . ." Ucap Prince sambil mencium kening kakeknya.


Isma berdiri di samping Prince dengan perlahan menyentuh tangan Kakek yang dipenuhi dengan peralatan, selang dan infus.


"Kakek sangat merindukan mu, Prince. Terakhir kakek memanggil namamu." Ujar Mama yang sinis menatap kearah Isma.


"Maafkan Prince, Kek. Prince terlambat menemui kakek." Ucapnya penuh rasa penyesalan.


Isma memeluk tangan Prince dan menyenderkan kepalanya di bahu Prince.


"Sayang, Kakek masih akan sembuh, kan?" Tanya Prince yang juga menyenderkan kepalanya kekepala Isma.


Mereka menggenggam tangan kakek bersamaan. Dengan penuh harap Prince berdoa dalam hati agar kakeknya diberikan kesempatan untuk bangun lagi meski hanya sebentar.


Mama semakin sinis melihat kemesraan Isma dan Prince. Hingga membuat Mama menarik tangan Papa untuk segera keluar dari ruangan itu.


Isma menyadari hal itu, menoleh kebelakang melihat kepergian kedua mertuanya. Sedangkan Prince tidak memperdulikan hal itu sedikitpun.


"Mas, Mama sama Papa. . ."


"Biarkan mereka pergi. Kita hanya butuh restu dari kakek, sayang." Sambung Prince menghentikan ucapan Isma.


"Maafkan aku, Mas." Ucap Isma sedih sambil memeluk tubuh Prince.


"Kenapa sayang minta maaf?" Mengelus lembut punggung Isma dan mengecup puncak kepalanya.


"Is…ma…" Suara lirih Kakek mengejutkan mereka.


"Kakek? Ya Allah terimakasih memberi kakek kesempatan untuk bagun." Sambut Prince bahagia.


Digenggamnya tangan Kakek, lalu di dekatkannya tangan Isma pada tangan Kakek yang sebelah lagi.


"Maafkan kami datang terlambat, Kek." Ucap Prince menyesal.


Kakek tersenyum, lalu melambaikan tangannya yang memberi maksud agar Isma lebih mendekat kearahnya.


Isma pun mengikuti instruksi kakek. Lalu dia pun tersenyum melihat senyuman kakek untuknya.


"Maaf. . .kan. . . Kakek." Ucap kakek terbata.


Isma semakin mendekatkan kepalanya ke dekat kakek.


"Jangan. . . ting... galkan Prince… ya." Sambungnya masih terbata-bata.


"Aa. . .pa… pun yang ter… jadi. Ka. . .lia..nn harus te...tap bersama." berusaha menyatukan tangan Isma dan Prince.


Prince tersenyum, air matanya menetes. Dia pun akhirnya merebahkan kepalanya di dada kakek. Sementara tangannya terus menggenggam erat tangan Isma.

__ADS_1


Isma mengelus lembut kepala Prince, dan dia pun ikut menangis.


"Prince janji kek. Prince tidak akan pernah meninggalkan Isma. Prince akan selalu menggandeng tangannya Isma. Prince janji kek. Apapun yang terjadi, Prince akan terus bersama Isma." Ucap Prince sambil menangis.


Kakek tersenyum menatap Isma dengan senyuman yang sangat indah nenurut Isma. Air mataya pun juga ikut menetes.


"Prince, kamu gak mau gitu ngenalin istri kamu ke Mama." Teriak Mama yanng nenerobos masuk begitu saja.


Prince pun langsung menegakkan kepalanya dan menoleh kearah Mama.


"Mama kan sudah mengenalnya." Ucap Prince ketus.


"Ma, Pa…" Sapa Isma.


Dia melangkah menemui mertuanya dan menyalami keduanya yang hannya memberikan tangannya sedikit sekali. Mereka enggan bersalaman dengan menantunya itu.


"Jangan pernah datang lagi ke sini." Bisik Mama di telinga Isma.


Isma terkejut mendengar bisikan itu. Entah mengapa tiba-tiba dia merinding.


"Aku akan pastikan, Prince akan kembali bersama dengan Amanda." Sambung Mama sambil memeluk Isma, untuk membisikkan ucapannya itu.


Isma terdiam, kakinya terasa lemas. Rasanya dia tidak lagi kuat untuk berdiri setelah mendengar ucapan Mertuanya.


Prince menyadari sesuatu yang aneh terjadi pada Isma yang kini dalam pelukan Mamanya. Dia pun segera melangkah kearah Isma.


Ditariknya tangan Isma, hingga Isma terlepas dari pelukan Mama. Isma terkejut dan terbanting masuk dalam pelukan Prince.


