
Bel pulangpun akhirnya bergema. Semua siswa berlarian keluar. Mereka sangat senang, karena sekolah hari ini telah selesai. Sementara Fazil berjalan santai bersama Keni yang masih kesal padanya.
"Ayolah, Ken. Bekerja dirumahku." Bujuk Fazil.
"Menjadi pembantu?" Tebak Keni.
"Bukan. Sudah ada pembatu dirumahku."
"Lalu bekerja sebagai apa?"
"Sebagai guruku." Ucap Fazil.
"Guru? Maksudnya?"
"Jadi gini, bundaku terlalu khawatir saat aku sedang belajar di sekolah. Karena aku tidak pandai bersosialisasi. Jadi, aku punya rencana untuk Homeschooling. Nah kamu gurunya." Jelas Fazil.
"Kamu ngomong apa sih, Zil?" Keni tidak percaya dengan ucapan Fazil.
__ADS_1
"Aku serius, Ken. Gajinya besar loh. Percaya deh. Kamu cuma harus mengajar aku setiap hari sepulang sekolah. Dan kamu bisa libur di hari sabtu dan minggu." Jelas Fazil.
"Kenapa harus aku? Minta saja orangtuamu mencarikan guru yang sebenarnya." Saran Keni.
"Mereka memang akan melakukan itu. Tapi, aku lebih senang kalau kamu yang menjadi guruku. Cara kamu menjelaskan dan menjawab soal soal sangat keren. Lebih mudah memahami pelajaran dari penjelasan kamu ketimbang guru lain." Bujuk Fazil.
Sebentar Keni terdiam. Dalam hatinya ingin menerima langsung tawaran Fazil. Tapi, ada perasaan malu juga, karena takutnya Fazil berpikir dirinya menerima tawaran itu karena tergila gila pada uang. Walau sebenarnya memang seperti itu.
"Kamu bisa memikirkan jawabannya selama tiga hari ini. Aku juga harus meminta izin dulu sama bunda. Gimana?" Tanya Fazil semangat.
Keni mengangguk ragu. Tapi, Fazil tahu Keni akan menerima tawarannya. "Mulai sekarang kita sahabat. Sampai saatnya nanti kamu harus menjadi guruku. Bagaimana?" Tanya Fazil yang berhasil membuat Keni tersenyum senang dan mengangguk setuju.
"Pantas saja, setiap aku menelpon, ayah sama bunda tidak penah menjawab. Aku kira mereka benar benar sibuk seperti yang Fazil katakan. Eh ternyata mereka sedang membohongi kita." Rutuk Rara kesal. Dia sedang berbicara dengan Feisal melalui sambungan telepon.
"Semua itu juga sudah berlalu, Ra. Yang terpenting Ayah sama Bunda sudah baik baik saja sekarang." Ucap Feisal yang lebih tenang saat mengetahui berita itu.
"O iya, Ra. Kamu lihat nggak Instagram kak Gabriel?" Tanya Feisal tiba tiba.
__ADS_1
"Iya aku lihat kok." Jawabnya santai.
"Terus kamu baik baik saja kan?"
"Tentu. Aku baik baik saja."
"Kak Gabriel udah punya pacar. Dia juga mengenalkan pacarnya sama ayah dan bunda." Jelas Feisal.
"Iya aku tahu. Aku juga mengucapkan selamat kok sama dia. Lagian kita kan saudara. Sesama saudara harus saling menyemangati."
Feisal dibuat terkagum kagum oleh ketegaran Rara. Dia kira Rara akan menangis dan sangat sedih karena hal itu. Ternyata malah sebaliknya. Dia terdengar lebih santai dan benar benar baik baik saja.
"Benar kata Fazil." Ujar Feisal.
"Fazil ngomong apa?"
"Kamu tidak akan sedih lagi. Karena kamu sudah tidak berharap pada kak Gabriel atau cowok manapun. Fazil bilang, kamu benar benar mau fokus sekolah dan fokus untuk menjadi sukses seperti bunda." Jelasnya.
__ADS_1
"Tentu. Buat apa memikirkan hal hal yang tidak penting. Perjalanan kita masih panjang, bro. Aku akan memanfaatkan waktu yang panjang ini sebaik mungkin." Ucapnya semangat.
"Aku juga, Ra. Sekarang aku benaran sudah bisa melepas Jelita seutuhnya. Aku juga tidak terpikir untuk pacaran lagi. Aku ingin fokus dan menjadi laki laki sukses seperti Ayah. Supaya, aku bisa mendapatkan wanita yang hebat untuk menjadi pendampingku kelak, sama seperti ayah yang memiliki bunda disisinya." Feisal pun bertekad untuk menjadi sukses dan mengikuti jejak ayahnya.