
"Mas, sebaiknya kita pulang hari ini saja. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Fazil. Perasaanku nggak enak setiap kali teringat wajahnya. Tadi malam aku juga mimpi, dalam mimpiku Fazil menatap sedih padaku." Bujuk Isma mengajak Prince untuk segera pulang.
"Nanti sore ya sayang. Siang ini ada meeting peting." Ujarnya sambil terus fokus pada laptopnya.
Isma merasa sedih karena Prince masih juga menunda kepulangan mereka ke Jakarta. Isma benar benar khawatir pada putranya yang kini sendirian di Jakarta.
"Sayang kenapa begitu khawatir pada Fazil. Kita sama sama tahu kalau Fazil itu anak yang cerdas, kuat dan dia juga pandai bergaul dan memilih teman." Sambung Prince.
"Fazil memang pandai bergaul, mas. Tapi, dia itu anak yang sangat tertutup. Dia tidak akan menceritakan masalah yang dihadapinya pada siapapun termasuk kita. Aku khawatir di sekolah barunya Fazil dijebak lagi."
"Kalau itu yang membuat sayang khawatir, bagaimana kalau sayang telpon Fazil sekarang mumpung hari libur sekolah. Bujuk dia untuk sekolah ke London atau Korea. Supaya dia bisa bersama dengan saudaranya dan agar tidak terjadi masalah lagi." Prince menyarankan.
"Mereka kalau disatukan malah akan semakin memudahkan orang orang untuk menjebak mereka lagi seperti waktu itu." Rutuknya agak kesal mendengar saran dari Prince.
__ADS_1
"Terus, sayang maunya gimana?" Kali ini Prince menghampiri Isma. Dipegangnya kedua belah bahu Isma sambil menatap mata sendu Isma.
"Aku mau kita pulang sekarang, mas. Tentang sekolah Fazil nanti kita urus setelah bertemu dengannya. Aku benar benar khawatir, mas."
Diraihnya tubuh Isma masuk dalam dekapannya. Lalu diciumbya puncak kepala Isma. "Ok, kita pulang sekarang. Mas sudah memesan tiketnya, penerbangannya sekitar satu jam lagi." Perkataan Prince barusan membuat Isma tersenyum senang dan lansung mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang suami tercintanya itu.
"Terimakasih, mas." Membenanmkan wajahnya didada bidang suaminya.
"Iya, sayang. Mas juga khawatir loh sama anak anak. Tapi, mungkin kekhawatiran mas memang sedikit lebih kurang dari rasa khawatir sayang pada mereka."
"Den, sarapannya sudah siap!" Seru Tifah dari dapur.
Fazil tidak mendengar karena telinganya ditutup pakai headphone. Dia benar benar asik bermain game, bahkan tidak tidur semalaman.
__ADS_1
"Aduh gimana ya? Apa disamperin saja kekamarnya." Tifah merasa khawatir, karena sejak sepulang sekolah kemarin, Fazil belum keluar kamar sama sekali. Dia bahkan juga belum makan sedikitpun.
"Den Fazil, sarapan dulu. Dikit saja juga tidak apa, setidaknya ada pengganjal perut. Den Fazil belum makan dari kemarin. Bibik khawatir. Nanti kalau den Fazil sakit, bibik bisa dimarahi nyonya sama tuan loh." Bujuknya dari luar kamar Fazil. Tapi masih tidak ada sahutan meski Tifah sudah mengetuk pintu berkali kali.
"Den Fazil baik baik saja, kan?" Menempelkan telinganya kepintu kamar Fazil. "Tidak ada suara apapun. Apa jangan jangan den Fazil pingsang!" Semakin khawatir.
"Den buka pintunya. Den Fazil baik baik saja, kan?" Mengetuk sekali lagi pintu kamar Fazil. Tapi, masih tidak ada sahutan.
Kekhawatiran Tifah semakin menjadi, sehingga dia memutuskan untuk mengambil kunci cadangan. Dia berlari menuruni anak tangga menuju gudang untuk mencari kunci kamar cadangan.
"Alhamdulillah Gusti, ini kuncinya ketemu." Tifah kembali berlari menuju kamar Fazil. Dengan tergesa dia mulai mencocokkan kunci kunci itu ke tempat kunci dipintu kamar Fazil.
"Kenapa tidak ada yang cocok sih." Mencoba terus tampa peduli dengan kunci yang satu persatu berserakan dilantai karena terlepas dari tangannya.
__ADS_1
"Ini yang terakhir, semoga bisa. Bismillah…" Dan akhirnya pintu kamar Fazil terbuka. Dengan segera Tifah masuk. Betapa terkejutnya dia melihat Fazil dengan keadaan seperti itu.