"Mas, sabar. Mama hanya . . ." Isma mencoba menjelaskan.


"Hanya apa? Hanya mengancam dengan cara yang lembut?" Bentak Prince pada Isma yang akhirnya di lepas dari pelukannya.


"Janga dengarkan apapun ucapan Mama. Mas mohon, sayang harus percaya hanya pada Mas." Sambung Prince lebih lembut dari sebelumnya.


Kemudian, ditariknya Isma keluar dari rumah sakit. Meninggalkan Mama dan Papa yang terbakar esmosi melihat Isma yang sukses membuat putra semata wayang mereka melawan pada mereka.


Sedangkan Kakek sudah kembali tidak sadarkan diri, tepat setelah mengucapkan keinginannya agar Prince dan Isma saling menjaga.


"Pa, apapun yang terjadi. Kita harus memisahkan perempuan kampung itu dari Prince." Tegas Mama.


"Mama tenang saja. Kita pastikan akan kembali mendapatkan Prince kita. Putra kita, kesayangan kita, Ma." Tegas Papa yang kini juga ikut terbakar emosi.


Sementara Itu, Isma dan Prince sudah dalam perjalanan menuju Bogor. Isma hanya diam, dia tidak mengatakan apa-apa. Pikirannya mengulang kembali ucapan mertuanya yang ingin merebut Prince darinya.


"Sayang, maafkan Mas. Mas terlalu takut Mama menyakiti kamu dan berusaha memisahkan kita." Jelas Prince memulai pembicaraan.


"Iya, Mas. Aku juga minta maaf, karena aku menyebabkan kemarahan Mama." Ucapnya.


"Bisakah kita melupakan masalah itu?" Tanya Prince.


Isma mengangguk. Lalu dia menyenderkan kepalanya ke bahu Prince yang sedang menyetir mobil.

__ADS_1


"Aku ngantuk, boleh aku tidur?" Rengek Isma manja.


"Tidurlah sayang." Prince memberi kecupan di dahi Isma.


"Mas, jadikan aku milikmu malam ini." Ucap Isma datar.


Sontak Prince menginjak rem mobilnya, hingga membuat kepala Isma hampir terhantuk. Beruntung Prince siaga melindungi istrinya itu.


"Sayang. . . Maksud sayang. . ." Tanya Prince kurang yakin.


"Iya. Aku merubah keputusanku. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil Mas dari ku." Ulangnya masih dengan nada datar.


Isma merebahkan sedikit sandaran kursinya, lalu dia berbaring dengan nyaman disana sambil menutup matanya dalam-dalam. Sebenarnya Isma menahan perasaan malunya setelah mengucapkan kata menggelikan itu.


"Ini malam pertama kita. Sayang sendiri yang mengucapkannya. Jangan merubahnya lagi." Ucap Prince bahagia bercampur haru.


Rasanya kini perutnya dipenuhi oleh kupu-kupu yang indah dan lucu. Prince merasakan suatu hal yang sangat menggembirakan.


Diapun menancap gas mobilnya, agar segera cepat tiba di hotel. Rasanya Prince bahkan sudah tidak dapat menahannya saat ini. Tapi dia harus konsentrasi menyetir agar tiba dengan selamat.


"Sayang. . . Apa sayag tidur?" Panggil Prince.


Isma membalik wajahnya menghadap jalanan, agar dapat menyembunyikan perasaan malunya.


"Saayanngg, Mas. . . Kesepian nih. Jangan tidur dong. Temani Mas nyetir."


"Mas fokus aja nyetirnya. Aku mau tidur dan beristirahat sebentar." Ketusnya.


"Iiih, sayang. . . Istirahatnya nanti sampai hotel." Rengek Prince.


"Mana bisa. Bukankah Mas mau. . . Iiihhh pokoknya aku ngantuk." Celotehnya menyembunyikan rasa malunya.


"Mau apa hayooo. . ." Goda Prince dengan mencolek pipi Isma.


"Tersserah Mas mau ngapain..." Tegasnya.


"Asyyiiikkk. . . Mas boleh melakukannya sampai subuh?" Tanya Prince sengaja menggoda istrinya yang sedang menahan malu.


"Apa an sih. . . Ya terserah Mas. Yang pasti, aku gak pernah ketinggalan Tahajjud." Rutuknya kesal.


Prince tersenyum, dielusnya pelan punggung Isma. Lalu, dia menambah kecepatan laju mobil menuju Bogor.


Bersambung. . .


Hai Readerku...


jangan lupa Like, dan komen.


tinggalkan jejak kalian, agar thor semakin semangat.


Terimakasih Reader tersaaayyaaaannnggg. . .😍😍😉😉

__ADS_1


__ADS_2