
"Bunda, Rara tadi di sekolah berantem." Adu Fazil saat mereka tiba di rumah.
"Berantem?" Menoleh pada Rara yang menundukkan pandangannya.
"Iya. Dia memukul Ijul sampe nangis." Adu Feisal.
Isma menghela napas sebentar. Dia mendekati Rara, diraihnya dagu mungil itu agar bisa menatap matanya.
"Rara kenapa sedih, nak?" Tanya Isma.
Matanya berkaca kaca, bibirnya gemetar menahan rasa ingin menangis.
"Coba cerita sama Bunda, cerita seru atau sedihkah hari ini?" Menarik tubuh Rara untuk duduk dipangkuannya.
Masih belum ada jawaban. Rara malah memeluk Isma dan mulai menangis. Isma mengelus lembut tubuh mungil itu dengan penuh kasih dan kehangatan.
"Ijul bilang... kak Gabriel gak akan pulang ke rumah lagi. Dia bilang Kak Gabriel gak sayang lagi sama Rara. Padahal kan kak Gabriel sayang sama Rara..." Tuturnya sambil menangis.
Hanya senyuman yang terlihat di bibir Isma mendengar penuturan Rara. Ya, sudah satu bulan Gabriel tinggal bersama Vino dan Cindi. Sejak saat itu Rara juga jadi pendiam, suka telat makan dan kadang suka nangis saat tidur.
"Kak Gabriel sayang sama Rara. Bentar lagi juga pasti kak Gabriel pulang." Bujuk Isma.
"Tapi, bunda... Kata Ijul, kak Gabriel itu bukan kakak kandung kita." Ucap Fazil.
__ADS_1
"Kalian itu terlalu dengarin omongan orang." Sambung Feisal sedikit kesal.
"Nah benar kata Feisal, kalian terlalu dengarin omongan orang. Padahal, mau kak Gabriel saudara kandung atau bukan, dia tetaplah anak ayah dan bunda, juga kakak kalian." Tutur Isma.
"Lalu, kenapa kak Gabriel belum pulang pulang juga, bunda?" Tanya Fazil.
"Karena, kak Gabriel tidak suka sama anak anak yang nakal." Ucap Isma sambil tersenyum menatap bergantian anak anaknya.
"Aku nggak nakal kok, bunda." Teriak Feisal.
"Aku juga nggak nakal. Aku sayang sama kak Gabriel." Sambung Fazil tidak mau ketinggalan.
Isma tersenyum mendengar penuturan anak anaknya.
"Rara yang nakal, bunda." Celetuk Fazil.
"Bunda... Rara nggak nakal kok." Rengeknya kesal.
"Sudah sudah. Kalian nggak ada yang nakal kok. Kak Gabriel sayang sama adik adik imut dan lucunya ini." Memeluk erat tubuh Rara.
"O iya, bagaimana kalau kita main ke tempat Om Vino untuk menemui kak Gabriel!" Seru Bunda menyarankan.
"Mau, mau..." Ucap mereka berbarengan sambil mengangkat tangan.
__ADS_1
"Tapi, sebelum itu kita makan dulu, sholat dulu. Nah setelah itu baru kita berangkat ke rumah Om Vino dan tante Cindi."
Fazil, Feisal dan Rara kegirangan. Mereka bahkan langsung berganti pakaian sendiri dan segera menuju meja makan.
Isma mengambilkan nasi dan lauk untuk mereka. Lalu dia juga ikut makan bersama ketiga buah hatinya.
Sementara itu, Gabriel saat ini baru saja pulang sekolah. Dia di antar jemput oleh supir pribadi Vino.
"Mama, aku pulang." Melangkah masuk.
"Sayang, sudah pulang." Menyambut kepulangan Gabriel.
Cindi sangat menyayangi Gabriel seperti anak sendiri. Meski dia tahu siapa dan bagaimana kehidupan Gabriel sebelumnya, baginya Gabriel adalah anaknya sendiri. Seluruh kasih sayang dan kehangatan dicurahkannya untuk Gabriel seorang. Terlebih dia memang belum bisa mendapatkan anak dalam waktu dekat.
"Ganti baju, cuci kaki, cuci tangan dan..."
"Cuci muka." Sambung Gabriel.
Cindi tersenyum senang. Lalu dia mengantar Gabriel hingga ke kamarnya. Setelah itu Cindi pergi kedapur menyiapkan makan siang untuk Gabriel.
Gabriel sebenarnya agak risih dengan perlakuan baik Cindi, yang masih terus menganggapnya seperti anak kecil. Padahal Gabriel sudah kelas satu SMP. Dia tidak suka terlalu dimanja oleh siapapun, bukan hanya Cindi saja.
Mungkin karena naluri anak pertama, makanya Gabriel tidak suka dimanja. Dia lebih suka memanjakan, seperti yang dilakukannya pada ketiga adik adiknya.
__ADS_1
"Ah, aku merindukan mereka." Ucapnya pelan.
Ternyata Gabriel pun merindukan sikembar. Ya, senyum dan tawa tiga kurcacinya itu sangat menghibur dirinya agar tidak terlalu mengingat tentang Keyra, ibu kandungnya.